REVENGE OF FOX CONSORT

REVENGE OF FOX CONSORT
BAB 49. Sihir transfigurasi


__ADS_3

***Kediaman Jenderal Li Jin***


Ying Ying,Tan Xiang, dan roh Li Chang Le menuju kamar Li Chang Ru setelah keluar dari ruangan musik untuk menjalankan rencana mengelabui Bai Lu.


Ying Ying menggunakan sihir ilusi sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka masuk ke dalam kamar Chang Ru.


Sewaktu mereka berada di dalam kamar, Ying Ying mengeluarkan dua patung tanah liat dari cincin ajaib, lalu melilitkan sehelai rambut Chang Ru dan sehelai rambut Chen Chen ke tubuh kedua patung tanah liat.


Kedua helai rambut itu didapatkan oleh Ying Ying di ruang musik tadi.


Ying Ying meletakkan kedua patung tanah liat di atas tempat tidur. Kemudian jari telunjuk dan jari tengah Ying Ying secara bersamaan diarahkan ke tempat tidur.


Dalam waktu singkat, kedua patung tanah liat berubah wujud menjadi Chang Ru dan Chen Chen karena kekuatan sihir transfigurasi.


"Chen Chen!"


"Iya, Kak Tan Xiang!" jawab Chen Chen jelmaan dari patung tanah liat.


Tan Xiang menyadari suara serta tingkah laku Chen Chen palsu dari patung tanah liat itu sama persis dengan Chen Chen asli.


"Bai Lu dan Chang Ru sama-sama licik, tetapi Bai Lu lebih pintar dan berpengalaman dibandingkan Chang Ru. Walaupun mereka berdua hasil dari sihir ku, tetapi adanya rambut Chang Ru dan Chen Chen membuat kedua patung tanah liat berubah menjadi sama persis dengan yang asli. Bai Lu pasti tidak akan menyadarinya," jelas Ying Ying panjang lebar.


"Nona Chang Le sangat pintar!" puji Tan Xiang.


"Ayo kita pulang ke kamar dan beristirahat. Besok pagi masih ada pertunjukkan menarik!"


"Baik,Nona Chang Le!"


***


Malam hari kereta kuda yang dipakai Bai Lu untuk keluar, tiba di Kediaman Jenderal Li Jin. Bai Lu turun dari kereta kuda bersama Li Teng.


A Niu dan A Lim yang berjaga di depan pintu masuk, segera berlari menghampiri Bai Lu dan membantu memapah Li Teng karena Li Teng berjalan sempoyongan.


Terlihat jelas wajah Li Teng muram, lesu, dan juga ada kantong mata serta lingkaran hitam. A Niu dan A Lim menebak di dalam hati kecil mereka bahwa Li Teng pastilah tidak tidur semalaman.


Tebakan mereka berdua sangatlah tepat. Semalam Li Teng berada di tempat judi dan berjudi semalaman bersama Yang Jian. Pada awalnya Li Teng menang di setiap permainan sehingga pria muda itu menjadi ketagihan dan tidak berniat untuk pulang.


Oleh karena itu, Li Teng menambah uang taruhan menjadi lebih banyak. Akan tetapi, keberuntungan Li Teng sudah habis dan berganti menjadi kesialan yang beruntun sehingga Li Teng kalah terus menerus.


Yang Jian bukannya mencegah Li Teng untuk berjudi lagi, melainkan memperkenalkan Li Teng dengan rentenir yang bertugas di tempat judi untuk meminjam uang.


Ketika Bai Lu menemukan Li Teng setelah membeli air embun dari Pendeta Tao di Klenteng, hampir saja Bai Lu pingsan karena terpukul dengan kenyataan bahwa Li Teng berhutang uang dalam jumlah yang banyak sehingga Li Teng tidak diperbolehkan pulang sebelum melunasi semua hutangnya.


Sementara Yang Jian tidak berada di tempat judi lagi. Li Teng memberitahukan Bai Lu bahwa Yang Jian pergi untuk membantunya mencari pinjaman uang.


Bai Lu berfirasat Yang Jian sengaja menjebak Li Teng, tetapi Bai Lu tidak bisa mencari pertanggungjawaban dari Yang Jian karena memang Li Teng sendirilah yang suka berjudi.


Pada akhirnya Bai Lu membayar sebagian hutang Li Teng dan berjanji akan kembali esok hari untuk melunasi sisa hutang Li Teng.


Rentenir mempercayai ucapan Bai Lu dan mengancam jika Bai Lu tidak membayar sisa hutang, maka mereka akan menagihnya ke Kediaman Jenderal Li Jin.

__ADS_1


"A Niu! A Lim! Antar Tuan muda Li Teng ke kamarnya!"


"Baik, Nyonya muda!" jawab A Niu dan A Lim bersamaan.


Bai Lu menuju kamar Chang Ru untuk memberikan air embun. Chang Ru palsu menerima botol air embun dengan senang dan segera membuka cadar untuk mengolesi bengkak di pipinya.


Bai Lu yakin wajah Chang Ru akan mulus dan cantik seperti semula setelah memakai air embun selama dua hari.


Bai Lu berada di dalam kamar Chang Ru selama sepuluh menitan sebelum ke kamarnya untuk istirahat. Sesuai perkiraan Ying Ying, Bai Lu sama sekali tidak menyadari Chang Ru dan Chen Chen yang ditemuinya hanyalah jelmaan dari patung tanah liat.


***


Pagi hari Bai Lu terbangun oleh suara ketukan pintu dari luar.


"Nyonya muda!"


"Masuklah!"


A Ling membuka pintu kamar dan berjalan menghampiri Bai Lu. Bai Lu sudah bersandar di tempat tidur sambil menatap tajam A Ling.


"Ada apa pagi-pagi membangunkanku?"


"Maaf, Nyonya muda! Kemarin Nona Chang Ru meminta hamba untuk membangunkan Nyonya muda pagi ini jika tidak menemukan Nona Chang Le di dalam kamar."


"Chang Le? Ada apa dengan Chang Le?"


"Kemarin Nona Chang Le ke ruangan musik untuk belajar memainkan guzheng dan belum pulang ke kamarnya."


Tadi A Ling sudah pergi ke kamar Chang Le dan tidak menemukan siapapun di sana. Bahkan Tan Xiang pun menghilang.


A Ling tidak menyadari Ying Ying dan Tan Xiang masih berada di dalam kamar. Sihir ilusi dari Ying Ying membuat A Ling tidak dapat melihat mereka berdua.


"Apakah Chang Ru melakukan sesuatu terhadap Chang Le?" batin Bai Lu.


"Di mana Nona Chang Ru?"


"Nona Chang Ru masih tidur di kamarnya," jawab A Ling.


Bai Lu menduga Chang Ru tidak mau keluar dari kamar karena masih mengenakan cadar sehingga memutuskan untuk segera mencari tahu apa yang sedang terjadi.


***


Bai Lu berdiri di depan ruangan musik dan mencoba menguping suara dari dalam, tetapi tidak mendengar suara apapun. A Ling dan beberapa pelayan berdiri di belakang Bai Lu. Bai Lu sengaja membawa beberapa pelayan kepercayaannya.


"Buka pintunya!" perintah Bai Lu.


"Baik, Nyonya muda!" jawab A Ling.


Bai Lu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Sepasang matanya terbelalak saat melihat hanfu robek dan berserakan di atas lantai.


"Ah! Ada pria telan*ang!" teriak A Ling sambil menutup mata dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menunjuk ke arah meja tempat guzheng dan alat musik lainnya.

__ADS_1


"Ada apa? Ada apa?"


Para pelayan di belakang Bai Lu pun ikut masuk ke dalam ruangan dan mengintip dari belakang. Mereka tidak berani maju ke depan sebelum mendapat perintah dari Bai Lu.


Semua alat musik yang semula tersusun rapi di atas meja, berserakan di lantai. Sementara di atas meja terlihat dua pria telan*ang.


Dari sudut pandang rombongan Bai Lu, hanya terlihat punggung kedua pria itu dan di bawah tubuh kedua pria itu terlihat dua pasang kaki wanita berwarna putih mulus.


"Chang Le? Apa yang kamu lakukan?" teriak Bai Lu.


Bai Lu mengetahui pasti apa rencana Chang Ru setelah masuk ke dalam ruangan musik dan melihat isi di dalamnya.


"Nona Chang Le?"


"Itu Nona Chang Le?"


"Nona Chang Le sangat tidak tahu malu!"


"Reputasi Jenderal Li Jin hancur karena Nona Chang Le!"


"Kasihan Pangeran Wei Bu Yi! Belum menikah, sudah diselingkuhi!"


"Siapa yang memanggil namaku dan Pangeran Wei Bu Yi?"


Suara nyaring dan riang dari belakang membuat rombongan Bai Lu menoleh ke sumber suara bersamaan.


Ying Ying dan Tan Xiang berjalan tenang menghampiri rombongan Bai Lu.


"Kenapa Nona Chang Le berada di luar ruangan?" tanya A Ling.


"Aku dan Tan Xiang baru pulang dari pasar setelah membeli kudapan kecil, lalu mendengar namaku di panggil berulang kali sehingga datang menghampiri kalian!" jawab Ying Ying.


Para pelayan melihat beberapa kantong kertas kecil di tangan Tan Xiang sehingga mempercayai perkataan Ying Ying. Tentu saja semua kudapan kecil itu hasil dari sihir Ying Ying.


Sementara Bai Lu memiliki firasat tidak baik saat melihat kemunculan Ying Ying. Bai Lu mengamati sekali lagi sobekan hanfu di lantai.


"Chang Ru!" batin Bai Lu.


***


Selamat malam readers. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya. Bab ini sudah panjang, hampir 1300 kata.


Jangan lupa hari senin waktunya vote ya 🥰🥰


Pasti ada yang nanya, kenapa keributan itu tidak membuat keempat makhluk telan*ang terbangun? 😅😅 jawabannya: karena Ying Ying memakai sihirnya. Enak banget ya bisa sihir? 😁


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2