
***Istana Timur***
Chang Ru duduk di dalam tandu merah mempelai dengan suasana hati yang sangat senang dan penuh percaya diri.
Keinginannya menjadi putri mahkota dan dihormati semua rakyat Kerajaan Wei akan segera terwujud.
Di dalam pikiran Chang Ru sudah terbayang bagaimana dirinya dan Wei Wu Xian melewati malam pengantin sehingga Yang Zi hanya bisa menangis di kamar pengantin yang lain.
Chang Ru sudah bertekad kuat untuk menaklukkan Wei Wu Xian agar dirinya bisa segera hamil dan memperkuat kedudukannya sebagai putri mahkota.
"Putra mahkota dipersilakan untuk menendang tandu putri mahkota dan selir utama Yang Zi!"
Suara kasim yang nyaring menggema di Istana Timur. Senyum lebar di wajah Chang Ru hilang seketika.
"Sialan! Si ja*ang Yang Zi sudah tiba di Istana Timur!" batin Chang Ru.
Wei Wu Xian menendang kedua tandu mempelai. A Ling dan A Mei segera menuntun Chang Ru turun dari tandu merah, sedangkan Yang Zi dituntun oleh kedua pelayan pribadinya, Ning Ning dan Ching Ching. Kedua pelayan pribadi mereka menjadi pelayan tingkat satu, yang bertugas melayani Chang Ru dan Yang Zi secara langsung.
Wei Wu Xian menghampiri Chang Ru untuk membuka kain merah penutup kepala, lalu menghampiri Yang Zi dan melakukan hal yang sama.
Kain merah penutup kepala harus dibuka lebih dahulu dikarenakan mereka bertiga akan menaiki tangga yang panjang.
Chang Ru dan Yang Zi melangkahi anglo merah dengan bantuan pelayan tingkat satu masing-masing, sedangkan
Wei Wu Xian berdiri di bawah anak tangga menunggu kedua mempelai.
Para pejabat tinggi dan jenderal besar sudah berkumpul di Istana Timur untuk menyaksikan pernikahan putra mahkota Kerajaan Wei.
Chang Ru dan Yang Zi melangkah dengan anggun menghampiri Wei Wu Xian. Mereka berdua tersenyum lebar dan menatap Wei Wu Xian dengan tatapan berbinar-binar.
Wei Wu Xian mengenakan pakaian pengantin berwarna merah dan tersenyum kecil menyambut kedua mempelai.
Senyuman itu hanyalah senyuman palsu belaka dan bukannya senyuman tulus dari lubuk hati paling dalam Wei Wu Xian.
Dirinya memang menikahi dua mempelai wanita hari ini, tetapi tidak satu pun dari mereka yang diinginkan oleh Wei Wu Xian.
Dalam tradisi Kerajaan Wei, hanya istri resmi yang menjalani semua prosesi ritual pernikahan yang lengkap. Oleh karena itu, Wei Wu Xian hanya mengulurkan tangan ke Chang Ru.
Chang Ru melirik Yang Zi dan memberikan senyuman penuh kemenangan ketika menyambut uluran tangan Wei Wu Xian.
"Yang Zi! Aku ini putri mahkota! Kamu hanyalah selir dan harus memberi hormat kepadaku setiap hari!" batin Yang Zi.
Wei Wu Xian dan Chang Ru menaiki anak tangga sambil bergandengan tangan, sedangkan Yang Zi mengikuti mereka dari belakang.
Walaupun hati Yang Zi terasa sakit dan kecewa, tetapi dirinya mengingat jelas pesan dari ayahnya,Perdana Menteri Yang Kun.
Perdana menteri Yang Kun sangat yakin Yang Zi bisa menjadi putri mahkota menggantikan Chang Ru dikarenakan janji dari Ratu Wen.
Tentu saja Perdana menteri Yang Kun harus memberi dukungan sepenuhnya ke Wei Wu Xian agar janji dari Ratu Wen bisa direalisasikan dengan cepat.
Ketika tiba di anak tangga paling atas, Wei Wu Xian membawa Chang Ru masuk melalui pintu utama untuk melakukan prosesi penghormatan.
Sementara Yang Zi dijemput oleh dayang istana dan dibawa ke kamar pengantin yang sudah dipersiapkan.
***
Kaisar Wei dan Ratu Wen duduk berdampingan menunggu prosesi penghormatan dari Wei Wu Xian dan Chang Ru.
Hari ini merupakan pertama kali mereka berdua bertemu setelah kejadian Kaisar Wei marah besar dan mengambil alih kekuasaan istana belakang dari tangan Ratu Wen.
Selama tujuh hari ini Ratu Wen memperlihatkan sikap bertobat dan sering berdoa di kuil kerajaan. Akan tetapi, Kaisar Wei masih belum berniat memaafkan sepenuhnya semua kesalahan Ratu Wen.
__ADS_1
Pernikahan Wei Wu Xian sebagai putra mahkota Kerajaan Wei membuat Kaisar Wei mengizinkan Ratu Wen untuk menghadirinya.
Sikap diam Kaisar Wei terhadapnya, tidak membuat Ratu Wen kecewa. Ratu Wen sangat yakin kemarahan Kaisar Wei akan menghilang seiring waktu berlalu.
Satu rencana besar sudah disusun dengan sempurna oleh Ratu Wen dan akan direalisasikan pada saat kesempatan emas itu tiba.
Wei Wu Xian dan Chang Ru berlutut di hadapan Kaisar Wei dan Ratu Wen untuk menyuguhkan teh.
Wajah Kaisar Wei berseri-seri menerima cangkir teh dan Wei Wu Xian dan Chang Ru, lalu meneguknya hingga habis.
Senyuman palsu juga menghias di sudut bibir Ratu Wen. Senyuman itu hilang seketika saat melihat kedua gelang emas phoenix melingkar di pergelangan tangan Chang Ru.
"Benar-benar gadis yang bodoh! Menghancurkan semua rencana sempurnaku!" batin Ratu Wen.
Ratu Wen sudah mengetahui Kaisar Wei mengizinkan Li Chang Le memakai perhiasan mendiang Ratu Xu di hari pernikahan. Walaupun begitu, setidaknya perhiasan hadiah darinya masih disimpan oleh Li Chang Le.
Ratu Wen bisa meminta Li Chang Le memakai gelang emas phoenix itu di perayaan penting yang lain sehingga Li Chang Le pasti akan keracunan dan bisa dikendalikan oleh Ratu Wen. Akan tetapi, semua nya menjadi sia-sia karena Chang Ru yang tamak mengambil semua hadiah darinya untuk Li Chang Le.
Kaisar Wei dan Ratu Wen meninggalkan Istana Timur setelah selesai prosesi penghormatan, sedangkan Wei Wu Xian bersama para tamu undangan bersulang arak.
Chang Ru diantar oleh dayang istana ke kamar pengantin miliknya. A Ling dan A Mei sudah menunggu di sana.
Mereka melayani Chang Ru mandi dan mengganti pakaian baru. Beberapa perhiasan di tubuh Chang Ru sudah tersimpan rapi di dalam kotak perhiasan, tetapi sepasang gelang emas phoenix masih melingkar di pergelangan tangan Chang Ru. Chang Ru sangat menyukai gelang emas phoenix tersebut dan ingin memamerkannya ke Yang Zi besok pagi.
Chang Ru juga makan sedikit untuk mengisi perutnya yang kosong sejak pagi.
Wajah Chang Ru berseri-seri menunggu kedatangan Wei Wu Xian. Kain sutra putih di atas seprai merah bukan menjadi masalah besar bagi Chang Ru lagi karena dirinya sudah menjebak Wei Wu Xian melakukan hubungan mesra di tempat makan beberapa waktu yang lalu.
***Kamar pengantin Yang Zi***
Yang Zi sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian baru berwarna merah. Saat ini Yang Zi duduk termenung menatap cahaya lilin merah di atas meja.
"Apakah selir Yang Zi mau makan sedikit?" tanya Ning Ning.
Yang Zi sama sekali tidak berselera makan. Suasana hatinya sangat gelisah dan sedih. Malam ini merupakan malam pertama, tetapi dirinya harus tidur sendirian di tempat tidur bernuansa merah.
Yang Zi menarik napas panjang, lalu berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju tempat tidur.
Tangan Yang Zi menyentuh seprei merah dan juga kain sutra putih di sana.
"Ning Ning, Ching Ching! Kalian boleh keluar! Aku mau istirahat sekarang!"
"Baik, Selir Yang Zi!" jawab Ning Ning dan Ching Ching bersamaan.
"Putra mahkota tiba!"
Suara nyaring dari kasim di luar kamar membuat Yang Zi tersentak dan berdiri dari tempat tidur, sedangkan Ning Ning dan Ching Ching tersenyum senang karena Wei Wu Xian akan bermalam di kamar Yang Zi, bukan di kamar putri mahkota.
Wei Wu Xian melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Yang Zi, lalu memeluk pinggang Yang Zi dengan erat.
Ning Ning, Ching Ching, dan para kasim segera keluar dari kamar pengantin. Mereka semua tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam kamar.
Dua kasim yang diutus oleh Ratu Wen berjaga di luar pintu kamar. Mereka mengemban tugas penting untuk mengambil kain sutra putih dan membawanya ke istana Ratu Wen.
Sementara di dalam kamar, Wei Wu Xian sedang membelai pipi Yang Zi.
"Kenapa selir Yang Zi terkejut dengan kedatanganku?" tanya Wei Wu Xian.
"Aku mengira putra mahkota akan menginap di kamar putri mahkota," jawab Yang Zi dengan jujur.
"Ritual prosesi pernikahan dengan putri mahkota hanya formalitas saja. Aku ingin menghabiskan malam pertama denganmu."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Yang Zi, Wei Wu Xian membaringkannya di atas tempat tidur, lalu menciumnya dengan agresif.
Satu persatu pakaian dibuang ke lantai. Yang Zi berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya yang diakibatkan serangan agresif Wei Wu Xian.
Wei Wu Xian tersenyum puas saat melihat kain sutra putih penuh dengan bercak noda merah.
Tentu saja Wei Wu Xian memilih menghabiskan malam pertama di kamar Yang Zi dikarenakan Yang Zi masih suci. Wei Wu Xian sudah bersumpah dalam hati untuk tidak menyentuh Chang Ru yang kotor.
Wei Wu Xian membungkus tubuh polos Yang Zi dengan selimut tebal. Keringat masih bercucuran di tubuh mereka berdua.
"Masuklah!" perintah Wei Wu Xian.
Kedua kasim yang berjaga di luar, berjalan masuk ke dalam kamar dan menghampiri tempat tidur. Keduanya menundukkan kepala dan tidak berani melihat Wei Wu Xian maupun Yang Zi.
Salah satu dari kasim itu mengambil kain sutra putih dari atas tempat tidur dan melipatnya, sedangkan kasim yang satunya lagi membuka kotak kecil sebagai tempat untuk menyimpan kain sutra putih tersebut.
Dalam waktu singkat, kedua kasim sudah meninggalkan kamar pengantin. Wei Wu Xian membuka selimut tebal yang membungkus tubuh Yang Zi.
Wei Wu Xian terpaku menatap wajah Yang Zi. Efek arak dan mabuk membuat Wei Wu Xian berhalusinasi sehingga wajah Yang Zi berubah menjadi wajah Li Chang Le.
Hal itu menyebabkan gejolak darah muda Wei Wu Xian muncul lagi sehingga mencium bibir Yang Zi dan memulai lagi petualangan fantasi. Kali ini Yang Zi juga memberikan balasan yang agresif karena mengira Wei Wu Xian sudah menyukainya.
***Kamar pengantin Chang Ru***
Hari sudah larut malam, tetapi Chang Ru masih setia menunggu kedatangan Wei Wu Xian.
Chang Ru mengira Wei Wu Xian mabuk berat di resepsi pernikahan sehingga memerintahkan A Ling dan A Mei untuk mencari tahu keberadaan Wei Wu Xian saat jni.
A Ling dan A Mei menghampiri Chang Ru dengan wajah pucat dan ketakutan. Firasat buruk menghantui pikiran Chang Ru dengan cepat.
"Di mana putra mahkota?"
"Putra mahkota menginap di kamar Selir Yang Zi!" jawab A Ling dengan hati-hati.
Chang Ru mengambil teko arak dari atas meja dan bermaksud melemparkannya ke lantai. A Ling dan A Mei sudah mundur beberapa langkah kaki untuk menghindari pecahan teko.
Kedua pelayan itu merasa heran karena tidak mendengarkan suara pecahan teko. Ternyata tangan Chang Ru masih menggenggam erat teko arak.
Chang Ru sadar dirinya saat ini berada di Istana Timur dan bukanlah di Kediaman Jenderal Li Jin.
Dia sudah menjadi putri mahkota dan bisa dipastikan untuk masa yang akan datang pasti banyak selir yang akan tinggal di Istana Timur sehingga kamar tempat tinggalnya akan sering kosong dikarenakan Wei Wu Xian menginap di kamar lain.
"Keluar!"
A Ling dan A Mei segera keluar dari kamar pengantin. Mereka berdua merasa lega karena tidak mendapatkan hukuman dari Chang Ru.
Sementara Chang Ru naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sana."Hari ini kamu bisa tertawa, Yang Zi! Besok aku akan menang!" batin Chang Ru.
Chang Ru masih berusaha berpikiran positif bahwa Wei Wu Xian menghabiskan malam pertama di kamar Yang Zi karena ingin menyerahkan kain sutra putih sebagai bukti ke Ratu Wen.
Kain sutra putih tersebut hanya dipasang di malam pertama saja. Sementara malam-malam berikutnya tidak memerlukan kain sutra putih sehingga Chang Ru mengira dirinya masih memiliki kesempatan untuk berhubungan mesra dengan Wei Wu Xian nantinya.
***
Selamat malam readers. Bab ini juga dua ribu kata. Author jadiin satu bab saja supaya sekalian, readers ga nunggu lagi hinga ketiduranππ dan juga ga kedip kedip mata saja sudah habis ceritanya πππ.
Jreng jreng jreng! Ada yang belah duren sesuai keinginan readers π€π€.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE