
***Aula istana***
Kaisar Wei mengepalkan erat kedua tangannya dan menatap satu persatu orang-orang yang berkumpul di belakang Ratu Wen.
Senyum penuh kemenangan di sudut bibir Ratu Wen membuat Ying Ying mendapatkan rencana untuk mengerjainya
"Ratu Wen! Kamu ingin melakukan kudeta?" tanya Ying Ying.
"Benar!" jawab Ratu Wen tanpa ragu.
"Ratu Wen! Kamu sudah gila!" ujar Kaisar Wei dengan ketus.
Kaisar Wei tidak menyangka ambisi Ratu Wen sangat besar dan berani melakukan semua kejahatan kejam agar tujuannya tercapai.
Ratu Wen tidak tersinggung dengan perkataan Kaisar Wei, melainkan mengambil pedang dari tangan Yang Jian.
"Ibunda!"
Wei Wu Xian mengira Ratu Wen ingin melukai Kaisar Wei sehingga mencoba mencegah Ratu Wen.
"Aku tidak akan melukai Kaisar Wei sekarang!" ucap Ratu Wen.
Ratu Wen berjalan mendekati tandu yang berada tidak jauh darinya. Kasim Ma masih terbaring lemah di atas tandu, tetapi sepasang mata tajamnya tetap menatap penuh kebencian ke Ratu Wen.
"Kasim Ma! Kali ini kamu pasti mati di tanganku! Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu lagi! Pergilah menyusul Putri Tang Yan!"
Bersamaan dengan itu, pedang di tangan Ratu Wen sudah menemb*s dada Kasim Ma.
Ratu Wen membuang pedang di tangannya ke lantai, lalu menatap ke arah Kaisar Wei.
"Kaisar Wei! Aku perintahkan kamu menulis Dekrit Kaisar untuk menobatkan Wu Xian sebagai Kaisar Kerajaan Wei sekarang juga untuk menggantikanmu yang sedang sakit keras!"
Wei Wu Xian masih menjadi putra mahkota di mata rakyat Kerajaan Wei sehingga kabar Wei Wu Xian naik takhta menggantikan Kaisar Wei yang sedang sakit keras sangatlah masuk akal.
Sementara mengenai kudeta hari ini akan menjadi rahasia besar yang tersimpan rapat selamanya. Ratu Wen tidak mau terjadi pemberontakan dari rakyat jika mereka mengetahui tentang kudeta hari ini.
"Ratu Wen! Kamu kira semua prajurit yang kamu miliki saat ini mampu mempertahankan Wei Wu Xian sebagai Kaisar Wei dalam waktu yang lama?" tanya Wei Bu Yi dengan wajah dingin tanpa ekpresi.
"Tentu saja tidak! Tetapi aku memiliki token pasukan milikmu, Wei Bu Yi!"
Ratu Wen mengangkat tangannya yang memegang token pasukan palsu ke atas sehingga semua orang di dalam aula istana bisa melihatnya dengan jelas.
Wajah terkejut Kaisar Wei dan wajah kebingungan Wei Bu Yi membuat Ratu Wen tertawa terbahak-bahak.
"Wei Bu Yi! Wei Bu Yi! Wang Fei tercinta mu yang menyerahkan token pasukan ini kepadaku! Kamu sudah dikhianati olehnya!"
"Chang Le! Benarkah apa yang dikatakan Ratu Wen?" tanya Wei Bu Yi sambil menatap Ying Ying.
"Bu Yi! Aku…aku…!"
Jawaban terbata-bata dari Ying Ying membuat Ratu Wen semakin yakin Wei Bu Yi mempercayai provokasinya.
Ratu Wen sengaja mengatakan Chang Le alias Ying Ying adalah komplotannya. Dengan demikian, Kaisar Wei dan Wei Bu Yi akan mencurigai Jenderal Li Jin sehingga pasukan Jenderal Li Jin bisa menjadi milik Ratu Wen.
"Ratu Wen! Benarkah token pasukan ditanganmu adalah token pasukan milik Wei Bu Yi?" tanya Ying Ying sambil menunjuk genggaman tangan kanan Ratu Wen.
"Tentu saja itu token asli! Aku sudah menggunakannya untuk mengirim pasukan Pangeran Wei Bu Yi pergi ke kota lain!" sela Yang Jian.
Yang Jian ingin membuktikan kehebatannya mempermainkan pasukan Wei Bu Yi kemarin.
"Kamu pasti berbohong! Pasukan Bu Yi masih di ibukota!" ucap Ying Ying.
__ADS_1
"Kamu polos dan bodoh sekali! Pantas saja Ratu Wen bisa menipumu dengan mudah!" kata Yang Jian.
Perkataan spontan Yang Jian mendapatkan tatapan tajam dari Ratu Wen dan Yang Kun sehingga Yang Jian menundukkan kepala dengan cepat karena sadar dirinya salah bicara dan menyinggung Ratu Wen.
"Ratu Wen jangan memfitnahku! Aku tidak pernah memberikan token pasukan Bu Yi!" ucap Ying Ying dengan sungguh-sungguh.
"Pengawasan di Kediaman Wei Bu Yi sangat ketat. Jika bukan kamu, siapa yang bisa leluasa mengambil token pasukan ini?" tanya Ratu Wen sambil membuka telapak tangannya untuk memperlihatkan token pasukan Wei Bu Yi.
Mata Ratu Wen membulat besar menatap batu biasa seukuran token pasukan di atas telapak tangannya. Rasa keterkejutan Ratu Wen membuatnya lengah sehingga Ying Ying berhasil mengambil batu biasa itu dari telapak tangan Ratu Wen dengan cepat.
"Ratu Wen pasti sudah pikun sehingga menganggap batu biasa ini sebagai token pasukan Bu Yi. Yang Jian, bagaimana mungkin kamu memakai batu ini untuk mengirim pasukan Bu Yi ke kota lain?"
Pernyataan Ying Ying membuat Jenderal Li Jin, Li Ming, dan beberapa orang tertawa kecil. Wajah Ratu Wen dan Yang Jian memerah karena malu.
"Li Chang Le! Di mana token pasukan yang asli?" tanya Ratu Wen sambil menggertakkan gigi.
"Token pasukan ku pastilah berada di tanganku!"
Wei Bu Yi mengangkat tinggi-tinggi token pasukan di tangannya. Ratu Wen berjalan mundur beberapa langkah. Ratu Wen berusaha menekan kegelisahan hatinya.
"Kaisar Wei! Cepat tulis Dekrit Kaisar sekarang juga! Jika tidak, satu persatu putri dan pangeran kecilmu akan ku bunuh!" ancam Ratu Wen.
Ratu Wen mengira dirinya masih memiliki kesempatan sebelum pasukan Wei Bu Yi tiba di aula istana, tetapi harapan Ratu Wen hilang seketika karena mendengar suara pertarungan di luar aula istana.
Suara pertarungan sengit di luar aula membuat Wei Bu Yi menghunuskan pedangnya dan melawan para prajurit bawahan Ratu Wen yang mengepung di dalam aula istana.
Xu Feng, Jenderal Li Jin, Li Ming, Jenderal Liu Bei dan beberapa Jenderal lainnya ikut terjun ke dalam pertarungan. Sementara Ying Ying berdiri di samping Kaisar Wei untuk melindungi keselamatan Kaisar Wei.
Dalam waktu yang singkat, Kasim Da Duo dan Run Yu menyerbu masuk ke dalam aula istana bersama pasukan Wei Bu Yi.
Bala bantuan dari pasukan Wei Bu Yi membuat semua prajurit bawahan Ratu Wen berhasil dikalahkan dengan cepat. Xu Feng dan para prajurit pilihannya menangkap Ratu Wen dan komplotannya, termasuk Wei Wu Xian dan Yang Zi juga ditangkap.
"Kaisar Wei! Semua prajurit pemberontak berhasil dikalahkan!" lapor Kasim Da Duo.
"Kaisar Wei!;Semua pangeran dan putri berhasil diselamatkan!" lapor Run Yu.
Laporan Kasim Da Duo dan Run Yu membuat Kaisar Wei dan semua orang yang berada di aula istana menarik napas lega bersamaan.
"Bu Yi! Kamu berjasa besar menyelamatkan Kerajaan Wei dari kehancuran!" puji Kaisar Wei.
Pujian Kaisar Wei terhadap Wei Bu Yi membuat Wei Wu Xian semakin menundukkan kepalanya. Kali ini Wei Wu Xian tidak merasa iri terhadap Wei Bu Yi, melainkan kagum dengan kehebatan Wei Bu Yi.
Jika saja dirinya sendiri berada dalam posisi Wei Bu Yi dan menghadapi pemberontakam secara tiba-tiba, Wei Wu Xian yakin dirinya akan menyerahkan takhta miliknya demi mempertahankan nyawanya sendiri.
"Kaisar Wei! Aku yang merencanakan kudeta hari ini bersama Yang Kun dan lainnya. Wu Xian sama sekali tidak terlibat!" ucap Ratu Wen.
Kekalahan telak ini membuat Ratu Wen yakin nyawanya sudah diujung tanduk, tetapi Ratu Wen tidak ingin Wei Wu Xian ikut mati bersamanya.
Kaisar Wei mempercayai perkataan Ratu Wen sehingga tidak memberikan hukuman mati ke Wei Wu Xian.
"Wei Wu Xian bukan lagi putra mahkota maupun Pangeran Kerajaan Wei! Wei Wu Xian menjadi rakyat biasa dan diusir keluar dari istana!' kata Kaisar Wei setelah mempertimbangan keputusannya dengan baik."
"Perdana menteri Yang Kun, Yang Jian dan beberapa pejabat lainnya akan dihukum panc*ng di aula ibukota. Keluarga besar mereka semua dijual sebagai budak!" lanjut Kaisar Wei.
"Ampun Kaisar Wei! Ampun!"
Yang Kun, Yang Jian, Yang Zi, dan beberapa pejabat itu berlutut di depan Kaisar Wei untuk memohon pengampunan.
Xu Feng dan beberapa prajurit menarik rombongan Yang Kun keluar dari aula Istana. Mereka akan dikurung ke dalam penjara ibukota terlebih dahulu hingga tiba saat eksekusi nantinya.
Rombongan Yang Kun berusaha melepaskan diri dengan cara meronta-ronta. Mereka tidak mau dibawa keluar dari aula istana sebelum mendapatkan pengampunan dari Kaisar Wei.
__ADS_1
Dalam suasana kacau itu, Ying Ying melihat Wei Wu Xian mengambil salah satu pedang dari sarung pedang prajurit yang sedang menarik rombongan Yang Kun.
Ying Ying mengira Wei Wu Xian ingin menyerang Wei Bu Yi sehingga mengumpulkan kekuatan sihir di jari telunjuknya untuk menggagalkan niat Wei Wu Xian.
Kali ini dugaan Ying Ying meleset. Pedang itu menemb*s dada Wei Wu Xian sendiri sehingga suara jeritan Ratu Wen menggema di aula istana.
Ratu Wen bersimpuh di hadapan tubuh Wei Wu Xian yang terbaring di lantai. Tangannya memegang wajah pucat Wei Wu Xian. Napas Wei Wu Xian mulai melemah sehingga Ratu Wen menangis tersedu-sedu.
"Wu Xian! Kenapa kamu memilih untuk mati?" tanya Ratu Wen.
"I…ibunda! A…aku bukan siapa-siapa lagi jika tidak menjadi putra mahkota," jawab Wei Wu Xian dengan suara kecil.
"Wu Xian! Wu Xian!"
Sekali lagi teriakan Ratu Wen menggema di dalam aula istana ketika Wei Wu Xian menghembuskan napas terakhir.
Sepasang mata Kaisar Wei berkaca-kaca melihat kematian Wei Wu Xian. Sementara Wei Bu Yi merangkul pundak Ying Ying dengan erat. Mereka berdua sangat terkejut dengan pilihan Wei Wu Xian untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Xu Feng dan para pengawal membawa rombongan Yang Kun keluar. Kali ini rombongan Yang Kun tidak melawan lagi. Hanya Yang Zi seorang saja yang menangis tersedu-sedu karena kematian Wei Wu Xian.
Kaisar Wei membiarkan Ratu Wen memeluk tubuh Wei Wu Xian yang sudah kaku.
"Wu Xian! Semua salah ku! Aku yang memaksamu bunuh diri!" batin Ratu Wen.
Ratu Wen mencabut pedang di dada Wei Wu Xian dan meni*am dadanya sendiri. Semuanya terjadi dengan cepat sehingga tidak ada yang bisa mencegahnya.
"Ratu Wen!" teriak Kaisar Wei.
Memang benar Ratu Wen akan mendapatkan hukuman mati dari Kaisar Wei, tetapi kematian Ratu Wen menyusul Wei Wu Xian membuat semua orang yang berada di aula istana merasa sangat terkejut dan tidak berani mempercayainya.
Dalam satu hari, tepatnya di hari perayaan ulang tahun Kaisar Wei, Ratu Wen dan Wei Wu Xian mati bersama.
Kaisar Wei mengumumkan kematian Ratu Wen dan Wei Wu Xian diakibatkan pemberontakan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Yang Kun dan beberapa pejabat istana.
Ratu Wen dan Wei Wu Xian dimakamkan secara sederhana. Tentu saja papan nama mereka berdua tidak mendapatkan tempat di kuil Kerajaan Wei.
Ketika Kaisar Wei mengemukakan keinginannya untuk menjadikan Wei Bu Yi sebagai putra mahkota, Wei Bu Yi menolaknya.
Wei Bu Yi lebih memilih menghabiskan setiap waktu berharganya bersama Ying Ying sehingga Wei Bu Yi meminta izin ke Kaisar Wei untuk meninggalkan ibukota bersama Ying Ying selama beberapa tahun.
Wei Bu Yi ingin membawa Ying Ying berkelana ke seluruh kota-kota yang merupakan bagian dari Kerajaan Wei.
Kaisar Wei mengabulkan keinginan Wei Bu Yi dengan berat hati. Mengenai posisi putra mahkota akan dipikirkan saat Wei Bu Yi dan Ying Ying pulang nantinya.
Mulai saat itulah, Wei Bu Yi dan Ying Ying berkelana dari satu kota ke kota yang lain. Kasim Da Duo, Kasim Xiao Duo, dan Tan Xiang turut serta dalam petualangan mereka.
Wei Bu Yi dan Ying Ying melewati setiap hari kebersamaan mereka dengan bahagia.
***T A M A T***
Ta da ... finally novel REVENGE OF FOX CONSORT tamat. Semoga readers menyukai endingnya. Bab ini 2000 kata dan di up pukul 22.50 wita.
Don't worry. Nanti ada satu bonchap berisi anak Bu Yi dan Ying Ying. Bonchapnya nyusul beberapa hari lagi ya, pas author ga sibuk 😂😂🙏
Terima kasih semua dukungan readers tercinta selama ini baik berupa vote, like, hadiah, tips iklan, dan komentar positifnya.
Author mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan kata dalam cerita. Author sudah berusaha memberikan yang terbaik. Sebagai manusia, tidak ada yang sempurna sehingga dimaafkan aja ya kesalahan-kesalahan kecil 😁🙏
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1