
Wei Bu Yi pulang ke kediaman saat malam hari. Ying Ying menunggu Wei Bu Yi untuk makan malam bersama.
Wei Bu Yi menceritakan penyelidikan yang dilakukan oleh Jenderal Liu Bei di Istana Timur. Jenderal Liu Bei tidak menemukan mata-mata dari kerajaan Tang Selatan di sana, tetapi dua dayang pribadi Putri Tang Yan ditangkap untuk diinterogasi.
Dua pria bawahan Pangeran Tang Jin yang menyamar sebagai kasim sudah dibunuh oleh Kasim Ma sehingga Jenderal Liu Bei tidak mengetahui kejadian memalukan yang terjadi di Istana Timur semalam.
Sementara Putri Tang Yan sudah dibawa pulang oleh Ratu Wen ke Istana Ratu Wen.
"Bu Yi! Aku ingin pergi ke Istana Ratu Wen sebelum kita berangkat ke Kota Chang An besok pagi. Mungkin saja aku bisa menemukan di mana Ratu Wen menyembunyikan ekstrak teratai hitam," ucap Ying Ying.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu,"
"Kebetulan aku bisa mencoba khasiat pil penghilang wujud yang baru aku racik."
Ying Ying bisa menggunakan kekuatan sihir penghilang wujud untuk menyusup ke Istana Ratu Wen, sedangkan Wei Bu Yi tidak memiliki kekuatan sihir dan bisa menggunakan pil penghilang wujud racikan Ying Ying.
***Istana Ratu Wen***
Wei Bu Yi dan Ying Ying menyelinap masuk ke dalam Istana Ratu Wen dengan mudah. Mereka berdua langsung menuju kamar Ratu Wen.
Hari sudah larut malam, tetapi Ratu Wen masih belum tidur. Suara cacian dan isak tangis dari dalam kamar Ratu Wen membuat Ying Ying dan Wei Bu Yi saling berpandangan satu sama lain.
Wei Bu Yi menunjuk ke arah jendela kamar yang terbuka sedikit. Ying Ying menganggukkan kepala pertanda mengerti maksud Wei Bu Yi.
Walaupun Ying Ying dan Wei Bu Yi dalam keadaan transparan sehingga tidak terlihat oleh siapa pun, tetapi mereka berdua tidak mau bertindak gegabah untuk masuk ke dalam kamar.
Ying Ying dan Wei Bu Yi mengintip melalui celah jendela yang terbuka untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar.
Hanya ada tiga orang di sana yaitu Ratu Wen, Kasim Ma, dan Putri Tang Yan.
Kasim Ma berdiri berhadapan dengan Putri Tang Yan dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Kasim Ma terdiam menatap Putri Tang Yan menangis tersedu-sedu, sedangkan Ratu Wen berdiri tepat di belakang Putri Tang Yan.
__ADS_1
Ying Ying melihat tangan Ratu Wen berulang kali menyentuh tubuh Putri Tang Yan, lalu terdengar teriakan kesakitan dari mulut Putri Tang Yan.
"Apa yang sedang dilakukan Ratu Wen terhadap Putri Tang Yan?" batin Ying Ying.
Ying Ying yakin Ratu Wen sedang menghukum Putri Tang Yan, tetapi jenis hukuman apa tidak diketahui jelas oleh Ying Ying.
Rasa penasaran yang kuat membuat Ying Ying masuk ke dalam kamar melalui jendela dengan hati-hati untuk melihat lebih dekat. Wei Bu Yi pun mengikuti dari belakang.
Mata Ying Ying membuat besar melihat Putri Tang Yan dalam keadaan menyedihkan.
Kedua tangan Putri Tang Yan sedang mencengkeram erat pakaiannya yang terbuka sedikit dan memperlihatkan pundaknya, sedangkan tubuhnya gemetaran menahan rasa sakit.
Pundak yang seharusnya putih mulus sudah penuh dengan tetesan dar*h karena Ratu Wen menus*k dengan jarum-jarum kecil.
"Argh! Sakit! Ku mohon jangan hukum aku lagi!" pinta Putri Tang Yan.
Permohonan Putri Tang Yan bagaikan angin yang berlalu. Ratu Wen tidak menghentikan gerakan tangannya melainkan menambah luka yang lebih banyak lagi di pundak Putri Tang Yan.
Putri Tang Yan sudah menjadi samsak tinju untuk pelampiasan semua kekesalan dan kemarahan Ratu Wen yang memuncak.
"Wanita kotor! Kamu membuat Wu Xian menderita dan hampir saja dilengserkan dari posisi putra mahkota!"
"Kamu wanita hina yang tidak berguna! Kerajaan Tang Selatan sudah membuangmu jauh-jauh!"
"Kalau bisa, aku akan buat kamu cacat seperti Pangeran Tang Jin!"
Kabar bahwa Pangeran Tang Jin buta dan kehilangan sebuah tangan sudah diketahui oleh Ratu Wen. Ratu Wen mengira Wei Bu Yi yang membuat Pangeran Tang Jin cacat karena menculik Li Chang Le.
"Ampun Ratu Wen! Ampun!"
"Aku terpaksa melakukannya karena ancaman Pangeran Tang Jin!"
__ADS_1
Sepasang mata Putri Tang Yan sudah bengkak dan sembab karena tangisan yang tidak berhenti. Siapa pun yang melihat keadaan Putri Tang Yan sekarang pasti akan merasa iba dan berniat menolongnya terutama kaum pria.
Ying Ying melihat wajah tidak tega Kasim Ma terhadap Putri Tang Yan, tetapi hanya sekilas saja karena takut ketahuan oleh Ratu Wen.
Ying Ying menoleh ke arah Wei Bu Yi dan menatap intens Wei Bu Yi dari atas kepala hingga ujung kaki.
Wajah dingin tanpa ekspresi Wei Bu Yi membuat Ying Ying puas. Ying Ying mengacungkan ibu jari kanan ke Wei Bu Yi.
Wei Bu Yu tersenyum kecil dan mencubit gemas hidung mancung Ying Ying. Sikap posesif Ying Ying terhadapnya membuat hati Wei Bu Yi terasa hangat.
Jika bukan dikarenakan mereka berdua masih berada di istana Ratu Wen, Wei Bu Yi pasti akan mencium Ying Ying sekarang.
Siksaan yang diterima oleh Putri Tang Yan secara bertubi-tubi membuat Putri Tang Yan jatuh pingsan. Kasim Ma menangkap tubuh Putri Tang Yan dengan sigap.
Ratu Wen mendengus keras dan membuang jarum di tangannya ke lantai. Kemudian duduk di atas tempat tidur sambil mengelap tangannya yang terkena noda da*ah.
"Dayang istana!"
Dua dayang istana pribadi Ratu Wen segera masuk ke dalam kamar setelah mendengarkan panggilan Ratu Wen.
"Antar Putri Tang Yan ke kamarnya!"
"Baik, Ratu Wen!"
***
Selamat malam readers. Hari ini author up dua bab. Semoga keduanya lancar dan ga ketahan 😅.
Bab ini up pukul 20.30 wita. Bab kedua masih ketik nih 😅 Akhir dari Putri Tang Yan akan tiba.
Ditunggu ya ♥️
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE