
“Kalian tunggu disini,,, aku akan segera kembali” Fan Cou pergi ke salah satu loket dan meninggalkan Shou Yan bersama murid lainnya
Setelah sampai dan turun dari kapal Shou Yan lah yang membopong Bao Yu karena teman seperguruannya masih dalam kondisi yang belum sehat
Sempat berfikir ini adalah kesalahannya karena mengajak Bao Yu bercerita tentang indahnya alam tanpa mempedulikan keadaannya
“Mungkin.. dia memang baik” Batin Shou Yan sambil melihat wajah Bao Yu yang masih terlelap
“A-adik.. kenapa kau masih bisa tersenyum” Ujar salah satu rekannya yang sedang memandangi Shou Yan tengah berdiri tegap bahkan cukup kuat untuk membantu Bao Yu
Shou Yan menoleh ke sumber suara dan menemukan kelimanya masih terlihat lemas dengan pedang sebagai penopang tubuh mereka kecuali satu orang yang mengajaknya berbicara
“Mungkin.. karena latihan fisik yang di berikan oleh Tetua Guo” Alasan seperti itu mungkin terlihat tidak masuk akal karena semua murid juga ikut latihan fisik, seperti yang biasa Guo An ajarkan
Namun Shou Yan sendiri tidak begitu tahu kenapa hanya dirinya yang masih terlihat sehat
Ketika keduanya saling berbicara, Fan Cou datang dengan membawa dua kereta kuda, sebenarnya ia mempunyai rencana untuk berjalan kaki sambil mencari sebuah penginapan
Tetapi melihat salah satu murid yang sedang Shou Yan bantu membuatnya mengurungkan niat “Kalian cepat naik, kita akan mencari penginapan lebih dulu”
“Baik Tetua” Ucap seluruh murid secara bersamaan
Fan Cou menggelengkan kepala ketika melihat Shou Yan masih mempunyai tenaga utnuk berbicara pada temannya bahkan membantu Bao Yu yang masih belum siuman
“Anak ini.. seberapa besar staminanya..?” Batinnya sambil berjalan pelan masuk ke dalam kereta “Pergi ke penginapan terdekat” Imbuhnya pada kusir
“Baik Tuan”
Sepanjang perjalanan Shou Yan selalu terkesan dengan dunia luar namun melihat ramainya ibu kota sempat membuatnya hampir lupa diri
Shou Yan selalu mengeluarkan kepalanya dari jendela sambil melihat suasa sekitar “Di Ibu Kota terlihat lebih ramai daripada di kota sebelumnya”
“Tentu saja, di tempatnya ini..” Salah satu rekannya menjelaskan bahwa di kerajaan Sun ini, Raja telah memberikan nama pada ibu kota
“Beiping..?” Tanya Shou Yan
“Benar.. yang mempunyai arti kebangkitan” Menjadi jantung dari Bangsa Sun tentu harus mempunyai Kekuatan yang besar untuk dapat melindunginya dari musuh
Ibu Kota kerjaan Sun sendiri memiliki penduduk hampir satu juta jiwa namun hanya mempunyai puluhan ribu pasukan
Meski begitu, Terdapat Sekte aliran putih dan netral yang tinggal dan menetap di Beiping, sehingga memungkinkan musuh untuk berfikir dua kali jika ingin menyerang
Shou Yan terkejut saat rekannya mengetahui begitu banyak mengenai Ibu Kota “Apakah Senior pernah ke kesini sebelumnya..?”
Rekannya menggelengkan kepala, informasi tersebut juga dia dapatkan dari para Tetua “Apa kau tidak pernah mendengarnya..?”
__ADS_1
“Aku..” Shou Yan menghabiskan waktunya untuk berlatih kitab sembilan Yin dan seringkali menyendiri ketika para Tetua bercerita tentang dunia persilatan
Bukannya menolak untuk mendengar, namun setiap kali ia ingin mendekat, para murid yang lainnya selalu menjauh seperti tidak suka akan kehadirannya
“Adik.. kalau itu sebenarnya..”
Ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun Bao Yu telah sadar terlebih dahulu dan tidak ada siapapun yang berani menyinggungnya kecuali satu orang
“Senior.. bagaimana keadaanmu, apakah sudah lebih baik..?” Ucap Shou Yan sambil memegang pundak Bao Yu
“Menyingkir dariku..!” Ujarnya sambil menangkis tangan Shou Yan
Kekalahannya di atas kapal membuatnya lebih membenci Shou Yan karena sifat tidak mau kalah sudah melekat di dalam tubuhnya “Siapa yang membantuku..?” Imbuhnya sambil melihat ketiga rekan seperguruannya
Dua murid yang lain menoleh ke arah Shou Yan, sedangkan ia sendiri hanya tersenyum tipis, berharap jika kebaikannya akan membuahkan hasil
“Jangan harap aku akan berterima kasih”
Shou Yan hanya tersenyum tipis, namun ia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati dan lebih memilih untuk melihat situasi di ibu kota
***
“Yang Mulia, ini bukan saatnya untuk mengadakan Kompetisi”
“Benar Yang Mulia, sebaiknya kita tunda dulu dan segera mengirim pasukan ke perbatasan”
“Kita tetap akan mengadakan Turnamen dan kita juga harus menjaga keamanan para penduduk” Ucap Sun Qian terhadap dua menteri yang sempat menolak keputusannya
“Tapi..”
“Cukup..! Aku sudah mengirimkan jenderal kanan ke perbatasan” Sun Qian tidak akan mengambil keputusan jika memang keadaan tidak mendukung rencananya
Guan Ju yang melihat para menteri saling berbisik ragu terhadap Raja Sun, berniat bertanya sambil meyakinkan rencana “Maaf Yang Mulia, apakah kita akan memperketat penjagaan di sekitar istana..?”
Sun Qian menanggapi maksud dari pertanyaan tersebut “Lakukan..! Tapi jangan sampai menimbulkan kegaduhan di masyarakat”
“Apa kalian ada pertanyaan lagi..? Jika tidak, rapat di bubarkan”
Para menteri Merah dan hitam saling memandang sebelum mengakhiri pertemuan “Baik Yang Mulia” Semua pergi meninggalkan kursinya masing-masing kecuali dua orang
Sun Qian masih duduk sambil memijat keningnya, memikirkan apakah keputusannya memang sudah tepat sampai ia menyadari seseorang mendekatinya “Jenderal Guan..?”
“Ada yang perlu di tanyakan jenderal..?”
Guan Ju sadar jika ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya tentang hal yang tidak penting namun dia sadar bahwa ada hal yang lebih penting dari urusan negara
__ADS_1
“Bagaimana dengan Tuan Putri..?”
Mendengar Guan Ju menyebut Tuan Putri, malah semakin membuatnya tambah pusing “Kenapa dengan Mei Hwa..?”
“Tuan Putri masih menolak untuk keluar dari ruangannya, mohon Yang Mulia memperhatikan”
Guan Ju pergi meninggalkan ruangan setelah melihat Sun Qian mengibaskan tangannya “Terima kasih Yang Mulia”
Sejenak, Sun Qian menenangkan diri sebelum berjalan keluar dan menemui Mei Hwa di kamarnya “Bagaimana..? Apa ada perkembangan..?”
Dua dayang penjaga kamar Mei Hwa telah melihat Raja mereka datang, hanya bisa memberikan laporan seperti hari-hari sebelumnya “Tuan Putri masih menolak untuk keluar Yang Mulia”
Sun Qian menghela nafas panjang sambil berdiri di depan pintu dan berbicara “Hwa’er.. mau sampai kapan terus mengurung diri”
“Sampai ayah mengizinkanku pergi” Ia sudah berulang kali meminta pada ayahnya untuk bisa pergi ke kota Changnan namun selalu saja di tolak dengan alasan keamanan
“Situasi masih belum cukup aman Hwa'er, Bagaimana kalau kita ke perpustakaan..?” Sun Qian sadar jika dua tahun terakhir, Mei Hwa selalu mengunjungi ruang buku di istana dan ia berfikir jika itu adalah salah satu hobinya
“Tidak mau...!”
Sun Qian kembali menghela nafas, ia sempat berfikir bahwa sifat putrinya sungguh mirip dengan ibunya yang keras kepala
Salah satu dayang mencoba untuk bertanya pada Sun Qian mengenai Turnamen yang akan di adakan beberapa hari lagi bahkan menyinggung tentang dunia persilatan
Mei Hwa yang mendengar pembicaraan tersebut menjadi lebih bersemangat “Apa ayah mengundang seluruh sekte di kerajaan ini..?”
“Benar Hwa'er”
“Termasuk sekte di kota Changnan..?”
Sun Qian menatap kedua dayang secara bergantian sebelum mengangguk pelan “Iya Hwa'er”
Ketiganya mendengar suara langkah kaki mendekati pintu dan saat terbuka Mei Hwa memeluk Sun Qian “Aku sayang ayah”
Sun Qian tersenyum melihat Putrinya sudah tidak mengurung diri, namun senyuman itu memudar ketika Mei Hwa mengajak dua dayangnya untuk berkeliling kota
Untuk memastikan keamanan Putrinya, ia sempat berpesan pada dua dayang tersebut untuk menjaga Mei Hwa apapun yang terjadi
__ADS_1