
Ketika rombongan Pangeran Wei Bu Yi sudah pergi jauh, terdengar iringan suara musik mendekati Kediaman Jenderal Li Jin.
Iringan suara musik itu tidaklah semeriah iringan musik rombongan Pangeran Wei Bu Yi. A Ling dan A Mei segera menatap penuh pengharapan ke arah sumber suara.
Para kerumunan rakyat Kerajaan Wei yang belum membubarkan diri ikut menatap antusias ke rombongan yang mengangkat tandu mempelai berwarna merah.
Mereka semua tahu hari ini kedua putri Jenderal Li Jin akan menikah dan menjadi bagian dari anggota keluarga Kaisar Wei.
Sebagian besar dari mereka memiliki pemikiran yang sama yaitu kemungkinan besar Wei Wu Xian akan menjemput Li Chang Ru secara langsung, sama seperti Wei Bu Yi menjemput Li Chang Le. Akan tetapi, tidak terlihat sosok Wei Wu Xian di dalam rombongan.
Tandu mempelai tersebut memang lebih besar sedikit dibandingkan tandu mempelai milik Wei Bu Yi, tetapi prajurit yang mengiringi tandu merah hanyalah sejumlah sepuluh orang, sedangkan prajurit yang mengikuti rombongan Wei Bu Yi tadi berjumlah lebih dari lima puluh orang.
Ketika rombongan tandu merah berhenti di depan Kediaman Jenderal Li Jin, A Ling dan A Mei segera menghampiri mereka.
"Apakah Putra Mahkota sedang dalam perjalanan?" tanya A Ling.
Salah satu prajurit yang berada di barisan depan menjawab pertanyaan A Ling.
"Putra mahkota menunggu di Istana Timur. Selir utama Yang Zi sudah tiba di Istana Timur. Kami diutus untuk menjemput putri mahkota!"
"Baiklah!" jawab A Ling.
A Ling dan A Mei berlari kecil menuju kamar Chang Ru. Wajah mereka berdua sangat pucat karena bisa membayangkan kemarahan Chang Ru.
Sementara Jenderal Li Jin, Feng Xi, dan Li Ming masih berdiri di depan pintu utama sehingga mendengar jelas jawaban prajurit tadi. Mereka bertiga tahu Wei Wu Xian lebih mementingkan Yang Zi dibandingkan Chang Ru.
Walaupun begitu, Jenderal Li Jin tidak mau ikut campur karena dirinya sudah bertekad memutuskan hubungan dengan Chang Ru.
"Chang Ru sendiri yang memilih jalan hidupnya!" batin Jenderal Li Jin.
Jenderal Li Jin masuk ke dalam kediaman tanpa berbicara satu kata pun. Feng Xi mengikuti dari belakang, sedangkan Li Ming masih berdiri di tempatnya semula dikarenakan dirinya memiliki tugas untuk menggendong Chang Ru ke tandu merah.
Jika saja tidak ada tradisi tersebut, Li Ming pun akan mengikuti jejak Jenderal Li Jin dan Feng Xi untuk masuk ke dalam kediaman.
Prajurit yang ditanya oleh A Ling tadi, berjalan mendekati Li Ming.
"Tuan muda! Apakah rombongan tandu mempelai Pangeran Wei Bu Yi masih belum datang?"
"Pangeran Wei Bu Yi sendiri yang datang bersama rombongan tandu mempelai. Mereka datang tepat waktu dan sudah menuju Kediaman Pangeran Wei Bu Yi!" jawab Li Ming.
"Ratu Wen dan Putra Mahkota pasti akan marah besar mengetahui hal ini," batin prajurit tersebut.
Ekspresi khawatir dari prajurit membuat Li Ming menduga sesuatu.
"Kalian sengaja terlambat?" tanya Li Ming sambil memberikan tatapan menyelidiki.
__ADS_1
"Ten…tentu saja tidak! Kami berangkat sesuai waktu yang ditentukan!"
Prajurit itu segera kembali ke barisannya agar tidak mendapatkan pertanyaan lain dari Li Ming.
Dugaan Li Ming sangatlah tepat. Ratu Wen sengaja memerintahkan rombongan tandu mempelai menjemput Chang Ru terlambat 45 menit. Ratu Wen ingin rombongan Wei Bu Yi menunggu di sana untuk membuktikan kedudukan putra mahkota lebih tinggi daripada pangeran.
Ratu Wen mengira Jenderal Li Jin pastilah menuruti kesepakatan awal yaitu Chang Ru dijemput terlebih dahulu dibandingkan Chang Le.
Tindakan Jenderal Li Jin yang berlawanan dengan keinginan Ratu Wen ini akan membuat Ratu Wen sadar bahwa Jenderal Li Jin tidak pernah berpihak ke Wei Wu Xian sehingga Chang Ru hanyalah bidak catur yang tidak berguna sama sekali.
***Kamar tidur Chang Ru***
Chang Ru berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya karena A Ling dan A Mei masih belum mengabari kedatangan tandu merah yang menjemputnya ke Istana Timur.
Padahal Chang Ru mendengar jelas suara iringan musik meriah yang biasanya dimainkan untuk menjemput mempelai wanita. Bahkan suara petasan yang panjang juga terdengar jelas oleh Chang Ru.
"A Ling dan A Mei sangat bodoh! Mengapa mereka masih belum mengabariku?" ujar Chang Ru dengan kesal.
Suara ketukan pintu kamar dari luar membuat Chang Ru segera membuka pintu.
"Putri mahkota! Tandu mempelai sudah tiba untuk menjemput putri mahkota ke Istana Timur!" lapor A Ling.
Chang Ru mengangkat sedikit kain merah yang menutup wajahnya agar bisa melihat A Ling dan A Mei.
Plak! Plak!
"Pelayan bodoh! Kalian sengaja ingin membuatku malu dan terlambat tiba di Istana Timur? Tandu mempelai sudah tiba lebih dari tiga puluh menit yang lalu dan kalian baru datang memanggilku?" tanya Chang Ru dengan kesal.
"Maaf putri mahkota. Tandu mempelai dari Istana Timur baru saja tiba lima menit yang lalu," jawab A Ling jujur dengan tubuh gemetaran.
"Baru tiba? Tidak mungkin! Iringan musik tadi….."
Chang Ru menghentikan perkataannya secara tiba-tiba. Dugaan yang muncul di dalam pikiran membuat amarah Chang Ru semakin memuncak.
"Di mana Chang Le?"
"Wang Fei sudah dijemput oleh tandu mempelai dan sedang dalam perjalanan ke Kediaman Pangeran Wei Bu Yi."
"Cepat tuntun aku ke tandu mempelai!" perintah Chang Ru.
Kain merah yang menutup kepala dan wajah Chang Ru membuatnya susah berjalan untuk mencapai pintu utama sehingga A Ling dan A Mei menuntun tangan Chang Ru dari sisi yang berbeda. Chang Ru semakin mempercepat langkah kakinya karena tidak ingin Yang Zi tiba duluan di Istana Timur.
Ketika tiba di pintu utama, Chang Ru tidak memedulikan Li Ming dan langsung menuju tandu mempelai. Li Ming tidak merasa tersinggung melainkan sangat lega karena tidak perlu menggendong adik tiri yang pernah mencelakai Chang Le, adik kandungnya.
Sepuluh pelayan dari Kediaman Jenderal Li Jin yang dipilih untuk ikut Chang Ru ke Istana Timur berlarian cepat untuk bergabung dalam rombongan tandu mempelai.
__ADS_1
"Cepat berangkat!" perintah Chang Ru dari dalam tandu.
Tandu merah mempelai diangkat meninggalkan Kediaman Jenderal Li Jin menuju Istana Timur. A Niu segera membakar petasan untuk mengiringi kepergian rombongan Chang Ru.
Sementara kerumunan rakyat yang berkumpul sejak tadi tidaklah memberikan sorak gembira seperti yang mereka lakukan terhadap rombongan Wei Bu Yi beberapa waktu yang lalu.
Tandu mempelai yang menjemput Chang Ru terkesan terburu-buru pergi dan juga Wei Wu Xian tidak datang menjemput sehingga tandu mempelai yang menjemput Ying Ying mendapatkan lebih banyak pujian.
Sepanjang perjalanan menuju Istana Timur, Chang Ru mengumpat kasar di dalam hatinya. Jenderal Li Jin, Chang Le, Li Ming, dan Feng Xi menjadi sasaran umpatan-umpatan kasar tersebut.
Chang Ru menyalahkan Jenderal Li Jin memperbolehkan Chang Le pergi dengan tandu mempelai sehingga membuatnya kehilangan muka.
"Sejak kecil, si tua itu selalu pilih kasih ke Chang Le! Baguslah dia memutuskan hubungan! Aku pun tidak sudi bertemu dengannya lagi!"
Chang Ru tidak mau mengakui keterlambatan rombongan dari Istana Timur lah yang menjadi sumber penyebab semuanya.
"Awas kalian semua! Aku akan membalasnya!" batin Chang Ru.
Tiba-tiba Chang Ru membungkukkan badan dan memegang bagian perut atas. Ulu hati Chang Ru terasa sakit dan nyeri. Akan tetapi, rasa sakit itu menghilang dengan cepat.
"Ada apa dengan tubuhku?" gumam Chang Ru.
"Putri mahkota! Kita sudah tiba di Istana Timur!"
Suara A Ling dari luar tandu mempelai, membuat Chang Ru merapikan kain yang menutup kepala dan wajahnya serta bersiap untuk turun dari tandu mempelai.
Chang Ru sudah melupakan rasa sakit di ulu hatinya dan menganggapnya bukan masalah besar.
Chang Ru tidak akan menyangka racun di gelang emas phoenix mulai menyerap ke dalam tubuh dan menyerang organ dalam dengan cepat.
Racun dari Ratu Wen tersebut merupakan racun mematikan, tetapi menyerang secara perlahan dan bertahap sehingga Ratu Wen bisa mengendalikan Chang Le dan Chang Ru setiap saat. Jika tidak ada penawar dalam tiga bulan, maka racun itu akan mengambil nyawa mereka berdua sesuai rencana Ratu Wen sejak awal.
Chang Ru memakai kedua gelang emas phoenix dan menyebabkan racun mematikan tersebut bereaksi dua kali lipat di dalam tubuhnya sehingga ajal akan menjemput Chang Ru lebih cepat.
***
Selamat malam readers. Akhirnya Chang Ru dijemput juga dengan tandu mempelai meskipun telat 😂.
Untuk sementara waktu ajal Chang Ru masih belum tiba ya karena author masih memerlukannya tampil di bab lain 😂.
Terima kasih semua readers yang sudah memberi dukungan dengan vote, like, hadiah, tips iklan, dan komentar positif 🤗🙏
Bu Yi dan Ying Ying akan muncul di bab besok.
Don't miss it 🥰
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE