
Untuk terhindar dari perhatian penduduk, rombongan Shou Yan memutuskan untuk berjalan kaki meski setengah jam lebih lama dari menggunakan kereta kuda namun cara ini lebih efektif.
Sepanjang perjalanan telinga Shou Yan terasa panas karena mendengar ocehan dari gadis kecil di sampingnya “ Yan’gege,, kapan kita sampai ke kota “ Mei Hwa terus mengeluh dengan memegang lutut kecilnya
“Bersabarlah Hwa’er,, mungkin sebentar lagi” Shou Yan sendiri tidak tau kapan mereka akan sampai ke kota, sampai ia melihat permukiman dengan tembok tinggi di ujung hutan “Hwa’er,, kita sudah hampir sampai” Shou Yan menunjuk kota di depannya
“Aku sudah tak sanggup jalan lagi Yan’gege..” Mei Hwa bernada malas dengan sedikit memanyunkan bibirnya
Shou Yan menggaruk hidungnya yang tidak gatal, jika Mei Hwa tidak melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa puluh meter lagi ia takut perutnya akan semakin mengecil karena lapar
Shou Yan menyarankan agar Mei Hwa bersedia untuk di gendong, latihan fisik yang ia jalani terkadang bermanfaat untuk hal seperti iniShou Yan sedikit membukuk di depan Mei Hwa agar ia dapat naik kepunggungnya
“Terima Kasih Yan’gege” Mei Hwa sedikit tersenyum melihat Shou Yan sedang memperhatikannya meski semua sudah ia rencanakan dari awal
Guo An dan Guan Ju hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah konyol dari kedua anak tersebut. “Gadis kecil ini memiliki otak yang cerdas” batin Guo An
“Maaf Tuan Guo, aku harus pamit karena suatu alasan ” Guan Ju berniat meminta Guo An untuk memberikannya waktu agar dapat melakukan tugas rahasianya
“Apa Tuan Guan ingin melihat bekas pertempuran kemarin” Guo An mencurigai bahwa dia ingin melihat jasad para pembunuh yang telah menyerangnya
Guan Ju merespon tanggapannya dengan mengangguk pelan sebelum pergi memasuki hutan, perjalanan kemarin saat ia ke kota Changnan untuk memberikan kabar ke istana, Guan Ju tidak melihat satu mayat pun di tempat
pertempurannya dan hal itu yang membuatnya curiga sebelum akhirnya menyelidikinya secara langsung.
Sesampainya di kota Changnan atau lebih tepatnya di depan gerbang utama Shou Yan dan Mei Hwa di hadang oleh para penjaga gerbang dengan tombak di sebelah tangan
“Maaf Paman Prajurit, kenapa kami tidak di izinkan masuk?” Shou Yan bertanya dengan nafas yang patah-patah karena menggendong Mei Hwa di punggungnya “Hwa’er,, bisakah kau turun? Kita sudah sampai”
Mei Hwa terbangun saat Shou Yan menyuruhnya turun “ah,, apa kita sudah sampai Yan’gege?” dengan sedikit menguap
Shou Yan merasa heran dengan sikap Mei Hwa yang bisa tidur di punggungnya, bahkan bersikap tenang di hadapan para prajurit kota.
“Hei,, apa kalian tidak melihat Putri raja ingin masuk ke dalam kota!?” Mei Hwa yang turun dari punggung Shou Yan langsung memarahi dua prajurit yang menghalangi jalan mereka.
Kedua prajurit tersebut saling memandang sebelum melihat pakaian yang di pakai Mei Hwa dan Shou Yan “jika kau seorang putri, aku adalah seorang raja” salah satu penjaga mengejek sebelum keduanya tertawa
Mei Hwa merasa kesal dengan kedua prajurit itu karena merasa di tertawakan sebelum kekesalannya menjadi sebuah kesadaran “Saat ini.. hwa’er bukanlah seorang putri” bisik Shou Yan di telinga gadis kecil itu
Mei Hwa yang mendengar bisikan Shou Yan dan mencoba untuk melihat pakaian yang di kenakannya “Ah,,aku lupa” Mei Hwa tersadar bahwa ia sedang memakai pakaian biasa dan tidak menggunakan pakaian seorang bangsawan
Guo An yang melihat tingkah para penjaga gerbang membuatnya jengkel, sampai ia mencoba untuk menghampiri Shou Yan “Yan’er,, kenapa masih ada disini?”
__ADS_1
“Kakek,, kita tidak di bolehkan masuk oleh paman Prajurit” Shou Yan memegang lengan baju Guo An sambil menunjuk kedua prajurit tersebut.
Guo An tersadar jika ingin memasuki Kota harus membayar pajak masuk, berbeda dengan seorang prajurit atau para pedagang yang hanya memperlihatkan Lencana. Kekurangan dari sebuah lencana adalah harus membayar
beberapa keping emas perbulannya
Guo An mengambil satu keping emas dan dua keping perak dari balik jubahnya “Maaf jika cucu-cucuku telah membuat paman prajurit kesal”
“ah,,tidak mengapa kakek tua, dan mohon maafkan kami adik kecil” salah satu penjaga meminta maaf dan memberikan hormatnya lalu di ikuti penjaga satunya.
“Tidak mengapa paman prajurit, Junior juga meminta maaf” Shou Yan memaafkan para penjaga karena sebagian juga atas ketidaktahuannya.
Berbeda dengan Mei Hwa yang mengabaikannya karena merasa dirinya tidak bersalah. “Hwa’er..” Shou Yan mencoba mengingatkan namun pandangan Mei Hwa terfokus pada pakaian yang di jual di dalam kota dan berlari
untuk melihat dari dekat.
Shou Yan memberikan hormatnya sebelum mengejar Mei Hwa, di ikuti Guo An berjalan pelan masuk ke dalam kota.
Saat Guo An terlihat menjauh dari gerbang kota, salah satu penjaga mulai membisikkan sesuatu di telinga temannya “hei,,apa kau merasakannya?”
“Tentu,, itu aura membunuh yang pekat, mungkin ia seorang pendekar”
Saat melihat para penjaga menertawakan cucunya, Guo An mengeluarkan sedikit hawa pembunuh yang membuat para penjaga merinding karenanya. Meski hanya penjaga gerbang, seorang prajurit tetap di latih unutuk mengerti dasar dari bela diri
Mei Hwa memilah dari sekian baju di depannya dan tidak lupa untuk menawar harga “itu lima keping emas nona kecil..”
“tiga keping emas..”
“itu terbuat dari kain sutra terbaik nona kecil,,”
“Tentu aku tahu,, dua keping emas dan lima keping perak”
Mei Hwa mulai menawar harga pakaian yang ia suka, bahkan penjaga toko sampai kualahan dengan tingkah gadis kecil itu seakan sudah terbiasa tawar-menawar.
Jarang melihat seorang anak bisa memikirkan harga untuk ia beli dan kebanyakan orang tua lah yang menawar sebuah harga, namun berbeda dengan sosok di depannya “Baiklah gadis kecil,, karena kamu gadis yang cantik..
akan ku berikan dengan dua keping emas”
“Hwa’er,, ayo kita pergi dari sini” Shou Yan mencoba untuk menjauhkannya dari toko pakaian
“Yan’gege,, berikan aku dua keping emas” Mei Hwa meminta uang kepada Shou Yan dengan telapak tangan menghadap ke atas, karena uang yang biasa ia pakai telah di bawa oleh Guan Ju
__ADS_1
“uang..? aku bahkan tak punya satupun” Shou Yan menunjukkan kantung pakaiannya yang kosong
Saat kedua anak tersebut sedang berdebat muncul seorang pria sepuh di belakang mereka “Maaf Tuan,, biarkan saya yang membayarnya”
“Kakek”
“Kakek Guo”
Guan Ju tahu akan sifat borosnya Mei Hwa maka sebelum pergi kedalam hutan, ia menitipkan beberapa koin emas miliknya kepada Guo An untuk keperluan Mei Hwa.
Dengan kemunculan Guo An, keinginan Mei Hwa yang ingin berbelanja terpenuhi sebelum ketiganya sampai di sebuah penginapan dengan lambang bintang di atas pintu masuk “Penginapan tiga bintang..” Shou Yan membaca nama toko dengan kedua tangannya yang penuh pakaian baru.
“Kenapa diam saja, ayo masuk..” Mei Hwa yang paling bersemangat dari ketiganya
Guo An menyuruh keduanya untuk duduk terdahulu sebelum memesan sebuah kamar dan makan malam, Sesampainya di meja makan Shou Yan meletakkan semua belanjaan Mei Hwa sebelum memijat kedua pundaknya ”haih,, tanganku serasa akan patah” dalam hati Shou Yan
Penginapan tiga bintang adalah penginapan dengan dua lantai yang dimana lantai pertama terdapat ruangan makan dan di lantai kedua terdapat delapan kamar dengan saling berhadapan.
Guo An memesan dua kamar untuk di lantai dua, serta memesan beberapa makanan untuk mereka makan sebelum istirahat di ruangan mereka.
“Yan’er, ini adalah hadiah dari hasil latihanmu, makanlah yang kenyang”
Selama ini Guo An hanya bisa memberikan Shou Yan sayuran, seringkali ia berburu untuk membuatnya tidak bosan namun makanan yang ia masak tentu berbeda dengan makanan yang mereka beli saat ini.
“Terima kasih kek,,”
Guo An tidak lupa untuk mengingatkan Mei Hwa makan “ Tuan Putri,, lekaslah makan selagi masih hangat”
Ketiganya memakan dengan lahap terutama Shou Yan yang telah habis tiga piring sebelum akhirnya menuju kamar untuk istirahat.
Guo An tidur satu kamar dengan Shou Yan, sedangkan Mei Hwa tidur di kamar berbeda namun masih dekat dengan kamar mereka.
Sesampainya Guan Ju di tempat kejadian ia mencoba mencari jasad topeng besi yang telah menyerangnya “Jasad mereka telah hilang,, apa mungkin..?”
1 koin platinum = 1000 emas
1 koin emas =
100 perak
1 koin perak =
__ADS_1
10 perunggu