
Xiao Lung yang melihat Shou Yan masih terdiam membuat suasana menjadi canggung, ia lupa telah berjanji pada Ma Liang untuk tidak memberitahu siapapun tentang Shou Yan yang selalu pergi di malam hari “Mungkin.. nanti aku harus meminta maaf padanya” batin Xiao Lung
“Yan’didi,, maaf jika aku mengganggu latihanmu” Selain mengingkari janjinya pada Ma Liang ia juga harus meminta maaf pada Shou Yan karena telah ikut campur dalam urusan latihannya
“Haih, tidak mengapa Lung’jiejie” Shou Yan mengibaskan tangannya, ia yakin jika Xiao Lung tidak memiliki niatan jahat terhadapnya
Keduanya kembali berjalan pelan dengan Xiao Lung berada di depannya sebelum akhirnya Shou Yan menghentikan langkahnya “Awas Lung’jiejie”
Xiao Lung menoleh ke arah Shou Yan sejenak sebelum melihat ke atas dan betapa terkejutnya saat ia melihat pohon besar yang tumbang ke arahnya “Kyaa”
“Pembelah Langit”
Dengan spontan Shou Yan menarik pedangnya dan mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk membelah pohon yang ukurannya sebesar dua orang dewasa
Sebilah energi yang tercipta dari pedang Shou Yan membuat pohon terbelah menjadi dua sehingga Xiao Lung dapat selamat dari timpanya pohon tersebut
“Lung’jiejie,, kau tidak apa-apa..?” Selepas Shou Yan menyarungkan kembali pedangnya, ia menghampiri Xiao Lung yang sedang terduduk menutupi kepala dengan kedua tangannya
“Ti-tidak apa-apa Yan’didi.. Terima kasih telah menyelamatkanku“ Xiao Lung berdiri dan betapa terkejutnya saat melihat ke arah belakang
Xiao Lung bukan terkejut karena pohon yang terbelah dua melainkan bekas tebasan yang Shou Yan ciptakan “Yan’didi.. siapa kau sebenarnya..?” tanya Xiao Lung sambil melihat tanah yang awalnya rata menjadi berlubang dan berbentuk tebasan pedang sepanjang hampir seratus meter
Mungkin ia mampu menebas pohon tersebut menjadi dua namun yang menjadi kekurangannya hanyalah pengolahan nafas yang memakan waktu lima detik “Tapi.. Yan’didi mampu melakukannya hanya dengan tiga detik” Batin Xiao Lung sambil melihat ke arah Shou Yan
Shou Yan meneteskan keringat di keningnya, tak tahu harus berkata apa lagi terutama bekas tebasan yang telah ia lakukan “Itu..” Secara tidak sengaja ia melepaskan seluruh tenaganya karena khawatir Xiao Lung akan terluka
Melihat Shou Yan yang gugup membuat Xiao Lung mungurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh “Ah.. Yan’didi tidak perlu menjawabnya” Jawab Xiao Lung sambil tersenyum tipis
“Mungkin,, inilah hasil dari latihan yang telah Yan’didi lakukakan setiap malamnya” Batin Xiao Lung
“Terima kasih Nona Lung”
“Hhhmmm..!?”
“Maksudku.. Lung’jiejie” Shou Yan tak tahu harus menjawab apa namun yang bisa ia lakukan hanya mengucapkan rasa terima kasihnya karena Xiao Lung tidak mempermasalahkannya
Xiao Lung berjalan pelan di depan Shou Yan lalu berbalik dengan menunjukkan jarinya “Aku akan merahasiakan ini dari orang lain tapi dengan tiga syarat”
“Syarat..!?”
“Hhhhhmmm” Xiao Lung mengangguk pelan
Shou Yan tidak habis pikir jika Guru pedangnya yang seharusnya lebih berwibawa namun malah menunjukkan sisi yang kekanak-kanakan, tanpa ada pilihan lain ia harus menerima syarat tersebut karena tidak ingin menimbulkan masalah “Baiklah,, apa syaratnya”
__ADS_1
“Syarat pertama… Yan’didi harus mengajakku setiap kali ingin keluar malam untuk latihan”
“Baiklah” Menurutnya, jika hanya mengajaknya tidak akan membuatnya merasa kesulitan
“Syarat kedua.. Yan’didi harus mengajarkanku teknik yang seperti itu” Ucap Xiao Lung sambil menunjuk bekas tebasan Shou Yan
“Itu..” Shou Yan berfikir sejenak, jika ia mengajarkan teknik yang telah Naga Suci ajarkan pada Xiao Lung bukankah itu akan membuatnya marah dan juga jika ingin menggunakan teknik ini harus mempunyai tenaga yang besar
Latihan fisik yang Guo An ajarkan dulu telah membantunya membentuk ring tenaga dalam, dan lebih beruntungnya lagi ia menemukan pecahan kitab sembilan milik Guru pertamanya sehingga mampu menyempurnakan Teknik miliknya
“Maaf Lung’jiejie itu tida-..” Shou Yan ingin menolaknya namun melihat pancaran penuh harap dari mata Xiao Lung membuat hatinya tidak tega “Ba-baiklah” Jawab Shou Yan dengan nada pelan
“Terima kasih Yan’didi” Xiao Lung tersenyum sambil memegang kedua tangan Shou Yan sebelum melanjutkan bicara “Lalu untuk syarat terakhir..”
“Yan’didi harus menjawab dua pertanyaanku”
“Apa..? bukankah itu berarti lima syarat..?” Shou Yan mengerutkan alisnya ketika gadis di hadapannya akan memberikannya banyak syarat
“Baiklah jika tidak mau,, mungkin aku akan memberitahu Ketua Liu tentang Yan’didi yang keluar malam tanpa ijin”
“Bukankah kau sama saja..?” Shou Yan menunjuk badan Xiao Lung
Mata Shou Yan terbuka lebar saat ia melihat sebuah lempengan perak yang Xiao Lung tunjukkan dari balik jubahnya ”Lambang Guru..?”
“Yan’didi pikir.. kenapa aku bisa kesini tanpa ada penjaga kota yang mengikuti..!?” Xiao Lung berbalik tanpa melihat Shou Yan
“Aku lebih curiga lagi kenapa Yan’didi bisa keluar dan masuk tanpa harus menggunakan ini..?” Xiao Lung menatap Shou Yan sambil menunjukkan lempengan perak miliknya
Shou Yan terdiam sejenak sambil mengingat kembali pesan dari Guo An “Kakek pernah bilang untuk berhati-hati dengan wanita, ternyata benar adanya” batinnya
“Baiklah, aku setuju dengan semua sayaratmu” Jawab Shou Yan dengan nada yang berat
Xiao Lung tersenyum lebar sebelum memberikan pertanyaan pada Shou Yan “Kalau begitu, kenapa Yan’didi mengalah waktu itu”
“Waktu itu..?” Shou Yan memiringkan kepalanya sambil mengingat apa yang Xiao Lung tanyakan sampai akhirnya ia menangkap maksud dari ucapannya “Ahh,, waktu pertarungan kita di arena..?”
Xiao Lung mengangguk pelan sebelum mendekati Shou Yan lebih dekat “Aku akan mendengarkan”
“Itu.. kau meneteskan air mata dan saat itu juga aku merasakan ada kesedihan di setiap seranganmu” Shou Yan sendiri tidak mengetahui kenapa ia bisa merasa seperti itu namun yang ia yakini adalah perasaan di dada yang terasa begitu menyakitkan
“Air mata..?” Xiao Lung sendiri tidak yakin waktu itu ia pernah mengeluarkan air mata tetapi tepat seperti yang Shou Yan katakan, terdapat kesedihan di dadanya saat melihat mata Shou Yan dari dekat
Sekilas tebayang wajah seseorang dengan pakaian orens agak ke-emasan terlintas di kepalanya, ketika Shou Yan mendekatinya entah kenapa wajahnya sama seperti seseorang yang ada di pikirannya
__ADS_1
“Lung’jiejie.. Lung Jie’jie..?” Shou Yan merasa jika Xiao Lung telah kerasukan hantu sungai mengingat suaranya tak mampu menyadarkannya dari lamunan sampai akhirnya ia mengubah nama paggilannya “Bibi Lung..!”
“Ah,, apa..? ada apa..?” Xaio Lung tersadar dari lamunannya saat Shou Yan mengubah nama panggilan terhadapnya
“Kenapa Yan’jiejie melamun..? apa kau lapar..?” Menurutnya, sesorang yang sedang melamun bisa saja sedang memikirkan sesuatu atau bisa juga perutnya sedang kosong jadi, akan sulit untuk konsentrasi
“Tidak Yan’didi..” Xiao Lung batuk pelan sebelum menanyakan pertanyaan terakhir ”Baiklah, untuk pertanyaan terakhir apakah Yan’didi ingat tentang pertaruhan kita sebelum pertandingan..?”
Shou Yan memiringkan kepalanya sebelum menepuk kedua tangannya “Tentu saja ingat, yang kalah harus menuruti yang menang bukan..!?”
Xiao Lung mengangguk pelan sambil tersenyum seperti menunjukkan sebuah makna, Shou Yan menelan ludahnya sendiri saat ia mengingat kekalahannya dari Xiao Lung
“Jadi..? jika syarat pertama dan kedua telah terpenuhi.. cobalah untuk ingat pernyataan yang Yan’didi ucapkan..!?”
“Tunggu dulu.. bukankah itu sama saja dengan syarat darimu menjadi tidak berarti..?” jawab Shou Yan sambil menunjukkan ketiga jarinya
“Tentu saja berarti, hanya saja aku melakukannya agar Yan’didi ingat akan pertaruhan kita”
“Bukankah Yan’didi pernah mengatakan jika lelaki sejati tidak akan menarik kembalin ucapannya” Ucap Xiao Lung sambil memanyunkan bibirnya
Melihat pesona dari Xiao Lung membuatnya seakan melayang “Te-tentu” imbuhnya sambil menepuk dadanya
“Kalau begitu, kita sepakat..!”
“eeehhh…”
“Bukan eh, tapi janji harus di tepati” Xiao Lung memalingkan wajahnya sambil menyilangkan kedua tangannya, wajah Xiao Lung memerah saat suara perutnya meminta untuk segera di isi “ Itu bukan aku” Jawab Xiao Lung dengan sedikit menunduk
“Bagaimana kalau kita menangkap kelinci..? aku tadi melihat ada beberapa di sana” Ucap Shou Yan sambil menunjuk suatu tempat di seberang sungai
Setelah melihat jawaban Xiao Lung dengan mengangguk, Shou Yan memutuskan untuk menyeberangi sungai, ia melihat di sekeliling dan tidak menemukan jembatan penyeberangan sebelum akhirnya menemukan sebuah pohon yang pernah ia belah sebelumnya “mungkin aku bisa menggunakan ini” batinnya
Meski lebar sungai hanya tiga meter, pohon tersebut cukup panjang untuk di jadikan pijakan
Mata Xiao Lung terbuka lebar saat melihat Shou Yan mengangkat sebuah pohon dengan mudahnya “Yan’didi.. kau selalu penuh dengan kejutan” batinnya
Setelah Shou Yan menaruhnya tiba-tiba kakinya tidak bisa melangkah, Xiao Lung yang melihatnya hanya berdiri tanpa bergerak memutuskan untuk mendekatinya “Yan’didi.. kenapa hanya berdiri saja”
“Entahlah,, kakiku tidak bisa bergerak” Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya, hanya saja saat hendak melangkah ia teringat akan masa kecilnya telah di temukan Guo An di sungai
“Tenanglah Yan’didi,, aku akan menjagamu”
__ADS_1
Note:
Fokus Char-nya aja yak.. :D