
Belum lama berjalan keduanya kembali di hampiri ratusan prajurit dengan senjata lengkap, hanya saja yang membedakan mereka bersama dengan Jendral Guan
“Maaf Tuan Putri.. hamba terlambat” Jendral Guan memberikan hormat pada Mei Hwa sebelum melakukan hal yang sama pada Shou Yan “Tuan Muda Shou..”
“Paman masih ingat denganku..?”
“Jika bukan karena pertandingan tadi sore, mungkin aku akan telat untuk menyadarinya” Jendral Guan sempat lupa dengan sosok Shou Yan karena dua tahun tidak pernah bertemu
Melalui Mei Hwa yang berteriak keras sambil menyebutkan namanya barulah ia yakin bahwa sosok yang dulu pernah menjadi murid belajarnya kini telah menjadi bagian dari Sekte dan mengikuti Turnamen
Sejenak ia tersadar dari lamunannya setelah Mei Hwa memanggil namanya beberapa kali “Lapor Tuan Putri... penghianat telah berhasil kami tangkap”
“Penghianat..?” Batin Shou Yan sambil melihat ke arah Mei Hwa
“Jangan lupakan di sana..” Tunjuk Mei Hwa ke arah belakang, bekas pertarungan Shou Yan dengan dua puluh prajurit
“Baik Tuan Putri” Jendral Guan memberikan hormatnya sebelum meninggalkan keduanya dan melaksanakan tugas
Shou Yan terdiam sejenak melihat Jendral Guan dengan gagah memimpin ratusan prajurit yang berbaris mengikutinya dari belakang
“Hwa’er.. apa kau merencanakan sesuatu..?”
“Tidak ada.. aku hanya memerintahkan Jendral Guan untuk menyelidiki salah satu pimpinan prajurit yang telah lama di curigai sebagai mata-mata”
Shou Yan berfikir tentang tindakan yang Mei Hwa lakukan “Apa sosok pimpinan itu adalah Kolonel..? dan kau bertindak sebagai umpan..?”
“Itu.. benar”
“Kau..!?” Shou Yan ingin memarahi Mei Hwa karena bertindak sendirian bahkan tidak memberitahukan rencananya “Dan saat berhadapan dengan prajurit tadi..? Kau sudah tahu mereka adalah penghianat..?”
Mei Hwa mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya, dengan wajah yang di tunjukkan oleh Shou Yan terlihat jelas amarah yang sengaja dia sembunyikan
__ADS_1
Shou Yan merasa di permainkan meski sebenarnya ia juga lega karena tidak terjadi apa-apa, Shou Yan membalikkan badan sambil memegang kedua pinggangnya sebelum kembali melihat ke arah Mei Hwa “Aku tidak mengerti tentang situasi di Istana tapi.. Jangan bertindak seperti itu lagi”
Shou Yan memegang kedua pundaknya sambil menatap penuh arti, bisa saja rencananya sebagai umpan gagal dan jika sampai itu terjadi Shou Yan adalah orang pertama yang akan melakukan bunuh diri karena tidak bisa melindungi orang yang dia sayangi
“Aku yakin prajurit pemanah itu bukanlah bagian dari rencanamu” Shou Yan melepaskan pegangannya lalu menghela nafas “Dan juga.. dua sosok bertopeng putih juga tidak masuk dalam rencana..?”
Mei Hwa menggerutu sambil tersenyum kecut “Apa Yan'gege marah padaku..?”
Shou Yan berbalik dan berjalan beberapa langkah sebelum menjawab pertanyaan dari Mei Hwa “Tentua saja.. tapi aku lebih marah pada diriku jika sampai tidak bisa melindungimu”
Ucapan yang Shou Yan ucapkan menenangkan pikirannya, dia mengira akan mendapatkan omelan dari pemuda di hadapannya namun yang di dapatkan justru sebaliknya “Aku percaya dengan Yan'gege”
Shou Yan menatap Mei Hwa lalu mendekat ke arahnya “Berjanjilah untuk tidak membahayakan dirimu lagi” Ujar Shou Yan sambil mengelus kepala Mei Hwa
“ah,.. uum, aku berjanji” Mei Hwa tersenyum lembut sambil terus bersikap manja
Shou Yan merasa seperti berhadapan dengan seseorang yang tidak asing, dari balik senyuman yang Mei Hwa tunjukkan ia melihat sosok bayangan gadis lain dengan rambut panjang terurai sedang tersenyum sambil meneteskan air mata ke arahnya
Mei Hwa melambaikan tangannya tepat di wajah Shou Yan namun kedua matanya tidak berkedip “Yan’gege..? Yan'gege..!? Kenapa kau melamun..?”
“Aku tidak mau kembali” Mei Hwa menolak ajakan Shou Yan, ia sudah lama tidak berjumpa dengannya dan harus berpisah dengan cepat, itu sungguh membuatnya kesal.
“Tapi Hwa'er.. Bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin mencelakaimu lagi..?”
“Biarkan saja.. pokoknya aku tidak mau kembali..! Hummfff” Mei Hwa menyilangkan keduanya tangannya di dada sambil memanyunkan bibirnya
“Hwa'er..” Gumam Shou Yan, ia sudah hafal jika gadis mungil di hadapannya sudah menunjukkan sifat seperti itu, akan butuh waktu lama untuk membujuknya “Lalu apa yang ingin kau lakukan di tengah malam begini..?”
“Tidak tau.. Yan'gege bodoh.. bodoh..!” Mei Hwa berlari tanpa arah meninggalkan Shou Yan yang masih terdiam sambil memasang wajah bingung
“Hwa’er..!?” Shou Yan hendak angkat tangan menghadapi sifat Mei Hwa yang satu ini. Menurutnya, kembali ke istana adalah tempat teraman karena begitu banyaknya prajurit yang menjaga kediaman bangsawan
__ADS_1
Shou Yan berfikir sejenak sebelum mengejar Mei Hwa, meskipun keadaan sudah terkendali namun masih sangat berbahaya jika keluar sendirian di malam hari
Untuk seorang pendekar tak membutuhkan terlalu banyak waktu untuk mencari seseorang, apalagi dengan langkah kaki Mei Hwa yang tidak berlatih tenaga dalam, maka berlari pun pasti tidak akan jauh
Di tengah kolam terdapat sebuah jembatan kayu yang melintang di tengahnya, terdapat seorang gadis kecil berdiri sambil melihat ikan emas
“Kenapa Yan'gege begitu bodoh” Mei Hwa memainkan kainnya sambil terus mengutuknya
“Kenapa kau berbicara sendiri..?”
“Yan'ge-.. bagaimana kau bisa sampai disini..?” Mei Hwa tahu meski ia berlari sekencang mungkin, tidak akan bisa menandingi kecepatan seorang pendekar namun dia tidak menyangka jika Shou Yan akan menemukannya dengan cepat
Shou Yan berjalan pelan mendekati Mei Hwa “Aku minta maaf jika tindakanku telah menyinggung perasaanmu” Entah di bagian mana dia salah berucap, mungkin meminta maaf adalah jalan terbaik
“Tidak apa-apa.. Yan'gege melakukan hal yang benar” Mei Hwa mengacuhkan Shou Yan dan berjalan menjauh, kemudian ia duduk di sebuah pohon sakura yang tempatnya tidak jauh dari kolam ikan
Shou Yan mengikuti langkah Mei Hwa dan ikut duduk tepat di sampingnya “Dari kecil aku tumbuh bersama kakek di tengah hutan, bahkan sampai saat ini aku belum tahu siapa kedua orang tuaku”
Shou Yan bercerita tentang masa kecilnya bersama Guo An dan hanya tinggal berdua di tengah hutan, sampai di mana ia bertemu dengan jendral Guan dan Mei Hwa
Mei Hwa hanya terdiam tanpa memandangnya, meski begitu Shou Yan terus menceritakan kisahnya selama dua tahun, ia berharap dari kisahnya tersebut bisa membuat Mei Hwa menyadari betapa berharganya sosok orang tua
“Apa Hwa'er juga terus berada di istana..?” Setelah kehabisan bahan cerita, Shou Yan bertanya pada Mei Hwa
“Itu pertama kalinya aku keluar dari lingkungan istana” Mei Hwa mulai sedikit terbuka dengan menceritakan masa kecilnya yang penuh kebosanan, tak di pungkiri bahwa pertemuannya dengan Shou Yan menciptakan sebuah kebahagiaan
Berkeliling kota, belajar bersama, bahkan makan malam bersama bisa membuatnya bahagia. Sebab, semua hal itu tidak akan bisa ia dapatkan di istana
Semua gerakannya selalu di batasi di dalam istana, termasuk saat hendak makan pun ia sendirian karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan negara
“Saat bertemu dengan Yan'gege, aku bisa merasakan kehangatan dan Kakek Guo sudah aku.. anggap.. se..bagai..”
__ADS_1
Shou Yan mendengar suara Mei Hwa yang perlahan menjadi pelan hingga akhirnya ia tertidur di pundaknya “Mungkin dia kelelahan setelah berlari”
Shou Yan ikut menguap setelah melihat Mei Hwa tertidur pulas, memang terkadang rasa kantuk itu menular. Shou Yan menyandarkan kepalanya pada pohon di belakangnya, tanpa terasa keduanya tertidur di bawah pohon sakura