REVENGE OF FOX CONSORT

REVENGE OF FOX CONSORT
BAB 73. Kemarahan Jenderal Li Jin


__ADS_3

***Pertemuan pagi di istana Kaisar Wei***


Para pejabat tinggi dan jenderal besar yang diundang di jamuan makan malam semalam menghadiri pertemuan pagi dengan Kaisar Wei. Sedangkan keluarga besar mereka sudah bersiap-siap membereskan barang perlengkapan yang dibawa untuk menginap semalam.


Pertemuan pagi ini membahas pengumuman resmi akan kerjasama yang telah disepakati antara Kerajaan Wei Timur dan Kerajaan Tang Selatan. Pernikahan Putri Tang Yan dengan Panglima Wen Zuo juga diumumkan dalam pertemuan ini.


Kaisar Wei didampingi oleh Selir Ming Lan. Perihal Selir Ming Lan mengambil alih kekuasaan istana belakang sudah menyebar luas.


Para pejabat tinggi dan jenderal besar yang hadir mempunyai pemikiran yang sama di dalam hati mereka bahwa Ratu Wen lah dalang dari kejadian semalam.


Sasaran utama Ratu Wen adalah Wei Bu Yi, tetapi Wei Bu Yi tidak masuk ke dalam jebakan Ratu Wen melainkan memberikan balasan yang setimpal.


Dari hukuman yang diberikan oleh Kaisar Wei terhadap Ratu Wen membuktikan kesabaran Kaisar Wei terhadap Ratu Wen sudah mencapai batasnya. Selain itu Kaisar Wei juga tidak menyalahkan Wei Bu Yi sama sekali sehingga semua orang tidak berani mengungkit kejadian kemarin termasuk Wei Wu Xian.


Para utusan dari Kerajaan Tang Selatan dan lima puluh pasukan akan berangkat pulang ke kerajaan mereka siang ini, sedangkan Pangeran Tang Jin tinggal di Kerajaan Wei selama dua bulan bersama lima puluh pasukan.


Paviliun Persik yang dijadikan tempat tinggal Pangeran Tang Jin berada di antara Kediaman Jenderal Li Jin dan Kediaman Jenderal Liu Bei. Dengan kata lain, gerak gerik Pangeran Tang Yan di Kerajaan Wei dibatasi dan diawasi agar tidak bertindak sesuka hati.


"Bu Yi! Selir Ming Lan yang akan mengurus pernikahanmu dengan Li Chang Le. Apakah ada hal khusus yang kamu inginkan di hari pernikahanmu?" tanya Kaisar Wei.


Wei Wu Xian mengepalkan erat kedua tangannya mendengar perhatian yang diungkapkan oleh Kaisar Wei terhadap Wei Bu Yi. Padahal dirinya juga akan menikah dengan Li Chang Ru dan Yang Zi, tetapi Kaisar Wei tidak menanyakan keinginannya.


"Ada satu hal yang Bu Yi inginkan. Bu Yi harap ayahanda bisa mengabulkannya!"


"Baiklah. Apa keinginanmu?"


"Bu Yi ingin Li Chang Le memakai perhiasan dari mendiang Ratu Xu di hari pernikahan!"


"Tentu saja boleh! Aku yakin ibumu pasti senang dan bahagia melihat hari pernikahanmu dari alam sana!"


"Terima kasih ayahanda!"


***


Puluhan kereta kuda berbaris rapi di luar istana. Semua kereta kuda itu adalah milik para tamu undangan, yang bersiap untuk pulang ke kediaman masing-masing.


Sementara aliansi perwakilan dari Kerajaan Tang Selatan dan 50 orang pasukannya akan diantar oleh rombongan Jenderal Liu Bei hingga perbatasan kota Luoyang.


Jenderal Li Jin, Bai Lu, Li Teng, dan Chang Ru sudah berada di dalam kereta kuda mereka. Li Ming dan Feng Xi duduk diatas punggung kuda yang berbeda. Kedua kuda itu berada di sisi kiri dan kanan kereta kuda rombongan Jenderal Li Jin.


Rombongan Jenderal Li Jin belum berangkat karena menunggu Ying Ying. Ying Ying sedang berbicara dengan Wei Bu Yi di tempat yang tidak jauh dari kereta kuda.


"Ying Ying. Bersiaplah menjadi pengantin yang cantik. Kita akan bertemu di hari pernikahan!"


"Baiklah!" jawab Ying Ying sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


Tradisi di Kerajaan Wei bahwa mempelai pria dan wanita tidak boleh bertemu hingga hari pernikahan nanti membuat Ying Ying dan Wei Bu Yi merasa enggan untuk melepaskan tangan mereka satu sama lain.


"Ratu Wen dan Putri Tang Yan pergi ke kuil kerajaan untuk sembahyang. Untuk sementara waktu mereka berdua akan bersikap baik agar kemarahan ayahanda mereda."


"Setidaknya mereka tidak akan mengganggu hari pernikahan kita!" ucap Ying Ying dengan yakin.


"Pergilah! Jenderal Li Jin sudah menunggu lama! Hadiah spesial dariku akan tiba saat kamu di rumah!"


"Hadiah apa?" tanya Ying Ying antusias.


"Rahasia!" jawab Wei Bu Yi sambil mencubit gemas hidung mancung Ying Ying.


Ying Ying memeluk tubuh Wei Bu Yi dalam hitungan detik, lalu melepaskan pelukan itu dan berjalan menuju kereta kuda. Ying Ying tidak menyadari wajah sendu Feng Xi saat melihat sikap akrab antara Ying Ying dengan Wei Bu Yi, tetapi Wei Bu Yi menyadarinya.


Wei Bu Yi merasa perhatian dan kasih sayang Feng Xi terhadap Li Chang Le alias Ying Ying sudah melewati batas dari seorang kakak terhadap adiknya.


Dalam waktu singkat, satu persatu kereta kuda meninggalkan istana menuju Kediaman masing-masing. Wei Bu Yi juga menunggangi kuda menuju kediamannya di ibukota untuk mempersiapkan perhiasan mendiang Ratu Xu sebagai hadiah Ying Ying.


Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo mengikuti Wei Bu Yi dari belakang dengan kuda yang berbeda. Mereka berdua sangat gembira melihat kedekatan Wei Bu Yi dan Ying Ying.


Semalam mereka berdua tidak pulang karena khawatir keadaan Wei Bu Yi. Mereka menunggu di sekitar istana sehingga mengetahui kejadian Putri Tang Yan dengan Panglima Wen Duo.


Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo menduga Wei Bu Yi yang membalas jebakan dari Ratu Wen, Chang Ru, dan Putri Tang Yan. Mereka berdua yakin Wei Bu Yi bersembunyi di kamar Ying Ying semalaman untuk menghindari bentrokan dengan Xu Feng dan pengawal Kerajaan yang sedang menyelidiki kejadian semalam.


***Kediaman Jenderal Li Jin***


Para pelayan membantu membawa semua barang perlengkapan rombongan Jenderal Li Jin turun dari kereta kuda.


Sementara itu rombongan Jenderal Li Jin berkumpul di ruang depan atas permintaan Jenderal Li Jin sendiri. Sebagian besar dari mereka mengira Jenderal Li Jin ingin membahas mengenai pernikahan Li Chang Le dan Li Chang Ru.


Oleh karena itu, Bai Lu memulai pembicaraan mengenai mahar nikah yang dijanjikannya ke Chang Ru.


"Li Jin! Mahar nikah Kak Ling Qi sudah aku serahkan semuanya ke Chang Le, tetapi mahar nikah Chang Ru hanya sedikit. Padahal Chang Ru akan menjadi putri mahkota sehingga seharusnya membawa lebih banyak mahar nikah agar tidak dipandang rendah oleh putra mahkota. Apalagi Yang Zi sebagai selir utama juga menikah ke istana timur di hari yang sama dengan Chang Ru!" ucap Bai Lu panjang lebar.


"Benar kata ibu, ayah! Aku tidak mau kalah jumlah mahar nikah dari Yang Zi! Aku ini putri mahkota, Yang Zi hanyalah selir utama!"


Jenderal Li Jin tidak membalas perkataan Bai Lu dan Chang Ru, melainkan menatap tajam Chang Ru.


"Chang Ru! Apa yang kamu katakan ke Pangeran Wei Bu Yi semalam sehingga dia mengikutimu pergi?"


"A…apa maksud ayah? Aku tidak pernah menemui Pangeran Wei Bu Yi. Setelah mengantar Kak Chang Le ke kamar, aku juga istirahat di kamarku!"


Chang Ru berusaha tenang dan menjawab dengan penuh kebohongan. Saat dirinya menemui Wei Bu Yi, Chang Ru sangat yakin para tamu undangan di dalam aula istana, tidak ada yang melihatnya. Termasuk Jenderal Li Jin.


Chang Ru tidak akan menyangka roh Li Chang Le sengaja mengalihkan perhatian Jenderal Li Jin sesaat ke arah Wei Bu Yi. Memang Jenderal Li Jin tidak melihat jelas wajah Chang Ru dari kejauhan, tetapi Jenderal Li Jin tidaklah mungkin salah mengenali postur tubuh Chang Ru.

__ADS_1


"Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku ini! Kamu masih mau berbohong?"


"Ratu Wen yang memerintahkanku berbohong ke Pangeran Wei Bu Yi bahwa Kak Chang Le mencarinya!"


Chang Ru mengira amarah Jenderal Li Jin akan mereda jika mengetahui Ratu Wen lah yang memaksanya berbohong ke Pangeran Wei Bu Yi.


Padahal di dalam hati kecilnya, Chang Ru sendiri sangat setuju dengan rencana licik Ratu Wen karena ingin melihat Chang Le dipermalukan dan dimadu.


"Sejak awal kamu sudah tahu kamar itu adalah Kamar Putri Tang Yan?"


"Iya!"


"Kenapa kamu melakukan perintah Ratu Wen? Jika saja Pangeran Wei Bu Yi masuk dalam jebakan itu, maka Chang Le lah yang akan menderita. Perbuatanmu hampir saja mencelakai kakakmu sendiri!"


"Jika aku tidak menuruti permintaan Ratu Wen, aku tidak bisa menjadi putri mahkota!"


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat di wajah Chang Ru. Bai Lu maju menghadang di depan Chang Ru agar Jenderal Li Jin tidak bisa memukul Chang Ru lagi.


"Li Jin! Chang Ru masih muda dan polos. Ratu Wen pasti mengancamnya sehingga Chang Ru terpaksa menjalankan perintahnya!" ucap Bai Lu.


"Benar kata ibu, ayah! Tolong maafkan kesalahan Kak Chang Ru! Lagipula Kak Chang Le baik-baik saja!" kata Li Teng.


"Chang Ru! Ayo minta maaf sama ayahmu!"


Air mata sudah mengalir deras di pipi Chang Ru. Chang Ru menundukkan kepala dan menangis tersedu-sedu.


"Ayah! Maafkan Chang Ru!"


Chang Ru mengulang perkataannya berkali-kali, tetapi di dalam hati kecilnya Chang Ru mengumpat Jenderal Li Jin.


"Kamu harus minta maaf ke Chang Le, bukan ke ayah angkat!" ujar Feng Xi.


"Maafkan aku, Kak Chang Le!" ucap Chang Ru sambil mengepalkan erat kedua tangannya.


***


Selamat malam readers tercinta. Jangan lewatkan kelanjutan cerita besok ya. Masih ada kejutan menanti Chang Ru dan Bai Lu 😁.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2