
***Istana Ratu Wen***
Pagi hari suasana di kamar Ratu Wen sangat meriah. Para dayang istana bergantian keluar masuk kamar Ratu Wen untuk membantu persiapan penampilan Ratu Wen dalam menghadiri perayaan ulang tahun Kaisar Wei.
Ying Ying juga berada di dalam kamar yang sama. Keberadaan Ying Ying tidak terlihat oleh siapa pun karena Ying Ying menggunakan sihir penghilang wujud.
Ying Ying ingin membuktikan firasatnya yang kuat bahwa Ratu Wen pasti membawa ekstrak kelopak teratai hitam ke aula istana.
Ratu Wen akan bergabung dengan Selir Ming Lan dan selir lainnya setelah selesai mempersiapkan diri sehingga sekarang adalah satu-satunya kesempatan Ratu Wen untuk mengambil ekstrak kelopak teratai hitam secara diam-diam.
Ying Ying sudah mencari tahu melalui Tabib Chen mengenai wujud ekstrak kelopak teratai hitam yaitu dalam bentuk bubuk putih halus.
Sementara Wei Bu Yi sudah pulang ke istana dan berada di dalam kamar. Wei Bu Yi mempercepat kepulangannya agar bisa berangkat bersama Ying Ying ke perayaan ulang tahun Kaisar Wei di aula istana.
Ying Ying dalam wujud transparan menatap intens Ratu Wen dari atas kepala hingga ujung kaki. Penampilan Ratu Wen sangat mewah dan memukau.
Walaupun belakangan ini Ratu Wen berpenampilan sederhana, tetapi hari ini merupakan hari besar. Oleh karena itu, Ratu Wen memakai jubah eksklusif berwarna kuning dengan sulaman burung phoenix. Bahkan mahkota yang dikenakan Ratu Wen juga berhiasan burung phoenix.
Ratu Wen membuka beberapa kotak kecil di atas meja rias. Semua kotak kecil itu berisi perhiasan dan aksesoris kecil untuk mempercantik penampilan Ratu Wen hari ini.
Para dayang istana keluar dari kamar atas perintah Ratu Wen. Mereka semua mengira Ratu Wen ingin fokus memilih perhiasan dan aksesoris tersebut.
Ying Ying melihat Ratu Wen membuka salah satu kotak kecil yang belum dibuka sebelumnya. Isi kotak itu adalah token pasukan Wei Bu Yi palsu.
Ratu Wen memegang token pasukan palsu itu sambil tersenyum puas. Ying Ying tahu Yang Jian mengembalikan token palsu itu ke Ratu Wen setelah berhasil mengirim pasukan Wei Bu Yi ke kota-kota lain.
Ratu Wen yang licik, tidak mungkin membiarkan token pasukan itu berada di tangan Yang Jian dalam waktu yang lama. Ying Ying yakin Ratu Wen akan membawa serta token pasukan itu ke aula istana nantinya.
Ratu Wen mengambil beberapa perhiasan dan aksesoris dari dalam kotak yang terbuka. Ketika Ratu Wen menyentuh salah satu aksesoris, senyum samar menghias di sudut bibirnya.
__ADS_1
Aksesoris yang terlihat normal itu ternyata menyimpan ruang kecil rahasia.
"Ternyata Ratu Wen menyimpan ekstrak kelopak teratai hitam di sana. Pantas saja Bu Yi tidak pernah menemukannya," batin Ying Ying.
Ratu Wen memakai aksesoris itu di jari tangannya, sedangkan token pasukan milik Wei Bu Yi disimpan di kantong. Dua benda berharga ini akan menjadi senjata pamungkas keberhasilan kudeta hari ini.
Ying Ying segera meninggalkan kamar Ratu Wen untuk melaporkan hasil penyelidikannya ke Wei Bu Yi.
Beberapa saat kemudian, Wei Bu Yi keluar dari kamar sebentar setelah berdiskusi dengan Ying Ying. Sementara Ying Ying dibantu Tan Xiang, mulai mempersiapkan diri untuk menghadiri perayaan ulang tahun Kaisar Wei.
***Aula istana***
Aula istana sudah terisi penuh oleh semua tamu undangan. Mereka semua sangat antusias merayakan ulang tahun Kaisar Wei.
Wei Bu Yi duduk berdampingan dengan Ying Ying. Tepat dihadapan mereka berdua, Wei Wu Xian duduk berdampingan dengan Yang Zi.
Wei Wu Xian terlihat tegang menunggu kedatangan Kaisar Wei. Wei Wu Xian berfirasat posisinya sebagai putra mahkota akan diambil alih oleh Wei Bu Yi hari ini.
"Kaisar Wei tiba!"
"Ratu Wen tiba!"
"Selir Ming Lan tiba!"
Suara Kasim Cao yang nyaring menggema di dalam aula istana. Para tamu undangan berdiri dari tempat duduk masing-masing dan memberi hormat.
Kaisar Wei mengenakan jubah naga berrwarna kuning keemasan. Jubah Naga memiliki sembilan sulaman naga yaitu satu di setiap bahu, satu di punggung, satu menutupi dada mulai dari atas hingga kebawah jubah, dan yang lainnya mendekorasi bagian bawah jubah kekaisaran.
Kaisar Wei duduk di atas singgasana berukiran naga, sedangkan Ratu Wen dan Selir Ming Lan duduk di sisi kiri dan kanan Kaisar Wei.
__ADS_1
"Duduklah!" perintah Kaisar Wei.
Para tamu undangan duduk ditempat semula. Kasim Cao mengumumkan acara resmi dimulai.
Pertunjukan musik dan tarian yang sudah dipersiapkan oleh Ratu Wen dan Selir Ming Lan membuat suasana di aula istana semakin meriah.
Para dayang istana pun menghidangkan makanan-makanan lezat di meja tamu undangan.
Seperti biasa, para dayang istana yang membawa piring-piring berisi makanan untuk Kaisar Wei berdiri di bawah tangga dan dalam jarak yang tidak terlalu dekat.
Kasim Cao dan beberapa kasim junior yang mengambil semua piring itu dari tangan dayang istana, lalu menghidangkannya di atas meja yang berada di depan Kaisar Wei, Ratu Wen, dan Selir Ming Lan.
Kaisar Wei, Ratu Wen, dan Selir Ming Lan menggunakan meja makan yang sama. Tidak seperti jamuan-jamuan makan malam istana sebelumnya yang menggunakan meja makan yang terpisah, kali ini neja makan berbentuk persegi panjang yang luas berada di hadapan mereka bertiga sehingga membuat suasana terasa lebih dekat dan akrab.
Tentu saja Ratu Wen yang mengusulkan mengenai meja makan tersebut ke Selir Ming Lan.
***
Selamat malam readers tercinta. Hari ini author usahain up dua bab ya.
Satu bab lagi nyusul, masih dalam proses pengetikan. Semoga ga terlalu malam dan bisa lancar jaya.
Jangan lupa like di setiap bab ya 🥰
Tebak-tebakan yuk. Di mana Ratu Wen menyimpan ekstrak kelopak teratai hitam?
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE