
***Kediaman Jenderal Li Jin***
Bai Lu dan Li Chang Ru sedang duduk berdua di ruang makan. Sebenarnya waktu malam malam sudah lewat, tetapi mereka berdua tidak berselera makan dan suasana hati yang buruk diakibatkan mengetahui Li Chang Le sudah sembuh.
Chen Chen menghidangkan dua mangkuk sup sarang burung walet di atas meja.
Bai Lu mencicipi sup sarang burung walet di hadapannya, sedangkan Chang Ru tidak menyentuh mangkuk sama sekali. Rasa kekesalan terpampang jelas di wajah Chang Ru.
"Chang Ru! Makanlah sedikit! Sup sarang burung walet bagus untuk kecantikan kulitmu," bujuk Bai Lu.
"Walaupun makan puluhan mangkuk sup sarang burung walet, aku tetap kalah cantik dibandingkan Chang Le! Kenapa Chang Le bisa sembuh setelah jatuh ke kolam istana? Ratu Wen bodoh sekali mengutus pembunuh yang tidak berguna!" ujar Chang Ru dengan ketus.
Bai Lu menutup mulut Chang Ru dengan kedua tangannya dan gerakan yang cepat, lalu menoleh ke arah Chen Chen.
Tatapan tajam Bai Lu membuat Chen Chen berlutut dan menundukkan kepalanya.
"Nyonya muda! Hamba tidak mendengar apa pun! Hamba hanya mengantarkan sup sarang burung walet!"
Bai Lu melepaskan tangannya dari mulut Chang Ru. Saat ini Chang Ru sadar dirinya salah bicara karena terlalu emosi.
Jika saja ada yang melaporkan ke Ratu Wen tentang perkataannya, bisa dipastikan Ratu Wen membencinya dan kemungkinan besar akan membatalkan pertunangan dirinya dengan Wei Wu Xian.
"Keluar dari ruangan ini! Kamu harus ingat, nyawa keluarga besar mu berada di tangan ku!" ancam Bai Lu ke Chen Chen.
"Baik, nyonya muda! Hamba mengerti!"
Chen Chen berdiri dengan tubuh gemetaran, lalu keluar dari ruang makan sambil menundukkan kepala.
***
"Aku minta maaf, ibu! Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi! Semua gara-gara Li Chang Le! Dia memang pembawa nasib sial bagiku!" ucap Chang Ru.
Bai Lu menepuk punggung tangan Chang Ru dengan lembut. "Chang Ru, makanlah sup sarang burung walet ini. Kamu tidak boleh sakit. Jangan lupa, sebentar lagi ayahmu pulang dan pernikahanmu akan dilaksanakan. Kamu akan menjadi putri mahkota."
"Baik ibu!" jawab Chang Ru dengan patuh.
__ADS_1
Bai Lu tersenyum lebar melihat Chang Ru mendengarkan perkataannya. Bai Lu pun melanjutkan mencicipi sup sarang burung walet di mangkuknya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ruang makan. Bai Lu dan Chang Ru merasa heran melihat A Niu berlari kecil menghampiri Bai Lu. Seketika firasat buruk muncul di dalam hati mereka berdua.
"Ada apa A Niu?"
"Lapor Nyonya muda! Pangeran Wei Bu Yi mengantar Nona Chang Le pulang!"
Bai Lu dan Chang Ru berdiri bersamaan dari tempat duduk saat mendengar perkataan A Niu.
"Di mana Chang Le sekarang?" tanya Bai Lu.
"Nona Chang Le masih di depan pintu masuk. Pangeran Wei Bu Yi ingin menemui nyonya muda!"
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal? Dasar bodoh!" bentak Bai Lu.
Bai Lu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu masuk. Chang Ru mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua merasa heran mengapa Wei Bu Yi memperbolehkan Li Chang Le pulang. Padahal sewaktu di istana, terlihat jelas Wei Bu Yi sangat melindungi Li Chang Le.
"Pasti Pangeran Wei Bu Yi membenci Chang Le sehingga mengantarnya pulang," batin Chang Ru.
Chang Ru sudah bersiap-siap untuk berakting menjadi adik perempuan yang baik hati dan penyayang.
Ketika hampir tiba di pintu masuk, senyuman Chang Ru menghilang seketika karena mendengar suara tertawa Ying Ying.
Bai Lu menghentikan langkah kaki dan menoleh belakang. Kemudian menggandeng tangan Chang Ru.
"Sabar Chang Ru!" kata Bai Lu dengan suara kecil yang hanya bisa terdengar oleh mereka berdua.
Chang Ru menganggukkan kepala pertanda mengerti. Bai Lu menarik napas lega dan melanjutkan perjalanan.
Dari kejauhan Chang Ru dan Bai Lu melihat Ying Ying sedang berbicara dengan Wei Bu Yi. Walaupun wajah Wei Bu Yi tetap dingin tanpa ekspresi, tetapi terlihat jelas Wei Bu Yi mendengarkan perkataan Chang Le dengan saksama.
"Selamat malam Pangeran Wei Bu Yi!" sapa Bai Lu.
__ADS_1
Kemunculan Bai Lu dan Chang Ru membuat roh Li Chang Le asli keluar dari bandul lonceng. Roh Li Chang Le menatap ibu dan anak itu dengan tatapan sedih.
Ying Ying tahu kesedihan di hati Li Chang Le dikarenakan selama puluhan tahun ini hidup bersama anggota keluarga yang berpura-pura baik dan menyayanginya. Padahal Bai Lu dan Chang Ru menginginkan kematian Li Chang Le.
"Li Chang Le!" ucap Wei Bu Yi.
"Iya!" jawab Ying Ying tanpa ragu sambil menganggukkan kepala.
Bai Lu, Chang Ru, dan semua orang yang berada di sana mengira Wei Bu Yi memanggil Li Chang Le. Padahal kenyataannya Wei Bu Yi menanyakan kepastian ke Ying Ying mengenai titik kecil cahaya putih yang dilihatnya keluar dari bandul lonceng.
"Chang Le! Ibu senang kamu sudah sembuh.Di luar sangat dingin, ayo kita masuk ke dalam rumah," ucap Bai Lu sambil menghampiri Ying Ying dan ingin memegang tangan Ying Ying.
Ying Ying menghindari sentuhan tangan Bai Lu dengan cepat. "Aku tidak kedinginan. Bu Yi meminjamkan jubah luar miliknya."
"Bu Yi? Sialan! Hanya dua hari saja Chang Le diperbolehkan memanggil nama singkat Pangeran Wei Bu Yi. Padahal putra mahkota tidak mengizinkan ku memanggil namanya!" batin Chang Le.
"Iya, iya! Hari sudah malam dan gelap sehingga ibu tidak melihat jelas Chang Le memakai jubah luar Pangeran Wei Bu Yi," ucap Bai Lu sambil tertawa palsu.
"Nyonya Bai Lu! Besok pagi Pangeran Wei Bu Yi harus ke perbatasan ibukota untuk menyambut rombongan perwakilan aliansi dari Kerajaan Tang Selatan sehingga mengantarkan Wang Fei pulang. Pangeran Wei Bu Yi mengharapkan Nyonya Bai Lu bisa menjaga Wang Fei dengan baik selama kepergiannya!" ucap Kasim Da Duo.
"Wang Fei? Kasim pribadi putra mahkota saja belum menyapa ku dengan panggilan putri mahkota. Atas dasar apa Chang Le sialan selalu menang dariku?" batin Chang Ru.
"Tentu saja aku akan menjaga Chang Le dengan baik. Pangeran Wei Bu Yi tidak perlu khawatir. Chang Le adalah putri kesayangan ku," ucap Bai Lu.
Wei Bu Yi tidak membalas perkataan Bai Lu, melainkan menatap ke arah Ying Ying.
"Aku pergi sekarang!"
"Aku akan menunggumu pulang!" ucap Ying Ying sambil melambaikan tangan.
***
Selamat malam readers. Terima kasih sudah memberikan dukungan berupa : vote, tips iklan, hadiah kopi dan lainnya, like, serta komentar positif 🥰🥰.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE