
Wei Bu Yi dan Ying Ying tidak pulang ke Kediaman setelah keluar dari Istana Kaisar Wei. Mereka berdua menuju kuburan Feng Xi.
Feng Xi sudah dikuburkan dengan layak oleh prajurit Jenderal Liu Bei di tempat kuburan khusus untuk para leluhur maupun keturunan dari Jenderal Li Jin karena Feng Xi merupakan anak angkat Jenderal Li Jin.
Kalung bandul yang selama ini dipakai oleh Ying Ying juga dikuburkan bersama Feng Xi. Kalung bandul lonceng mewakili Li Chang Le karena saat mati tenggelam, roh Li Chang Le masuk ke dalam kalung bandul lonceng itu.
Selain itu Wei Bu Yi sudah mengirim surat merpati ke Kasim Da Duo untuk mengabarkan kematian Feng Xi agar Kasim Da Duo bisa memberitahukan Hal itu ke Jenderal Li Jin dan Li Ming.
Ying Ying menatap batu nisan bertulisan nama Feng Xi, lalu menggunakan kekuatan sihir untuk menambahkan tulisan nama Li Chang Le di batu nisan yang sama.
Tulisan itu transparan sehingga tidak bisa dilihat oleh siapa pun.
"Kak Feng Xi! Walaupun kamu tidak berniat balas dendam, aku berjanji akan membuat Kaisar Tang dan Ratu Tang hidup menderita!" ucap Ying Ying.
Kedua penguasa Kerajaan Tang tersebut yang menyebabkan kematian Feng Xi. Padahal Feng Xi sudah hidup dengan tenang dan damai di Kerajaan Wei selama ini.
Feng Xi mendapatkan kasih sayang ayah yang melimpah dari Jenderal Li Jin. Feng Xi juga mendapatkan saudara yang baik yaitu Li Ming. Li Ming puluhan kali lipat lebih baik dibandingkan semua saudara tiri Feng Xi di Kerajaan Tang Selatan.
Pangeran Tang Jin dan Putri Tang Yan adalah dua contoh yang paling tepat untuk mencerminkan hubungan para putra dan putri Kaisar Tang.
Oleh karena itu, Ying Ying berencana membalas dendam dengan cara mengadu domba Kaisar Tang dan Ratu Tang.
"Bu Yi! Ayo kita ke penjara ibukota sekarang!"
Wei Bu Yi tahu Ying Ying ingin menemui Pangeran Tang Jin. Wei Bu Yi menjawab dengan anggukkan kepala dan menggandeng tangan Ying Ying meninggalkan kuburan Feng Xi. Mereka berdua naik ke atas punggung kuda dan berangkat menuju penjara ibukota.
***Penjara ibukota***
Suara kunci sel penjara yang dibuka membuat Pangeran Tang Jin berusaha menajamkan pendengarannya.
__ADS_1
Penampilan Pangeran Tang Jin sangat menyedihkan. Rambut berantakan, pakaiannya penuh dengan noda darah bercampur tanah, sepasang mata yang buta, dan juga hanya tersisa tangan kiri saja di tubuhnya.
"Pangeran Tang Jin! Kelihatannya kamu sangat cocok tinggal di rumah baru ini!" ucap Ying Ying sambil tertawa kecil.
Suara tertawa Ying Ying sangat enak didengar, tetapi Pangeran Tang Jin sangat membencinya. Dalam keadaan buta dan tidak bisa melihat apapun, suara tawa itu membuat sosok bayangan Ying Ying muncul di pikiran Pangeran Tang Jin dalam wujud iblis wanita yang kejam.
"Dasar ja*ang! Kaisar Tang dan Ratu Tang akan membalas dendam untukku! Kamu akan mati mengenaskan!"
PLAK!
PLAK!
Dua tamparan mendarat di wajah Pangeran Tang Jin sehingga tubuh Pangeran Tang Jin terjungkal ke belakang.
"Kamu sangat naif, Pangeran Tang Jin! Kamu kira bisa pulang ke Kerajaan Tang Selatan dengan mudah setelah melakukan kejahatan di Kerajaan Wei?" tanya Ying Ying.
"Ayahanda memang tidak menyukai peperangan karena tidak mau melihat rakyat menderita akibat perang, tetapi kalian lah yang mengingkari perjanjian kerjasama dan ingin menculik Chang Le! Mungkin kamu akan dilepaskan saat Kaisar Tang memberikan kompensasi," ujar Wei Bu Yi.
"Komā¦kompensasi apa?" tanya Pangeran Tang Jin terbata-bata.
"Ayahanda adalah Kaisar yang bijaksana sehingga hanya meminta Kota Shenyang untuk ditukar dengan nyawamu. Ketika Kaisar Tang menyerahkan Kota Shenyang, maka pada saat itulah kamu bisa pulang," jawab Ying Ying.
Kota Shenyang merupakan salah satu kota Kerajaan Tang Selatan yang paling subur sehingga banyak rakyat tinggal di sana.
"Kaisar Wei sangat licik! Mengambil kesempatan untuk merebut kota Kerajaan Tang Selatan!" teriak Pangeran Tang Jin.
"Kaisar Tang memberikan satu kota saja dan bisa membebaskanmu dari penjara. Kenapa Pangeran Tang Jin marah? Apakah karena Kota Shenyang lebih berharga dibandingkan nyawamu?" tanya Ying Ying.
Pertanyaan Ying Ying bagaikan jarum panjang yang menu*uk hati Pangeran Tang Jin. Pangeran Tang Jin hanya bisa terdiam karena enggan mengakui nyawanya sangat tidak berharga.
__ADS_1
"Ayahanda dan ibunda tidak akan menyelamatkanku!ku tidak boleh mati di sini! Apa yang harus kulakukan?" batin Pangeran Tang Jin.
Pangeran Tang Jin yang semula masih penuh dengan harapan bisa bebas dari penjara dan pulang ke Kerajaan Tang Selatan, sekarang menjadi putus asa setelah mendengar semua perkataan Ying Ying.
Pangeran Tang Yan tahu pasti Kaisar Tang tidak mungkin bersedia menukarkan Kota Shenyang dengan dirinya, sedangkan Ratu Tang hanya menjadikannya sebagai bidak catur.
Ketika sebuah bidak catur tidak berguna lagi, maka Ratu Tang akan menyingkirkannya tanpa ragu dan menggantinya dengan bidak catur yang baru.
Wei Bu Yi dan Ying Ying meninggalkan penjara ibukota menuju Kediaman.
Ying Ying meminta Tan Xiang dan Wan Wan untuk mengemasi semua perlengkapan yang akan dibawanya ke Kota Chang An, sedangkan Wei Bu Yi berangkat lagi ke Istana Timur untuk mencari tahu hasil penyelidikan Jenderal Liu Bei.
Ying Ying memutuskan membawa satu pelayan pribadi saja untuk melayaninya selama tinggal di Kota Chang An. Tan Xiang menjadi pilihan Ying Ying.
Tan Xiang memiliki senjata spiritual hadiah dari Ying Ying sehingga bisa membantu dalam peperangan melawan pasukan Kerajaan Wu Barat.
***
Selamat malam readers. Bab ini up pukul 21.35 wita. Semoga lancar ya.
Author mau minta izin besok ga up satu hari karena paginya ada acara family day di sekolah anak, malamnya graduation anak. Takutnya ga ada waktu untuk ketik š¤£š¤£.
Cerita lanjut up hari minggu.
TERIMA KASIH PENGERTIANNYA
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1