
***Kediaman Jenderal Li Jin***
Kereta kuda istana yang mengantar Chang Ru dan Ying Ying berhenti di depan Kediaman Jenderal Li Jin.
Chang Ru turun dari kereta kuda sambil memeluk erat kotak perhiasan yang diberikan oleh Ratu Wen. Bai Lu sudah berdiri di pintu masuk untuk menyambut kedatangan Chang Ru.
Sementara Ying Ying turun paling terakhir diikuti oleh roh Li Chang Le dan Tan Xiang. Kotak perhiasan hadiah dari Ratu Wen untuk Ying Ying dipegang oleh Tan Xiang.
Wajah ceria Chang Ru membuat Bai Lu yakin Chang Ru berhasil menjebak Wei Wu Xian. Bai Lu sudah tidak sabar mendengar cerita dari Chang Ru.
"Ibu! Ratu Wen memberiku hadiah perhiasan untuk dipakai di pernikahan nanti!"
"Baguslah! Itu pertanda Ratu Wen sangat menyayangimu!" ujar Bai Lu sambil tersenyum lebar karena tidak ada kotak perhiasan di tangan Ying Ying.
Senyuman lebar Bai Lu menghilang seketika saat melihat Tan Xiang memegang kotak perhiasan yang sama persis dengan kotak perhiasan Chang Ru.
"Ibu! Ratu Wen mengundangku untuk ikut menjemput kedatangan rombongan aliansi perwakilan dari Kerajaan Tang Selatan!"
Bai Lu teringat sesuatu saat mendengar perkataan Chang Ru.
"Tadi pagi ada undangan dari Ratu Wen. Kita sekeluarga akan menginap di istana besok malam!" ucap Bai Lu.
"Undangan dari Ratu Wen untuk menginap di istana? Wanita tua itu masih mempunyai rencana jahat yang lain," batin Ying Ying.
Ying Ying melangkahkan kaki dengan cepat, lalu berhenti tepat di depan Chang Ru dan Bai Lu.
Ying Ying mengulurkan telapak tangan ke arah Bai Lu sambil tersenyum kecil.
"Ada apa Chang Le? Aku sudah mengembalikan semua mahar nikah Kak Ling Qi semalam! Semua sesuai salinan yang kamu perlihatkan!"
Bai Lu mengira Ying Ying sengaja mencari masalah dengannya lagi.
"Jangan khawatir! Aku selalu menepati janji. Tadi aku tidak bicara apapun di depan Ratu Wen. Aku hanya ingin melihat isi undangan."
"A Ling akan mengantar undangan itu ke kamarmu!"
"Baiklah."
Ying Ying menuju kamar tidurnya diikuti oleh Tan Xiang, sedangkan roh Li Chang Le mengikuti Bai Lu dan Chang Ru.
***
Bai Lu membawa Chang Ru ke kamarnya dan menanyakan semua yang terjadi di istana dengan Ratu Wen dan juga bagaimana cara Chang Ru menjebak Wei Wu Xian.
Wajah Bai Lu pucat seketika saat mengetahui Chang Ru hampir saja ketahuan karena Wei Wu Xian mencurigainya.
"Chang Ru! Lebih baik obat spesial itu, ibu yang simpan saja. Lebih aman! Lagipula kamu tidak memerlukan obat itu lagi."
Bai Lu khawatir Wei Wu Xian menemukan botol obat itu jika Chang Ru masih menyimpannya sehingga lebih aman jika disimpan di dalam ruangan rahasia kecil miliknya.
"Baiklah, ibu! Tetapi kedua obat yang lain, aku simpan. Obat bius itu sangat efektif dan Chang Le tidak menyadarinya sama sekali."
Bai Lu menganggukkan kepala pertanda setuju.
Mereka berdua pun mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan untuk menginap di istana besok malam.
***Kamar tidur Li Chang Le***
Ying Ying membaca saksama kartu undangan yang dikirim oleh Ratu Wen. Kali ini undangan dari Ratu Wen hanya satu lembar dan ditujukan untuk anggota keluarga Jenderal Li Jin.
Ying Ying meniup seruling giok untuk memanggil Run Yu dan memerintahkan Run Yu mencari informasi mengenai undangan dari Ratu Wen.
Tiga puluh menit kemudian, Run Yu melaporkan hasil penyelidikan. Ternyata undangan yang dikirim oleh Ratu Wen hanya ditujukan ke para pejabat tingkat tinggi, jenderal-jenderal besar beserta keluarga mereka.
Rombongan aliansi perwakilan dari Kerajaan Tang Selatan yang datang besok akan menginap di istana dikarenakan mereka harus melakukan pertemuan pribadi dengan Kaisar Wei untuk membahas perjanjian perdamaian.
Oleh karena itu, Ratu Wen mendapatkan tugas untuk mengurus rombongan keluarga para bawahan kepercayaan Kaisar Wei yang diundang.
__ADS_1
Jamuan makan malam istana pastinya berlangsung hingga larut malam sehingga Ratu Wen memutuskan para tamu undangan beserta keluarga menginap satu malam di istana.
"Aku harus membuat lebih banyak ramuan obat untuk berjaga-jaga," batin Ying Ying.
Ini pertama kalinya Ying Ying menginap di istana sehingga harus mempersiapkan semuanya dengan matang.
Ying Ying memerintahkan Tan Xiang untuk mempersiapkan perlengkapan pribadi yang diperlukan olehnya untuk menginap di istana.
***Ibukota Luoyang***
Lima ratus prajurit Kerajaan Wei dibawah pimpinan Xu Feng, kepala pengawal istana membuat barikade kuat untuk melindungi sebuah kereta kuda besar, megah, dan indah.
Setiap prajurit itu memegang pedang dan perisai perang. Tentu saja orang penting yang berada di dalam kereta kuda adalah Kaisar Wei. Ratu Wen dan Selir Ming Lan menemani Kaisar Wei di sana.
Kaisar Wei sedang menunggu kedatangan rombongan aliansi perwakilan dari Kerajaan Tang Selatan dan rombongan Jenderal Li Jin serta rombongan Wei Bu Yi yang dikirim oleh Kaisar Wei ke perbatasan Luoyang.
Sekitar 5 km di depan, ada dua jenderal besar yang memimpin prajurit sejumlah lima ratus orang. Mereka bertugas melaporkan kedatangan aliansi perwakilan dari Kerajaan Tang Selatan. Total seribu prajurit dikerahkan untuk melindungi keselamatan Kaisar Wei hari ini.
Sementara di samping kereta kuda Kaisar Wei, ada satu kereta kuda berukuran sedang milik Wei Wu Xian, sedangkan di belakang kedua kereta kuda itu, ada sebuah kereta kuda yang lebih kecil.
Chang Ru dan Ying Ying berada di dalam kereta kuda kecil. Tan Xiang dan A Ling berdiri di depan kereta kuda. Mereka berdua bertugas menyampaikan informasi kedatangan ketiga rombongan itu ke Chang Ru dan Ying Ying.
Beberapa saat kemudian, terdengar derap kereta kuda mendekat dan berhenti. Jenderal Liu Bei, salah satu jenderal besar turun dari kereta kuda dan berlutut dengan satu kaki di depan kereta kuda Kaisar Wei.
"Lapor Kaisar Wei! Rombongan aliansi perwakilan dari Kerajaan Tang Selatan akan tiba dalam waktu dekat!"
Kaisar Wei tersenyum semringah mendengar laporan itu. Kasim Cao yang berdiri di samping kereta kuda besar, membuka pintu kereta kuda.
Kaisar Wei pun turun dari kereta kuda diikuti oleh Ratu Wen dan Selir Ming Lan. Wei Wu Xian sudah turun dari kereta kuda miliknya terlebih dahulu dan berjalan menghampiri kereta kuda kecil.
"Hamba memberi hormat ke putra mahkota!" ucap Tan Xiang dan A Ling bersamaan.
"Chang Le! Jenderal Li Jin akan tiba sebentar lagi!" ujar Wei Wu Xian.
Wei Wu Xian membuka pintu kereta kuda dengan maksud ingin membantu Ying Ying turun.
Wei Wu Xian menghindar dengan cepat tangan Chang Ru yang ingin menyentuhnya, lalu membalikkan badan dan berjalan menuju ke depan untuk berkumpul dengan rombongan Kaisar Wei.
"Adik Chang Ru cepatlah turun! Aku ingin menunggu kedatangan ayah!"
Chang Ru menoleh ke belakang dan melotot ke arah Ying Ying, sebelum turun dari kereta kuda dengan perasaan kesal.
Ying Ying dan roh Li Chang Le saling bertatapan dan tersenyum kecil bersamaan.
***
Beberapa saat kemudian, suara derap kuda yang lebih kuat menggema di depan sana. Debu tanah bertebaran, tetapi tidak menutupi wajah para penunggang kuda yang sedang menuju ke arah mereka.
Bendera tulisan huruf "Wei" ukuran besar di tangan beberapa penunggang kuda barisan depan, membuat rombongan Kaisar Wei merasakan perasaan suka cita dari dalam lubuk hati mereka.
Terutama Ying Ying dan roh Li Chang Le. Mereka tahu pasukan Jenderal Li Jin lah yang sedang menuju ke arah mereka.
Jenderal Li Jin, Li Ming, dan Feng Xi menghentikan laju kuda. Kemudian melompat turun dan berlutut dengan satu kaki untuk memberi hormat ke Kaisar Wei.
"Li Jin memberi hormat ke Kaisar Wei!"
"Li Ming memberi hormat ke Kaisar Wei!"
"Feng Xi memberi hormat ke Kaisar Wei!"
"Berdirilah! Kalian semua berjasa untuk Kerajaan Wei! Aku akan memberikan hadiah!" ucap Kaisar Wei sambil tertawa senang.
Ketiga pria itu berdiri dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pandangan mereka bertiga berhenti tepat ke arah Ying Ying.
Jenderal Li Jin segera menghampiri Ying Ying, diikuti oleh Li Ming dan Feng Xi.
"Ayah!" panggil roh Li Chang Le dengan antusias, tetapi tidak terdengar oleh Jenderal Li Jin.
__ADS_1
Jenderal Li Jin memegang tangan Ying Ying dan menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki. Chang Ru yang berdiri di samping Ying Ying merasa kesal karena Jenderal Li Jin mengacuhkannya.
"Chang Le! Kamu benar-benar sudah sembuh?"
"Iya, ayah!" jawab Ying Ying.
"Ayah! Chang Ru senang ayah pulang dengan selamat!" Chang Ru berusaha menarik perhatian Jenderal Li Jin.
"Chang Ru putriku!" kata Jenderal Li Jin sambil menepuk pundak Chang Ru.
Li Ming dan Feng Xi tersenyum lebar menatap Ying Ying. Mereka berdua sangat senang karena Chang Ru sudah normal seperti gadis muda lainnya.
Roh Li Chang Le tersenyum riang dan menatap Li Ming serta Feng Xi bergantian, lalu memanggil nama mereka.
Ying Ying tahu roh Li Chang Le sangat senang menyambut kepulangan keluarga terdekatnya sehingga Ying Ying mewakili roh Li Chang Le menyapa kedua pria muda itu.
"Kak Li Ming! Kak Feng Xi!"
Kaisar Wei memberikan kebebasan kepada Jenderal Li Jin untuk melepas rindu ke kedua putrinya.
Sementara Ying Ying menatap ke arah depan lagi karena pendengaran jarak jauhnya mendengar suara alunan nada dari seruling giok.
Suara alunan nada itu merupakan isyarat antara Ying Ying dan Wei Bu Yi saat ingin memanggil satu sama lain.
Ying Ying meminta Wei Bu Yi mengajarkan nada baru khusus untuknya ketika mereka berdua menunggangi kuda di perjalanan dari Qing Qiu menuju Kediaman Jenderal Li Jin.
"Bu Yi!" Ying Ying berteriak kegirangan di dalam hati kecilnya.
Ying Ying berjalan maju ke depan beberapa langkah. Sepasang matanya semakin berbinar-binar saat melihat bendera besar di punggung salah satu kuda.
Bendera besar itu dalam posisi horizontal yaitu memanjang ke samping dan tertiup angin kencang. Akan tetapi, mata jeli Ying Ying membaca jelas huruf di bendera itu.
YI!
Huruf yang terukir di setiap perhiasan emas hadiah dari Wei Bu Yi.
Dalam waktu singkat, kuda itu berhenti tidak jauh dari tempat Ying Ying berdiri.
Wei Bu Yi dan Ying Ying saling bertatapan satu sama lain. Senyuman lebar di sudut bibir Ying Ying membuat hati Wei Bu Yi terasa hangat.
Semula Wei Bu Yi meniup alunan nada seruling giok itu dikarenakan rasa rindu terhadap Ying Ying. Gadis muda yang entah sejak kapan sudah mengisi lubuk hati paling dalam Wei Bu Yi.
Sejak berangkat ke perbatasan kota Luoyang, bayangan Ying Ying selalu muncul di sekeliling Wei Bu Yi.
Walaupun setiap hari Wei Bu Yi menerima kiriman surat merpati dari Run Yi, yang mengabarkan keadaan Ying Ying, tetapi hati Wei Bu Yi terasa hampa karena tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Oleh karena itu, ketika dirinya sudah memasuki ibukota Luoyang, Wei Bu Yi meniup seruling giok untuk melepas rindu terhadap Ying Ying dan kejutan bahwa Ying Ying juga ikut serta dalam rombongan Kaisar Wei membuat Wei Bu Yi sangat senang.
Wei Bu Yi terbang dari atas punggung kuda dengan ilmu meringankan tubuh dan berhenti tepat di hadapan Ying Ying.
"Ying Ying! Aku pulang!"
Empat kata singkat dari mulut Wei Bu Yi membuat mata Ying Ying berkaca-kaca.
Ying Ying memeluk pinggang dan menyandarkan kepalanya di dada Wei Bu Yi.
"Aku merindukanmu, Bu Yi!"
***
Selamat malam readers tercinta. Bab ini up pukul 23.10 wita.
Seharusnya dua bab, tetapi digabung menjadi satu nih. Semoga readers menyukai sweet romantis antara Bu Yi dan Ying Ying 😘
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE