
***Aula istana***
Pertunjukkan musik yang merdu dan tarian yang indah membuat Kaisar Wei tersenyum lebar sepanjang waktu.
"Selir Ming Lan! Kamu pantas mendapatkan hadiah karena mempersiapkan perayaan ini dengan sempurna," puji Kaisar Wei.
"Terima kasih Kaisar Wei!" jawab Selir Ming Lan dengan wajah semringah.
Ratu Wen yang duduk di sisi kanan Kaisar Wei tidak merasa iri dengan pujian Kaisar Wei terhadap Selir Ming Lan. Suasana hati Ratu Wen sangat tenang karena rencana sempurnanya akan terealisasi segera.
Ratu Wen menatap ke arah meja Wei Bu Yi dan Ying Ying. Terlihat Wei Bu Yi dan Ying Ying menikmati hidangan di atas meja mereka dengan suasana hati yang gembira, terutama Ying Ying.
Ying Ying sangat senang dikarenakan dayang istana mengantarkan banyak kudapan kecil yang lezat. Semua kudapan kecil itu atas permintaan Wei Bu Yi.
Senyuman bahagia di wajah Ying Ying membuat Ying Ying semakin cantik dan menawan. Ratu Wen akui keputusan salah yang diambilnya sejak awal adalah menggantikan Chang Le dengan Chang Ru.
Chang Ru merupakan bidak catur terburuk yang dimiliki oleh Ratu Wen. Walaupun pada akhirnya penyakit Chang Ru membantunya mendapatkan token pasukan Wei Bu Yi dari tangan Ying Ying.
"Aku bisa mengampuni nyawa Chang Le dan menjadikannya selir Wu Xian!" batin Ratu Wen.
Ratu Wen tahu kebiasaan Wei Bu Yi selama ini. Semua makanan Wei Bu Yi akan diperiksa oleh Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo dengan jarum perak.
Oleh karena itu, sasaran Ratu Wen hari ini adalah Kaisar Wei. Ratu Wen tidak bisa memaafkan keinginan Kaisar Wei untuk menjadikan Wei Bu Yi sebagai putra mahkota.
Jika Kaisar Wei mati mendadak sekarang, maka posisi Wei Wu Xian sebagai putra mahkota bisa dipertahankan.
Selain itu Wei Bu Yi kehilangan token pasukan sehingga Ratu Wen yakin dirinya bisa melenyapkan Wei Bu Yi secepatnya saat Wei Wu Xian naik takhta menjadi Kaisar Wei.
***
Satu jam berlalu dengan cepat. Wei Bu Yi dan Ying Ying berpura-pura tidak mengetahui perdana menteri Yang Kun, Yang Jian dan beberapa pejabat lainnya makan dengan cepat makanan yang dihidangkan di atas meja mereka.
Mereka terlihat sangat antusias menunggu menu makanan selanjutnya. Pada saat makanan penutup yang berupa sup mutiara dihidangkan di atas meja, mereka hanya mencicipinya sedikit.
Sementara di meja makan Kaisar Wei, Kaisar Wei masih mencicipi makanan utama dengan tenang, sedangkan dua mangkuk sup mutiara masih utuh di atas meja. Selir Ming Lan sedang mencicipi sup mutiara miliknya.
Ratu Wen mengambil salah satu mangkuk sup mutiara, lalu menuangkan sedikit bubuk putih halus dari aksesoris di jari tangannya dengan cepat.
"Kaisar Wei! Ini sup mutiara kesukaanmu!" ucap Ratu Wen sambil menyerahkan mangkuk ke Kaisar Wei dengan kedua tangannya.
Kaisar Wei meletakkan sumpit di atas meja, lalu mengulurkan tangannya. Akan tetapi, Kaisar Wei tidak menerima mangkuk itu melainkan mencekal pergelangan tangan kanan Ratu Wen dengan erat.
Ratu Wen merasakan pergelangan tangannya sangat kesakitan sehingga mangkuk di tangannya hampir saja terjatuh. Ratu Wen segera meletakkan mangkuk itu di atas meja dengan tangan kirinya.
Jika sup mutiara itu tumpah, maka semua rencana sempurna Ratu Wen hari ini akan menjadi sia-sia.
Kaisar Wei tidak melepaskan tangannya melainkan semakin mencengkeram erat pergelangan tangan Ratu Wen. Ratu Wen merasa ketakutan melihat tatapan kebencian dari Kaisar Wei terhadapnya. Wajah Ratu Wen pucat seperti warna kertas.
Selir Ming Lan dan tamu undangan yang berada di aula istana menatap ke arah Kaisar Wei dengan raut wajah kebingungan. Sementara Yang Kun, Yang Jian, dan beberapa pejabat lainnya saling memberi isyarat mata satu sama lain.
__ADS_1
Wei Wu Xian berdiri dari tempat duduknya. Wajah pucat Ratu Wen membuat Wei Wu Xian khawatir.
"Ada apa ayahanda?" tanya Wei Wu Xian.
"Tanyakan ke Ratu Wen!" jawab Kaisar Wei dengan suara tegas.
"Ibunda?!"
"Kaisar Wei! Aku tidak melakukan apa pun. Tanganku sangat kesakitan sekarang," ucap Ratu Wen dengan suara memelas dan berlinangan air mata.
Kaisar Wei mendengus kasar, lalu berteriak dengan suara yang lantang.
"Tabib Chen! Periksa kuku palsu Ratu Wen!"
Tubuh Ratu Wen gemetaran mendengar perkataan Kaisar Wei, sedangkan Tabib Chen sudah berlari kecil menghampiri Kaisar Wei dan Ratu Wen.
Tabib Chen melepaskan kelima kuku palsu dari jari tangan kanan Ratu Wen dan memeriksanya dengan teliti. Kaisar Wei melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Ratu Wen.
"Kaisar Wei! Salah satu kuku palsu ini ada ruang rahasia dan berisi ekstrak kelopak teratai hitam," lapor Tabib Chen.
Ratu Wen segera berlutut di hadapan Kaisar Wei. "Kaisar Wei! Aku tidak bersalah! Ada yang menjebakku! Aku tidak tahu apa itu ekstrak kelopak teratai hitam!"
Wei Wu Xian dan Wei Bu Yi berjalan mendekati Kaisar Wei dan Ratu Wen secara bersamaan.
"Ayahanda! Tolong selidiki dengan adil! Ibunda tidak mungkin mencelakai ayahanda!" pinta Wei Wu Xian.
"Tabib Chen! Coba periksa isi sup mutiara ini!"
Tabib Chen memasukkan jarum perak ke dalam sup mutiara. Saat jarum perak dikeluarkan, ujung jarum perak berwarna hitam.
"Sup mutiaranya beracun! Aku keracunan!" teriak Selir Ming Lan.
Teriakan Selir Ming Lan membuat tamu undangan panik dan gelisah. Hampir sebagian besar dari mereka sudah mencicipi sup mutiara yang sama.
Tabib Chen mengambil jarum perak yang lain dan memasukkannya ke dalam sup mutiara milik Selir Ming Lan. Ujung jarum perak yang tidak berubah warna menjadi hitam membuat Selir Ming Lan dan tamu undangan menarik napas lega.
"Sup mutiara akan menjadi racun jika bercampur dengan ekstrak kelopak teratai hitam!" jelas Tabib Chen.
Penjelasan Tabib Chen membuat semua orang yang berada di aula istana mengetahui kebenaran dan penyebab Kaisar Wei marah besar. Semua dikarenakan Ratu Wen ingin membunuh Kaisar Wei dengan racun.
Ratu Wen berusaha menyangkal dengan keras. "Aku tidak meracuni Kaisar Wei! Bukan aku!"
"Ayahanda! Aku tidak pernah mendengar tentang ekstrak kelopak teratai hitam. Itu bukan berasal dari Kerajaan Wei. Tidak mungkin ibunda memilikinya!" ujar Wei Wu Xian dengan panik.
"Ektrak kelopak teratai hitam berasal dari Kerajaan Wu Barat!"
Perkataan Wei Bu Yi membuat Kaisar Wei dan semua orang yang berada di aula istana menatapnya secara bersamaan.
"Xiao Duo!"
__ADS_1
Kasim Xiao Duo masuk ke dalam aula istana setelah mendengar panggilan dari Wei Bu Yi.
Semua orang menatap heran kedatangan Kasim Xiao Duo bersama Xu Feng dan juga sebuah tandu yang diangkat oleh dua prajurit.
Di atas tandu terbaring seseorang yang beberapa bagian tubuhnya masih dibungkus oleh perban tebal, sedangkan bagian tubuh yang tidak terbungkus perban terlihat bekas luka bakar yang menyedihkan. Sepasang mata pria itu menatap tajam ke arah Ratu Wen.
Tubuh Ratu Wen semakin gemetaran karena mengenal jelas pemilik sepasang mata itu.
"Bagaimana mungkin? Bukankah dia sudah mati terbakar?" batin Ratu Wen.
"Bu Yi! Siapa dia?" tanya Kaisar Wei.
"Ayahanda! Pria itu adalah Kasim Ma, kasim kepercayaan Ratu Wen. Sebenarnya Kasim Ma adalah mata-mata dari Kerajaan Wu Barat. Bu Yi berhasil menyelamatkannya dari kebakaran di Istana Ratu Wen beberapa waktu yang lalu," jelas Wei Bu Yi.
Kaisar Wei mengingat jelas kematian Putri Tang Yan dan pria asing akibat kebakaran. Ternyata pria itu adalah Kasim Ma.
"Bu Yi! Apa saja kejahatan yang sudah dilakukan oleh Ratu Wen dan Kerajaan Wu Barat?" tanya Kaisar Wei.
Ying Ying berjalan menghampiri Wei Bu Yi dan menggenggam erat tangannya. Wei Bu Yi menganggukkan kepala pertanda mengerti maksud Ying Ying untuk mewakilinya menjawab pertanyaan Kaisar Wei.
"Ayahanda! Tujuh tahun yang lalu, Ratu Wen menggunakan racun yang sama untuk membunuh mendiang Ratu Xu, sedangkan pasukan Wu Barat menggunakan sihir hitam untuk mengambil nyawa Bu Yi. Pada akhirnya Ratu Wen berhasil menggantikan mendiang Ratu Xu dan Wei Wu Xian menggantikan Bu Yi sebagai putra mahkota!"
Xu Feng maju beberapa langkah dan memberi hormat ke Kaisar Wei.
"Kaisar Wei! Kasim Ma membuat salinan semua surat yang dikirim oleh Ratu Wen ke Kerajaan Wu Barat. Hamba berhasil menemukannya di ruang rahasia milik Kasim Ma!" lapor Xu Feng sambil menyerahkan setumpuk surat ke Kasim Cao.
Semalam Wei Bu Yi menemui Xu Feng untuk memberitahukannya mengenai salinan surat rahasia itu. Kasim Ma ingin balas dendam terhadap Ratu Wen sehingga memberitahukan keberadaan semua surat rahasia itu.
Semalam Wei Bu Yi juga menemui Kasim Cao dan memintanya menjaga keselamatan Kaisar Wei dari keracunan. Ketika Ying Ying memberitahukan Wei Bu Yi mengenai ekstrak kelopak teratai hitam disimpan di kuku palsu Ratu Wen, Wei Bu Yi segera mencari Kasim Cao.
Wei Bu Yi tahu Kasim Cao pasti menyampaikan semua perkataannya ke Kaisar Wei sehingga Kaisar Wei berhasil membongkar kejahatan Ratu Wen.
Kasim Cao mengambil semua surat itu dari Xu Feng dan memberikannya ke Kaisar Wei. Tangan Kaisar Wei gemetaran saat membaca satu persatu isi dari surat itu.
Sementara Ratu Wen sudah menghentikan sandiwara isak tangisnya. Ratu Wen tidak menyangka Kasim Ma menyimpan semua salinan surat yang pernah dikirim olehnya ke Kerajaan Wu Barat, baik sebelum ataupun sesudah Kasim Ma berada di sisinya.
***
Selamat malam readers. Bab ini up pukul 23.15 wita dan sejumlah 1.500 kata. Total sudah dua bab setengah 😁
Kelanjutannya besok ya. Mata author sudah kabur nih dan mengantuk 😅😅🙏
Jika ada kesalahan tulisan, tolong dibantu koreksi supaya author bisa revisi kesalahannya.
TERIMA KASIH PENGERTIANNYA
SALAM SAYANG
AUTHOR:
__ADS_1