
***Aula istana Kaisar Wei***
Dua dayang istana membersihkan pecahan cangkir di lantai dekat tempat duduk Wei Wu Xian dengan cepat, kemudian mengganti cangkir yang pecah dengan cangkir baru.
Chang Ru ingin menuangkan arak ke cangkir Wei Wu Xian, tetapi Wei Wu Xian merebut teko arak dengan kasar dari tangan Chang Ru.
"Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi! Jangan membuatku malu di depan pejabat lainnya!" ancam Wei Wu Xian dengan suara kecil, yang hanya bisa terdengar olehnya dan Chang Ru.
"Baik, Putra mahkota!" jawab Chang Ru.
Wei Wu Xian mendengus kasar, lalu menuangkan arak ke cangkir dan meneguknya habis. Secara refleks, Wei Wu Xian menatap ke arah Ying Ying lagi, tetapi tidak bisa melihat wajah cantik Ying Ying secara menyeluruh karena posisi tubuh Ying Ying menghadap ke samping, tepatnya Ying Ying sedang menatap Wei Bu Yi dengan intens.
Ying Ying memang sengaja menghindari tatapan tidak sopan dari Wei Wu Xian sehingga menggunakan Wei Bu Yi sebagai tameng.
Cara Ying Ying sangat berhasil. Wei Wu Xian menahan kekesalan di dalam hatinya dan menoleh ke arah Chang Ru.
Chang Ru sangat senang karena mengira Wei Wu Xian sudah menyadari bahwa dirinya lebih baik dibandingkan Li Chang Le yang tidak normal.
"Ada apa Putra mahkota?" tanya Chang Ru sambil tersenyum lebar.
"Kenapa hanfu kamu berbeda jauh dengan hanfu Chang Le?" tanya Wei Wu Xian.
"Hanfu Chang Le hadiah dari Pangeran Wei Bu Yi. Bahannya kain sutra dari Kerajaan Han Utara," jawab Chang Ru.
Selama ini Wei Wu Xian tidak peduli dengan upeti kain sutra dari Kerajaan Han Utara karena kegunaan kain sutra itu hanya untuk membuat pakaian wanita.
Oleh karena itu, saat Kaisar Wei memberikan salah satu gulungan kain sutra itu ke Wei Bu Yi setiap tahun, Wei Wu Xian tidak iri. Bahkan Wei Wu Xian menganggap semua kain sutra itu akan menjadi benda yang tidak berharga dan tanpa pemilik karena setiap permaisuri Wei Bu Yi pasti mati di hari pernikahan.
Wei Wu Xian tidak menyangka
hanfu dari kain sutra itu sangatlah serasi dan cantik di tubuh Li Chang Le sehingga menjadikan Li Chang Le pusat perhatian di jamuan makan malam istana.
"Ratu Wen juga memiliki kain sutra dari Kerajaan Han Utara. Aku yakin penampilanku lebih cantik dan menarik dibandingkan Kak Chang Le jika memakai hanfu yang sama," ucap Chang Ru.
__ADS_1
Chang Ru memiliki makna tersembunyi di balik perkataannya. Wei Wu Xian bukanlah orang bodoh sehingga bisa menebak tepat keinginan Chang Ru.
"Jangan bermimpi untuk mendapatkan kain sutra itu dari tangan ibunda," ujar Wei Wu Xian.
Chang Ru menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahnya dengan kesal.
"Aku benci kamu, Chang Le! Kamu membuatku dipermalukan oleh Wei Wu Xian! Kamu harus mati! Kamu harus menderita!" batin Chang Ru.
Sementara Ying Ying, yang semula hanya berpura-pura menatap ke arah Wei Bu Yi, lama kelamaan tidak bisa mengalihkan sepasang matanya dari wajah Wei Bu Yi.
"Alis yang tebal, hidung mancung, bentuk rahang yang tegas. Benar-benar wajah yang sempurna," batin Ying Ying.
Wei Bu Yi tetap duduk tenang dan tidak terganggu oleh tatapan berbinar-binar dari Ying Ying.
"Rambut berwarna abu-abu ini apakah terasa kasar atau lembut?"
Ying Ying menyentuh beberapa helai rambut Wei Bu Yi secara refleks, lalu memutar dan melingkarkannya di sekitar jari.
Ying Ying melirik sekilas ekspresi wajah Wei Bu Yi, yang masih sama seperti semula sehingga Ying Ying semakin berani bermain rambut warna abu-abu itu dengan jari tangannya.
Kedua kasim kepercayaan Wei Bu Yi segera menatap Tan Xiang dan memberi isyarat gerakan kepala ke arah Ying Ying.
Tan Xiang mengerti maksud Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo sehingga membungkukkan badan untuk berbisik ke telinga Ying Ying.
"Tidak boleh, Nona Chang Le! Kamu bisa membuat malu Pangeran Wei Bu Yi," bisik Tan Xiang.
"Baiklah!' jawab Ying Ying dengan suara kecil.
Ying Ying melepaskan helaian rambut Wei Bu Yi dari jari tangannya dengan perasaan enggan disertai helaan napas panjang.
Gerak-gerik Ying Ying dan bisikan antara Ying Ying dengan Tan Xiang, semuanya diketahui oleh Wei Bu Yi.
"Apakah salah satu kebiasaan Chang Le adalah bermain helaian rambut?" batin Wei Bu Yi.
__ADS_1
Sebenarnya Ying Ying merasa bosan menunggu kedatangan Kaisar Wei sehingga ketika menyentuh helaian rambut Wei Bu Yi, Ying Ying ketagihan karena sangat halus dan lembut seperti bulu putih miliknya saat dalam wujud rubah putih.
***
"Kaisar Wei tiba!"
"Ratu Wen tiba!"
"Selir Ming Lan tiba!"
Suara Kasim Cao menggema di dalam istana. Para tamu undangan berdiri dan memberi hormat.
Kaisar Wei duduk di singgasana berukiran naga, sedangkan Ratu Wen dan Selir Ming Lan duduk di sisi kanan dan kiri Kaisar Wei, seperti dugaan awal Ying Ying.
"Duduklah!" perintah Kaisar Wei.
Para tamu undangan duduk di tempat semula termasuk Ying Ying. Kaisar Wei tersenyum lebar melihat penampilan Ying Ying, terutama hanfu dari kain sutra Kerajaan Han Utara.
Kaisar Wei merasa senang Pangeran Wei Bu Yi mendengarkan nasihatnya untuk menerima Li Chang Le sebagai permaisuri.
Bukan hanya Kaisar Wei seorang saja yang menyadari hanfu Ying Ying, Ratu Wen dan Selir Ming Lan pun tahu hanfu baru Ying Ying merupakan hadiah dari Pangeran Wei Bu Yi.
Ratu Wen berfirasat Ying Ying akan menjadi duri dalam daging jika tidak disingkirkan secepatnya.
"Li Chang Le harus mati!" batin Ratu Wen.
***
Selamat malam readers tercinta.
FOLLOW AUTHOR LYTIE di Noveltoon dan bergabung di dalam GRUP LYTIE CHAN 🥰
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE