
***Istana Kaisar Wei***
Kaisar Wei sedang mendengarkan laporan dari Xu Feng, kepala pengawal istana.
"Kaisar Wei! Dayang istana ditemukan mati di dalam sumur bersama seorang pria berpakaian serba hitam. Identitas pria itu adalah A Mu dan merupakan salah satu prajurit muda yang termasuk dalam kelompok patroli. Hamba menemukan secarik surat wasiat di kamarnya."
"Apa isi surat wasiat itu?" tanya Kaisar Wei.
"A Mu mengaku dirinya dan dayang istana adalah sepasang kekasih. Mereka berencana melarikan diri dari istana dan memerlukan uang sehingga ingin merebut perhiasan milik Nona Li Chang Le, tetapi tidak sengaja membuat Nona Li Chang Le jatuh ke kolam sehingga A Mu dan dayang istana memutuskan bunuh diri bersama karena takut keluarga mereka ikut mendapatkan hukuman," jawab Xu Feng.
Semua bukti sempurna yang terpampang di depan mata membuat Kaisar Wei semakin yakin dalang pembunuhan Li Chang Le pastilah berasal dari salah satu orang yang tinggal di dalam istana belakang.
A Mu dan dayang istana yang mati itu hanyalah kambing hitam dan juga bidak catur yang bisa disingkirkan dengan mudah.
"Tutup kasus ini, tetapi kamu tetap mengawasi istana belakang secara diam-diam!" perintah Kaisar Wei.
"Siap laksanakan, Kaisar Wei!" jawab Xu Feng.
Beberapa saat kemudian setelah kepergian Xu Feng, Kasim Xiao Duo menemui Kaisar Wei dan menyampaikan pesan dari Wei Bu Yi.
Kaisar Wei sangat gembira mengetahui Li Chang Le sudah sembuh dan normal seperti gadis biasa umumnya.
"Bagus! Ilmu pengobatan Tabib Chen memang yang terbaik! Kasim Cao, persiapkan banyak tanaman langka dan berharga untuk dibawa pulang Kasim Xiao Duo. Katakan semua itu hadiah dariku untuk Li Chang Le agar tubuhnya semakin sehat ketika menikah dengan Wei Bu Yi nanti!"
"Hamba mewakili Pangeran Wei Bu Yi untuk berterima kasih atas kemurahan hati Kaisar Wei!" ucap Kasim Xiao Duo.
Berita mengenai kesembuhan Li Chang Le diketahui oleh Ratu Wen berselang lima jam kemudian. Hal ini dikarenakan mata-mata yang ditempatkannya di dekat Kaisar Wei telah disingkirkan oleh Xu Feng.
Kejadian pembunuhan terhadap Li Chang Le membuat Xu Feng memperketat keamanan di sekeliling Kaisar Wei. Bahkan menggantikan para pengawal yang bertugas melindungi Kaisar Wei dengan para pengawal yang merupakan didikan dari Xu Feng sendiri.
Mata-mata Ratu Wen termasuk orang yang dipindah tugaskan oleh Xu Feng. Tentu saja Ratu Wen marah besar ketika mendapat kabar kesembuhan Li Chang Le.
Walaupun begitu, untuk sementara Ratu Wen tidak berani bertindak gegabah terhadap Li Chang Le. Ratu Wen berfirasat Kaisar Wei mulai curiga terhadapnya.
Ratu Wen hanya bisa melampiaskan amarahnya dengan memecahkan pajangan guci besar di dalam kamar.
Para dayang istana yang melayani Ratu Wen membersihkan pecahan guci dengan sigap dan meninggalkan kamar agar tidak menjadi sasaran amarah dari Ratu Wen.
Kasim Ma, satu-satunya orang yang masih berada di dalam kamar. Kasim Ma berdiri di belakang Ratu Wen dan mulai memijat kedua pundak Ratu Wen dengan lembut.
"Ada surat penting untuk Ratu Wen! Hamba yakin suasana hati Ratu Wen pasti membaik setelah membacanya."
Kasim Ma memberikan gulungan kertas kecil ke Ratu Wen. Ratu Wen tahu surat itu dikirim melalui merpati oleh sekutu nya.
Perkataan Kasim Ma membuat Ratu Wen membuka gulungan kertas itu dengan antusias. Senyum sinis mengembang di sudut bibir Ratu Wen setelah membaca isi surat.
"Wei Bu Yi! Bersiaplah untuk mati!" batin Ratu Wen.
Ratu Wen memberikan surat itu ke Kasim Ma. Seperti biasa, Kasim Ma membakar surat itu hingga tidak tersisa.
Ratu Wen menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan rapat kedua mata sambil menikmati pijatan lembut di pundak dari Kasim Ma.
***Kediaman Pangeran Wei Bu Yi***
Wei Bu Yi dan Ying Ying masuk ke dalam kereta kuda besar yang sudah menunggu di depan kediaman.
__ADS_1
Sementara Tan Xiang, Kasim Da Duo, dan Kasim Xiao Duo mengangkat benda-benda perlengkapan sembahyang ke atas punggung kuda dan mengikatnya erat.
Perjalanan ke Qing Qiu sangat jauh dan melewati hutan dengan jalanan yang berliku-liku sehingga kereta kuda ditarik oleh empat ekor kuda.
Tan Xiang duduk di samping kusir kuda yang mengendalikan tali kekang, sedangkan Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo duduk di atas punggung kuda.
Suara derapan kaki kuda menggema di sepanjang jalan. Ying Ying membuka tirai jendela kereta kuda sambil menikmati pemandangan alam di luar sana.
Kedua tangan Ying Ying memegang erat guci kecil yang berisi abu jasad rubah miliknya. Ying Ying sudah tidak sabar untuk tiba di gua Qing Qiu secepatnya.
Sementara Wei Bu Yi duduk di sisi yang lain sambil membaca dokumen dengan wajah serius. Sesekali Wei Bu Yi menikmati teh yang tersaji di atas meja.
Kereta kuda milik Wei Bu Yi memang dirancang untuk perjalanan jauh agar Wei Bu Yi bisa beristirahat dengan tenang di sana sehingga semua perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan sangat lengkap.
Wei Bu Yi suka menghabiskan waktu dengan membaca dokumen militer dan menikmati teh hangat.
30 menit berlalu dengan cepat. Ying Ying menutup tirai jendela dan menatap ke arah Wei Bu Yi, lalu perhatiannya fokus ke keranjang kayu bertingkat tiga di atas meja.
Ying Ying ingat Tan Xiang mempersiapkan keranjang itu untuknya sehingga Ying Ying berpindah tempat duduk dan duduk diseberang Wei Bu Yi. Diantara mereka berdua hanya terhalang oleh meja berukuran persegi empat.
Ying Ying meletakkan guci keci di atas meja dengan hati-hati sebelum membuka setiap tingkatan keranjang kayu.
"Kue Ang Ku, kue teratai, dan Pao kesukaanku!" seru Ying Ying sambil bertepuk tangan.
Satu lirikan dari Wei Bu Yi membuat Ying Ying sadar dirinya tidak sendirian.
"Pangeran Wei Bu Yi mau makan?" tanya Ying Ying.
"Aku tidak suka makanan manis," jawab Wei Bu Yi.
Ying Ying mengambil satu potong kue teratai dan menghabiskannya dalam dua kali suapan saja. Kemudian mencicipi Kue Ang Ku dan juga Pao.
"Masakan juru masak Kediaman Pangeran Wei Bu Yi sangat enak. Lebih enak dibandingkan juru masak rumahku."
"Tidak lama lagi kamu akan menjadi nyonya muda disana," kata Wei Bu Yi, tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen di tangannya.
"Iya. Aku bisa makan enak setiap hari."
Jawaban polos Ying Ying membuat senyum kecil menghias di sudut bibir Wei Bu Yi dalam hitungan detik saja dan tidak terlihat oleh Ying Ying.
Ying Ying melanjutkan aktivitasnya mencicipi kue-kue kecil di hadapannya dengan suasana hati yang riang hingga ketiga jenis kue itu hanya tersisa masing-masing satu buah.
Ying Ying sengaja menyisihkannya untuk Wei Bu Yi karena perjalanan ke Qing Qiu sangat jauh.
Ying Ying masih mengingat jelas saat Li Chang Le membawanya pulang ke Kediaman Jenderal Li Jin dari Qing Qiu, tidak ada tempat makan di sepanjang jalan.
"Pangeran Wei Bu Yi! Semua kue ini untukmu!"
Ying Ying mendorong salah satu keranjang yang berisi ketiga macam kue itu ke arah Wei Bu Yi. Ying Ying sengaja menggabungkan ketiga kue itu ke dalan satu keranjang.
Wei Bu Yi meletakkan dokumen militer di atas meja dan menatap keranjang di hadapannya.
"Kamu sudah kenyang?"
Wei Bu Yi tidak menolak pemberian Ying Ying, malahan mengkhawatirkan Ying Ying belum kenyang.
__ADS_1
"Iya! Aku sudah kenyang!"
Ying Ying merasa haus sehingga menuangkan teh dari teko ke cangkir Wei Bu Yi, kemudian ke cangkir baru untuknya.
Wei Bu Yi menatap intens gelang bandul lonceng di pergelangan tangan Ying Ying.
Semalam Wei Bu Yi tidak menemui Ying Ying sehingga belum sempat menanyakan tentang gelang bandul lonceng. Wei Bu Yi tidur di kamar tamu dan membiarkan Ying Ying tidur di kamarnya.
"Chang Le! Karena kita adalah sekutu, aku ingin kamu berkata jujur!"
"Mengenai apa Pangeran Wei Bu Yi?" tanya Ying Ying dengan raut wajah bingung karena merasa dirinya tidak pernah berbohong mengenai hal yang disampaikannya ke Wei Bu Yi di ruang kerja kemarin.
Wei Bu Yi menunjuk gelang bandul lonceng. "Apakah gelang ini benda sihir?"
"Ini hanya gelang biasa dan sudah rusak," jawab Ying Ying jujur.
"Kenapa Pangeran Wei Bu Yi mengira gelang ini benda sihir?"
"Aku menyelamatkanmu karena mendengar suara lonceng yang nyaring dan suara air. Gelang ini juga mengeluarkan cahaya putih sehingga aku bisa menemukanmu di dalam kolam."
"Suara lonceng? Cahaya putih? Apakah kelerengku yang memberi sinyal pertolongan ke Pangeran Wei Bu Yi?" batin Ying Ying.
"Darimana kamu mendapatkan gelang ini?"
"Gelang ini adalah kalung yang dipakai di leher Ying Ying selama ini!"
"Ying Ying?" tanya Wei Bu Yi sambil menyentuh guci kecil.
"Iya!"
Pikiran Ying Ying teringat akan kekuatan sihir yang bisa dimilikinya saat tiba di Qing Qiu. Selama ini Li Chang Le dikenal sebagai gadis biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun sehingga akan terasa aneh jika tiba-tiba saja Li Chang Le memiliki kekuatan sihir.
Walaupun Ying Ying akan berusaha menyembunyikan kekuatan sihirnya dari orang lain, tetapi Ying Ying yakin Wei Bu Yi bisa mengetahuinya dengan cepat.
"Sebenarnya aku mengalami mimpi yang sama sejak jatuh ke kolam pertama kali."
"Mimpi apa?" tanya Wei Bu Yi sambil menatap wajah serius Ying Ying.
"Setiap malam Ying Ying mencariku. Ternyata Ying Ying adalah siluman rubah berumur seratus tahun dan ingin aku membantunya balas dendam ke Chang Ru dan Wei Wu Xian."
"Siluman rubah umur seratus tahun?"
"Iya. Benar! Ying Ying memintaku membawa abu jasad nya ke Qing Qiu dan meditasi di dalam gua. Aku akan mendapatkan kekuatan sihir yang hebat!" ucap Ying Ying dengan antusias.
***
Selamat malam readers. Bab ini sudah sangat panjang, 1500 kata 😁. Author up pukul 22.00 wita.
Apakah Wei Bu Yi percaya dengan mimpi Ying Ying?
Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE