
“Malam ini..? Bulan terasa lebih bersinar dari sebelumnya” Shou Yan berlari sambil sesekali memandang bulan yang terus menyinari jalannya
Meski sudah larut malam tetapi suasana di Kota Beiping terasa lebih ramai daripada di siang hari, karena banyaknya penduduk kota yang masih membuka toko mereka namun kebanyakan adalah tempat untuk minum
Shou Yan masih mencari tempat berlatih yang cocok untuknya, bahkan langkah kaki telah membawanya sampai di gerbang Ibu Kota “Aku kira.. kota Beiping tidak memiliki tembok” Gumamnya
Kesimpulan itu di dapatkan karena sejak di dermaga ia tidak melihat dinding kota kecuali para pedagang serta penginapan yang memenuhi penglihatannya
Tempat yang cocok untuk berlatih di dalam kota serta yang paling tinggi adalah di menara pengawas, Shou Yan memandangi tingginya tembok kota sambil bergumam “Bagaimana caranya untuk sampai ke atas..?”
Ketika Shou Yan mengamati situasi di sekitarnya, ia di kejutkan oleh dua penjaga gerbang yang sempat mencurigainya
“Maaf Paman prajurit, aku hanya tidak tahu arah jalan pulang” Shou Yan mengangkat kedua tangannya sambil menjelaskan apa yang sebenarnya ia lakukan
“Jalan pulang..?” Salah satu penjaga gerbang menatap Shou Yan dari atas sampai bawah dan menemukan pedang yang tersarung di pinggangnya “Siapa kau..!? Serahkan dirimu baik-baik”
“Tidak mungkin ada anak berkeliaran di malam hari, apa lagi membawa sebilah pedang”
Shou Yan tersedak ludahnya sendiri ketika dua ujung tombak telah mengarah tepat di lehernya “Ma-maaf..” Ucap Shou Yan sambil berlari menjauhi para penjaga
“Hei kau-“ Ketika salah satu prajurit ingin mengejarnya, datang seseorang yang menarik perhatiannya keduanya
“Sedang apa kalian.? Lakukan tugas dengan benar”
“Ba-baik Tuan Putri” Ucap kedua prajurit tersebut secara bersamaan
“Maaf Tuan Putri, hari sudah malam.. kita lanjutkan saja berkelilingnya setelah matahari terbit”
“Tapi bibi Dong..” Mei Hwa menatap salah satu dayangnya dengan mata yang berkaca-kaca
Ia sempat mendengar suara yang tidak asing dan mencoba untuk menghampiri sumber suara tersebut namun tidak menemukannya
“Maaf Tuan Putri.. kami tidak bisa melanggar perintah dari Yang Mulia” Dengan penjelasan yang panjang lebar, keduanya berhasil membujuk Mei Hwa untuk kembali masuk ke istana
Di sisi lain, Shou Yan terus berlari dan berhenti di suatu jalan yang terlihat sepi di pinggir kota, ia lalu mengambil nafas sejenak sebelum kembali mencari tempat untuk berlatih “Hampir saja.. akan sangat berbahaya jika sampai tertangkap”
__ADS_1
Shou Yan menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, dengan penuh kewaspadaan ia berjalan pelan sambil memegang pedangnya
Ketika berjalan beberapa langkah, ia di kejutkan oleh empat pria yang menghadang jalannya “Siapa kalian..?”
Salah satu pria dengan pakaian hitam tertawa lantang sebelum mendekati Shou Yan “Ohh.. bocah ini ternyata mempunyai nyali juga”
Melihat situasi yang tersedak, Shou Yan menyiapkan kuda-kuda serta megang erat gagang pedangnya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi “Aku mencium bau darah” Batinnya
“Jangan lakukan hal yang tidak perlu atau... kau tidak akan pernah bisa melihat hari esok” Ucap salah satu rekannya
“Kalau begitu,, selamat tinggal” Shou Yan berlari menjauh namun untungnya ia memiliki tubuh yang lebih kecil di di bandingkan mereka sehingga tidak sulit untuk menggunakan langkah angin
“Kejar dia..!” Ucap pria yang tingginya hampir dua meter, selama ini ia tidak pernah membuat kegagalan dalam misinya “Aku tidak di bayar banyak untuk mengurus anak kecil” Gumamnya sebelum ikut mengejar
Shou Yan sempat merasakan hawa dingin ketika keluar dari penginapan dan mungkin kejadian yang dia alami adalah salah satu penyebabnya
“Apa yang sebenarnya terjadi..? Kenapa mereka mengejarku..?” Shou Yan mencoba mencari keramaian, dengan begitu ia bisa meminta pertolongan terutama pada prajurit kota
Ketika Shou Yan fokus untuk mengatur nafasnya sambil berlari, terdapat sebuah pisau yang mengarah tepat di belakang kepalanya namun dengan cepat Shou Yan bisa menghindarinya
Shou Yan memutar otaknya agar bisa keluar dari situasi ini, dan hanya ada satu cara yaitu melawan “Tapak Besi”
Shou Yan menghentakkan tapaknya ke tanah dengan harapan bisa memancing keramaian penduduk terutama para penjaga
Pemimpin kelompok tersebut menyadari tujuan sebenarnya dan tidak membiarkan semua itu terjadi “Tangkap dia..!”
Dari kesekian misi yang pernah ia terima, bocah yang sedang menahan serangan dari ketiga anak buahnya adalah yang terburuk “Dia memiliki jiwa yang kuat”
Siapapun akan merasa panik ketika di hadapkan dengan situasi hidup atau mati, terutama anak kecil yang hanya bisa menangis ketika menemukan lawan yang jauh lebih kuat darinya
Sudah ada satu guru dengan ketujuh muridnya yang sudah dia tangkap, secara kebetulan bocah yang berada di hadapannya telah melewati area yang akan menjadi target mereka selanjutnya
“Dasar tidak berguna. melawan anak ingusan saja kalian tidak bisa” Pemimpin kelompok tersebut ikut menyerang Shou Yan secara bersamaan dengan ketiga anak buahnya
Menyadari situasi semakin sulit, Shou Yan menggunakan Teknik pengguna tangan kosong yang di gabungkan dengan tenaga dalam
__ADS_1
Shou Yan menahan puluhan serangan sambil terus menghindar, meski begitu ia tetap mendapatkan pukulan serta tebasan pisau yang mengenai tumbuhnya
“Dia.. baru mencapai di ranah bumi, kenapa susah sekali menangkapnya” Ucap salah satu rekan pria yang berpakaian hitam
Ke-empat pria tersebut menggunakan senjata andalan yang sering mereka pakai untuk membunuh “Jangan berharap bisa hidup kau bocah”
Shou Yan menghela nafas panjang sebelum menggunakan tekniknya, ia sadar jika menggunakan jurus ini dapat menyebabkan kerusakan di lingkungan sekitar, tapi tidak ada pilihan lain
“Pembelah Langit”
Tebasan tersebut Shou Yan arahkan pada pria yang sedang menghampirinya, namun tanpa ia duga ketiga pria lainnya telah menyerangnya dari semua sisi
Shou Yan menendang pria di sebelah kiri lalu berputar di udara sambil kembali menyerang pria di sebelah kanan dengan menggunakan sarung pedangnya
Melihat sebuah celah, pria di belakang Shou Yan menggunakan pisau pelumpuh yang di mana satu goresan di kulit bisa menyebabkan tubuhnya lemas dalam waktu dua jam
Merasa familiar dengan bau beracun, Shou Yan menangkis pria di belakangnya dengan sebilah pedang, namun bersamaan dengan tebasan tersebut terdengar suara retakan
Mata Shou Yan melebar ketika melihat retakan yang baru saja terjadi, sejenak ia teringat tentang pertarungan sebelumnya yang telah lebih dulu membuat beberapa luka di pedangnya
Ketiganya terdorong mundur beberapa langkah, karena menangkis serangan yang di berikan oleh Shou Yan “Mereka bukan pembunuh biasa” Batinnya
Selama ini, ia pernah menghadapi beberapa pendekar dari golongan hitam namun di antaranya, mereka adalah lawan yang sulit di kalahkan
Bukan hanya soal kekuatan, namun juga kecepatan serta pengalaman mereka dalam menghadapi lawannya
Ketika Shou Yan mengatur nafasnya terasa seseorang berada di belakangnya dan saat menoleh, terdapat sebilah pisau tepat di lehernya
“Apakah.. aku akan mati disini..?” Ketika Shou Yan sudah berpasrah diri, muncul sebuah pedang yang menangkis ujung pisau tersebut
“Ternyata Sekte Hitam tidak mempunyai harga diri.. dasar pengecut”
Shou Yan melihat punggung seorang gadis yang tidak asing di kepalanya “Nona..?” Meski wajahnya tertutup oleh kain namun ia tidak lupa dengan pakaian Sektenya yang bermotif bunga lotus
__ADS_1