
Bai Lu memerintahkan pelayan pria itu memeriksa mayat Chen Chen dan kedua pengemis untuk memastikan mereka bertiga benar-benar sudah mati.
"Bawa mayat mereka ke pejabat pengadilan dan melaporkan kedua pria ini menyusup ke Kediaman Jenderal Li Jin untuk melakukan hubungan terlarang dengan Chen Chen sehingga tertangkap basah dan dihukum mati!" perintah Bai Lu.
"Baik, Nyonya muda!"
Beberapa pelayan pria bergegas mengambil tiga tandu, lalu mengangkat ketiga mayat itu menuju tempat kerja pejabat pengadilan.
"Ying Ying! Kepala pejabat pengadilan, Hakim Song adalah teman baik ayah!" kata roh Li Chang Le.
"Bai Lu memang wanita ular yang licik dan penuh perhitungan! Hakim Song pasti tidak akan mengusut kematian mereka bertiga karena memberi muka ke Tuan besar," batin Ying Ying.
Walaupun Bai Lu sudah memperhitungkan setiap langkah dengan teliti untuk menghilangkan setiap bukti yang mengarah ke Chang Ru, Ying Ying tetap tenang karena Run Yu sudah menerima perintah darinya semalam.
Ying Ying yakin kejutan besar yang dipersiapkan untuk Chang Ru dan Bai Lu akan tiba dalam waktu dekat.
Ketika Bai Lu meninggalkan ruangan musik menuju kamar Chang Ru, Ying Ying mengikutinya dari belakang dengan santai.
Bai Lu menghentikan langkah kaki dan menoleh ke belakang. Sepasang matanya menatap tajam Ying Ying. Bai Lu berusaha keras menahan diri untuk tidak menampar Ying Ying, yang menyebabkan Chang Ru menderita.
"Ada apa Chang Le?" tanya Bai Lu dengan ketus.
"Aku ingin memanggil Dayang Fu untuk memeriksa tubuh Chang Ru dan melaporkan hasilnya ke Kaisar Wei!" jawab Ying Ying sambil tersenyum.
Wajah Bai Lu pucat seketika mendengar perkataan Ying Ying. Hampir saja Bai Lu melupakan bahwa di tangannya tidak ada sesuatu yang berharga untuk dijadikan ancaman terhadap Li Chang Le agar tutup mulut mengenai kejadian yang menimpa Chang Ru.
Li Chang Le bukanlah para pelayan yang bisa diintimidasi dan diancam olehnya. Apalagi sekarang Li Chang Le sudah sembuh dan normal seperti gadis muda lainnya.
"Ikut aku ke kamar!" ujar Bai Lu.
"Baiklah!"
__ADS_1
***Kamar Bai Lu***
Bai Lu yakin jebakan yang dipersiapkan oleh Chang Ru ketahuan oleh Chang Le sehingga Chang Le membalasnya.
Oleh karena itu, Bai Lu berusaha membujuk Chang Le agar memaafkan Chang Ru dan tidak menyebarkan kejadian tadi.
"Chang Le! Chang Ru masih kecil dan pastinya tidak sengaja melakukan kesalahan untuk menjebakmu. Kamu sebagai kakak Chang Ru seharusnya melindungi Chang Ru dan menjaga reputasi nama baiknya. Chen Chen yang berhubungan mesra dengan kedua pria itu, bukan Chang Ru!"
"Dayang Fu akan memeriksa tubuh Chang Ru dengan saksama dan membersihkan nama baiknya," balas Ying Ying.
"Lusa ayahmu akan pulang. Kamu pasti tidak mau melihat ayahmu dipermalukan bukan?"
"Jika Ratu Wen dan Putra mahkota mengetahui kebenaran tentang Chang Ru, apakah kamu yakin ayah tidak akan dipermalukan?"
Sebenarnya Chang Ru bisa menjadi putri mahkota atau tidak, Ying Ying tidak peduli. Wei Wu Xian juga bukan orang baik dan menginginkan kematian Chang Le. Ying Ying menginginkan sesuatu dari Bai Lu sehingga sengaja mempersulit Bai Lu saat ini.
"Jika kamu berjanji tidak menyebarkannya, maka Chang Ru pasti bisa menjadi putri mahkota. Mengenai Ratu Wen dan putra mahkota, kamu tidak perlu ikut campur!"
"Sialan! Apa yang diinginkan Chang Le?" batin Bai Lu.
Meskipun Bai Lu berfirasat permintaan Chang Le akan merugikan dirinya, tetapi Bai Lu tidak ada jalan lain lagi dan tidak bisa menolak.
Ancaman Ying Ying memang terdengar seperti gertakan dari gadis muda saja, tetapi Bai Lu sangat takut Dayang Fu benar-benar datang dan memeriksa tubuh Chang Ru.
Jika hal itu terjadi, maka bisa dipastikan masa depan Chang Ru akan hancur. Chang Ru bukan hanya batal menjadi putri mahkota, bahkan putra pejabat lainnya pun tidak ada yang mau memperistri Chang Ru.
"Aku akan kabulkan semua permintaanmu!"
"Baguslah! Aku tidak akan minta yang aneh-aneh. Aku hanya ingin mengambil semua mahar nikah milik ibuku!" jawab Ying Ying.
Di Kerajaan Wei, ketika seorang anak gadis menikah, maka akan membawa serta mahar nikah milik ibunya agar anak gadis itu tidak dipandang rendah oleh keluarga besar pria karena memiliki harta kekayaan sendiri.
__ADS_1
Ketika Ling Qi, ibu kandung Li Chang Le meninggal, mahar nikah miliknya dititipkan oleh Jenderal Li Jin ke Bai Lu untuk diurus dan akan diberikan ke Chang Le saat Chang Le menikah setelah dewasa nanti.
"Jangan khawatir. Saat kamu menikah nanti, mahar nikah milik Kak Ling Qi pasti akan aku serahkan" jawab Bai Lu dengan cepat.
Ying Ying tersenyum samar, lalu mengeluarkan satu lembar kertas dan memperlihatkannya ke Bai Lu.
Wajah Bai Lu memucat seketika saat membaca isi kertas itu. Bai Lu ingin merebutnya, tetapi gerakan tangan Ying Ying lebih cepat sehingga Bai Lu tidak berhasil mengambil kertas itu.
"Ketika ibu sakit keras, ibu memberikan catatan ini yang berisi semua mahar nikah miliknya. Rumah, tanah, toko dan juga perhiasan. Aku yakin kamu juga memegang satu lembar catatan yang sama."
"Sialan! Tidak kusangka Ling Qi membuat salinan mahar nikahnya dan memberikannya ke Chang Le kecil," batin Bai Lu.
Tentu saja Ying Ying mengetahui tentang mahar nikah dari roh Li Chang Le saat mereka mengobrol semalaman.
Ying Ying tahu Bai Lu ingin berbuat curang dengan menjadikan sebagian besar mahar nikah milik Chang Le menjadi milik Chang Ru.
"Batas waktu sampai malam ini! Semua mahar nikah harus diantar ke kamarku! Jika tidak, besok pagi Dayang Fu akan datang memeriksa Chang Ru!" ucap Ying Ying sambil tersenyum lebar dan berjalan keluar dari kamar Bai Lu.
Bai Lu hanya bisa mengepalkan erat kedua tangannya sambil menatap punggung Ying Ying, yang sudah menjauh dari pandangannya.
"Kenapa sikap Chang Le berubah semuanya saat sudah sembuh?" batin Bai Lu.
Bai Lu dalam keadaan dilema saat ini. Padahal rencananya semalam adalah menjual beberapa perhiasan dari mahar nikah milik Ling Qi untuk membayar hutang judi Li Teng, tetapi perhiasan itu tidak bisa disentuhnya sekarang.
***
TERIMA KASIH DUKUNGANNYA READERS.
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1