
***Kamar pengantin Ying Ying dan Wei Bu Yi***
Ying Ying mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut kamar pengantin. Ying Ying mengingat jelas kamar ini merupakan kamar Wei Bu Yi karena Ying Ying pernah menginap di kamar ini ketika jatuh ke kolam istana dan diselamatkan Wei Bu Yi.
Suasana di kamar pengantin ini sangat berbeda dengan kamar Wei Bu Yi sebelumnya. Nuansa merah sangat dominan mencerminkan suasana penuh kegembiraan.
Huruf 'shuangxi' berwarna merah, yang bermakna kebahagiaan berganda menempel di pintu dan dinding kamar pengantin.
Sebuah meja rias yang besar berada di salah satu sudut ruangan. Meja rias yang sebelumnya tidak ada di dalam kamar ini. Selain itu lemari pakaian yang sebelumnya berjumlah satu, sekarang menjadi dua.
Di atas setiap sudut ruangan ada mutiara malam seukuran bola pingpong, yang menerangi ruangan dengan sangat terang.
Sepasang mata jernih Ying Ying berhenti di tempat tidur. Seprai yang terpasang di atas kasur berwarna merah menyala. Selain itu ada sepotong kain sutra putih di atasnya.
Ying Ying tahu kain sutra putih itu menjadi bukti apakah mempelai wanita masih peraw*n atau tidak ketika berhubungan mesra di malam pertama.
Ying Ying termenung menatap kain sutra putih tersebut. Walaupun Ying Ying sudah mengetahui rahasia Wei Bu Yi bahwa penyakit impo*en sudah sembuh, tetapi rahasia besar ini masih ditutupi dari semua orang.
Ying Ying tidak bisa memprediksi apakah Wei Bu Yi bermaksud mengungkapkan kebenaran itu saat ini atau tidak. Yang penting apa pun keputusan Wei Bu Yi, Ying Ying akan mendukungnya.
Ekspresi termenung Ying Ying membuat Tan Xiang dan Wan Wan mengira Ying Ying teringat akan penyakit impo*en Wei Bu Yi.
Wan Wan berusaha menghibur Ying Ying. "Wang Fei! Pangeran Wei Bu Yi keluar untuk menjamu tamu undangan sebentar dan akan kembali lagi ke kamar."
"Iya, aku tahu!"
Kekuatan sihir mendengar jarak jauh Ying Ying membuatnya bisa mendengar jelas suasana meriah di kediaman.
Tamu undangan yang datang walaupun tidak sebanyak tamu undangan yang pergi ke Istana Timur, bisa dipastikan para tamu undangan ini berada di pihak Wei Bu Yi.
Sebagian besar tamu undangan yang datang pernah menerima kebaikan hati dari mendiang Ratu Xu. Wei Bu Yi sudah memprediksinya sejak awal.
Hanya saja Wei Bu tidak menyangka ada satu tamu istimewa yang datang yaitu Jenderal Liu Bei. Jenderal Liu Bei memiliki sifat yang sama seperti Jenderal Li Jin yaitu tidak memihak siapa pun.
Tujuan utama mereka berdua hanyalah melindungi Kerajaan Wei dari ancaman kerajaan lain sehingga siapa pun yang menjadi Kaisar nantinya, mereka tetap akan mendukung.
Saat ini Kaisar Wei masih hidup dan sangat sehat sehingga kesetiaan Jenderal Liu Bei dan Jenderal Li Jin ditujukan ke Kaisar Wei, bukan Wei Wu Xian ataupun Wei Bu Yi.
Wei Bu Yi sangat mengetahui hal itu sehingga mengira Jenderal Liu Bei akan menghadiri pernikahan Wei Wu Xian di Istana Timur karena Kaisar Wei ada di sana.
Wei Bu Yi tidak akan menyangka Jenderal Liu Bei hadir di pernikahannya dikarenakan permintaan Nyonya Ou Yang.
Sikap tidak sopan Chang Ru membuat Nyonya Ou Yang lebih memilih datang ke pernikahan Ying Ying. Jenderal Liu Bei sangat mencintai istrinya sehingga menuruti permintaan Nyonya Ou Yang.
Sementara Kaisar Wei sendiri sangat gembira saat mengetahui Wei Bu Yi bersedia mengadakan resepsi pernikahan di kediaman. Padahal ke-6 pernikahan sebelumnya, Wei Bu Yi tidak pernah terlibat dalam hal apa pun.
Ke-6 permaisuri sebelumnya hanya diantar oleh tandu merah mempelai, lalu dibawa ke dalam kamar pengantin tanpa melalui ritual prosesi pernikahan. Bahkan kamar pengantin yang dipersiapkan bukanlah kamar utama Wei Bu Yi melainkan kamar tamu. Kemudian di hari kedua pernikahan akan tersebar kabar kematian permaisuri tersebut.
Wan Wan menjadi dayang junior di Kediaman Wei Bu Yi selama empat tahun sehingga mengetahui akhir tragis beberapa permaisuri terdahulu. Akan tetapi, Wan Wan berfirasat Ying Ying tidak akan mengikuti jejak para permaisuri terdahulu, melainkan akan menjadi Wang Fei satu-satunya yang mendampingi Wei Bu Yi seumur hidup.
"Apakah Wang Fei mau mandi dan ganti baju sekarang?" tanya Tan Xiang.
Baju pengantin merah Ying Ying memiliki banyak lapisan dan sudah dikenakan sejak pagi serta melewati perjalanan jauh ke Kediaman Pangeran Wei Bu Yi.
Oleh karena itu, Tan Xiang bisa memastikan Ying Ying merasa tidak nyaman dan gerah saat ini. Lagipula prosesi pernikahan sudah selesai sehingga pakaian pengantin merah bisa diganti.
"Baiklah!" jawab Ying Ying.
Tan Xiang dan Wan Wan berpamitan keluar dari kamar. Beberapa saat kemudian, mereka berdua masuk ke kamar bersama empat pelayan tingkat dua.
Tan Xiang dan Wan Wan sebagai pelayan tingkat satu membagi tugas dengan cepat dan teratur. Mereka semua melayani Ying Ying dengan sepenuh hati.
__ADS_1
***
Setelah selesai mandi, Ying Ying mengenakan pakaian sutra berwarna merah dan duduk di depan meja. Semua perhiasan di tubuhnya sudah tersimpan di dalam kotak-kotak perhiasan dan tersusun rapi di atas meja rias.
Wan Wan dan beberapa pelayang tingkat dua membawa piring-piring yang berisi kudapan kecil ke dalam kamar pengantin. Semuanya dihidangkan di atas meja, tepatnya di samping sepasang lilin besar berwarna merah yang belum dinyalakan dan juga teko arak yang dipersiapkan untuk bersulang oleh Ying Ying dan Wei Bu Yi.
"Pangeran Wei Bu Yi memerintahkan juru masak mempersiapkan semua kudapan kecil ini untuk Wang Fei!" ucap Wan Wan.
Ying Ying tersenyum kecil karena mengingat janji Wei Bu Yi di dalam kereta kuda menuju Qing Qiu beberapa waktu yang lalu bahwa Ying Ying bisa menikmati kudapan kecil kesukaannya saat menjadi permaisurinya.
Tan Xiang memberikan sepasang sumpit baru ke Ying Ying, sedangkan Wan Wan menuangkan teh melati ke cangkir. Mereka berdua berdiri di sisi kiri dan kanan Ying Ying.
Ying Ying menikmati kue-kue kecil di atas meja dengan senang hati. Selain ada ketiga macam kue yang dimakan dalam perjalanan ke Qing Qiu, juga ada kue kecil yang dimakan oleh Ying Ying di jamuan makan malam istana Kaisar Wei.
Hati Ying Ying terasa hangat dan semua kue kecil itu terasa lebih manis dibandingkan biasanya. Ying Ying tidak menyangka Wei Bu Yi memperhatikan hingga detail apa saja yang dilakukan olehnya saat mereka berdua bertemu.
***
Ying Ying berjalan sebentar mengelilingi bagian dalam kamar pengantin setelah selesai makan, sedangkan pelayan tingkat dua membersihkan meja dan membawa keluar piring-piring kosong.
Jendela kamar yang terbuka sedikit membuat angin malam yang sejuk masuk ke dalam kamar.
Ying Ying berjalan menuju jendela dan secara refleks memandang ke atas. Sinar bulan purnama menjadi satu-satunya cahaya yang menyinari malam hari di luar sana.
"Bulan purnama! Aku sudah satu bulan menjadi manusia!" batin Ying Ying.
Dalam satu bulan ini terjadi banyak kejadian penting dalam kehidupan Ying Ying. Ada kejadian yang menyenangkan dan ada juga kejadian yang menyedihkan.
Saat ini Ying Ying merasa bahagia karena menemukan pria yang mencintai dan bersedia menerima Ying Ying apa adanya. Akan tetapi, kebahagiaan ini disertai perasaan sedih karena sisa waktu roh Li Chang Le di dunia manusia tinggal 19 hari saja.
Ying Ying berharap roh Li Chang Le bisa bahagia menikmati sisa waktunya di sisi Feng Xi.
"Pangeran Wei Bu Yi tiba!"
Pintu kamar pengantin terbuka dari luar. Wei Bu Yi berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Ying Ying.
Ying Ying melihat jelas rona merah di wajah Wei Bu Yi sehingga menduga Wei Bu Yi minum arak bersama tamu undangan.
Kasim Xiao Duo menyalakan sepasang lilin merah besar dan panjang di atas meja secara bersamaan yang merupakan lambang panjang umur, sedangkan Kasim Da Duo menutup jendela kamar dengan cepat agar nyala lilin tidak padam. Kedua kasim itu memberi isyarat tangan ke Tan Xiang dan Wan Wan agar meninggalkan kamar.
Tan Xiang dan Wan Wan keluar dari kamar dengan patuh. Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo mengambil ke-4 mutiara malam dari setiap sudut ruangan sebelum ikut keluar dari kamar dengan cepat.
Kamar pengantin langsung menjadi gelap. Cahaya hanya berasal dari lilin merah di atas meja yang menyala, tetapi Ying Ying dan Wei Bu Yi bisa saling melihat jelas wajah masing-masing.
"Kamu mabuk?" tanya Ying Ying.
"Aku tidak mabuk!"
Sepasang mata tajam Wei Bu Yi masih menatap intens wajah Ying Ying. Tatapan yang sangat dalam dan membara sehingga membuat Ying Ying tersipu malu dan mengalihkan perhatiannya ke atas meja.
"Kita belum minum arak pernikahan!"
"Iya! Kita harus minum arak pernikahan sebelum memulai malam pertama!" ucap Wei Bu Yi spontan.
Wajah Ying Ying semakin merona merah seperti kepiting rebus. Jika saja mutiara malam masih berada di dalam kamar, Ying Ying pasti bisa melihat jelas telinga Wei Bu Yi juga merona merah.
Wei Bu Yi mengambil teko arak dan menuangkannya ke dalam dua cangkir arak, lalu memberikan salah satu cangkir ke tangan Ying Ying.
Mereka berdua meneguk habis arak di dalam cangkir. Arak yang terasa sangat manis dan memabukkan bagi Ying Ying.
Ying Ying mendekatkan wajahnya ke wajah Wei Bu Yi, lalu mengedipkan sepasang matanya beberapa kali.
__ADS_1
"Aneh!" gumam Ying Ying.
"Apa yang aneh, Ying Ying?"
Ying Ying tidak menjawab pertanyaan Wei Bu Yi, melainkan berdiri dari tempat duduk. Wei Bu Yi segera memeluk pinggang Ying Ying dikarenakan tubuh Ying Ying sempoyongan dan hampir saja jatuh ke belakang.
Pelukan itu membuat Ying Ying jatuh duduk di pangkuan Wei Bu Yi. Tubuh mereka berdua sangat dekat sehingga Wei Bu Yi bisa mendengar jelas detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Ying Ying!"
"Kenapa ada dua Bu Yi?"
Pertanyaan Ying Ying membuat Wei Bu Yi menghentikan niat awalnya untuk mencium bibir Ying Ying.
Wei Bu Yi menangkupkan kedua tangannya ke wajah Ying Ying. Ying Ying pun melakukan hal yang sama.
Wei Bu Yi mencoba menyentuh kening Ying Ying, Ying Ying meniru dengan menyentuh kening Wei Bu Yi sambil tertawa kecil.
Satu dugaan muncul di pikiran Wei Bu Yi yaitu Ying Ying mabuk. Wei Bu Yi masih mengingat jelas pengakuan Ying Ying bahwa Ying Ying belum pernah minum arak.
Wei Bu Yi tidak menyangka satu cangkir arak bisa membuat Ying Ying mabuk dengan cepat.
Ying Ying merasakan kepalanya sangat pusing sehingga menggerakkan tubuhnya beberapa kali untuk mencari posisi ternyaman dan berakhir dengan sandaran kepala di dada Wei Bu Yi disertai pelukan di pinggang Wei Bu Yi.
Wei Bu Yi menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Satu kecupan singkat mendarat di puncak kepala Ying Ying.
"Ying Ying! Aku bawa kamu ke tempat tidur untuk beristirahat!"
Wei Bu Yi menggendong Ying Ying menuju tempat tidur. Sepasang mata tajamnya menatap sekilas kain sutra putih di atas seprai merah, lalu menatap gadis muda di pelukannya yang sudah tertidur pulas.
"Rubah kecil! Aku melarangmu minum arak lagi!" kata Wei Bu Yi.
Walaupun ucapan Wei Bu Yi terkesan tegas, tetapi sepasang matanya menatap lembut Ying Ying, bahkan sudut bibirnya terangkat sedikit.
Wei Bu Yi naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan posisi menghadap ke arah tubuh Ying Ying. Tangan kanannya membelai kepala, rambut, dan wajah Ying Ying dengan lembut, sedangkan sepasang matanya menatap wajah Ying Ying tanpa berkedip.
"Bu Yi!"
Suara panggilan kecil dari mulut Ying Ying membuat Wei Bu Yi menghentikan gerakan tangannya, lalu mendekatkan tubuhnya.
"Iya, Ying Ying!"
Tidak ada suara sahutan dari Ying Ying menandakan gadis muda itu mengigau dan memanggil nama Wei Bu Yi.
Perasaan hangat menyebar di seluruh tubuh Wei Bu Yi. Wei Bu Yi memeluk tubuh Ying Ying dan memberikan satu kecupan singkat di bibir Ying Ying, lalu menyandarkan kepala Ying Ying di dadanya.
Tangan Ying Ying memeluk pinggang Wei Bu Yi secara refleks sehingga membuat Wei Bu Yi menundukkan kepala dan mengecup puncak kepala Ying Ying dalam waktu yang lama.
"Selamat tidur, Wang Fei ku!" ucap Wei Bu Yi dan memejamkan kedua matanya untuk menyusul Ying Ying ke dalam dunia mimpi yang indah.
***
Selamat malam readers.Bab ini up pukul 22.15 wita dan dua ribu kata (setara 2 bab)
Semoga readers suka scene unyu+ sweet Bu Yi dan Ying Ying. Gak ada belah duren 😂😂
Nasib Chang Ru di bab besok ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE