
***Ruang depan Kediaman Jenderal Li Jin***
Chang Ru sangat terkejut dan gembira mendengar jawaban Ying Ying. Terkejut dikarenakan tidak menyangka Ying Ying mengabulkan permintaannya dengan mudah. Gembira dikarenakan berhasil merebut hadiah perhiasan Ratu Wen untuk Ying Ying.
Chang Ru sangat percaya diri di hari pernikahannya, dirinya lebih unggul dibandingkan Yang Zi karena memakai semua perhiasan hadiah dari Ratu Wen, sedangkan Yang Zi tidak mendapatkan perhiasan apa pun. Wajah kesal dan marah Yang Zi sudah terbayang di pikiran Chang Ru saat ini.
Chang Ru yakin perihal mahar nikah miliknya tidak akan ditambah oleh Jenderal Li Jin dikarenakan dirinya ketahuan menjadi kaki tangan Ratu Wen untuk mencelakai Pangeran Wei Bu Yi, tetapi setidaknya hadiah perhiasan dari Ratu Wen untuk Chang Le berhasil dikuasai olehnya.
"Kak Chang Le! Aku ikut ke kamarmu untuk mengambil kotak perhiasan Ratu Wen!"
"Baiklah!" jawab Ying Ying dengan santai.
Ying Ying tahu Chang Ru khawatir dirinya mengingkari janji dan hanya berakting di depan Jenderal Li Jin. Padahal Ying Ying memang ikhlas dan senang hati memberikan hadiah dari Ratu Wen ke Chang Ru.
Sejak awal Ying Ying keberatan memakai perhiasan itu di hari pernikahannya dengan Wei Bu Yi. Sekarang Ying Ying mempunyai alasan yang tepat untuk tidak menggunakan semua perhiasan tersebut.
Selain itu Ying Ying masih belum membuat obat penawar untuk racun di gelang emas phoenix pemberian Ratu Wen sehingga nantinya tubuh Chang Ru akan keracunan dua kali lipat saat memakai kedua gelang emas phoenix.
***Kamar Li Chang Le***
Roh Li Chang Le menggelengkan kepala menatap punggung Chang Ru yang mulai menghilang dari pandangannya. Chang Ru sudah membawa pergi kotak perhiasan hadiah dari Ratu Wen.
Ying Ying meminta Tan Xiang berjaga di luar kamar dengan alasan ingin meracik ramuan. Padahal Ying Ying ingin bicara pribadi dengan roh Li Chang Le.
"Kak Chang Le! Aku mempunyai rencana bagus agar tuan besar mengetahui sifat asli Bai Lu, Chang Ru, dan Li Teng!"
"Apa rencanamu, Ying Ying?" tanya roh Li Chang Le dengan antusias.
Ying Ying pun memberitahukan semua rencananya ke roh Li Chang Le. Rencana yang melibatkan Li Teng sebagai salah satu pemeran utama.
"Rencanamu sangat sempurna, Ying Ying! Li Teng masih muda dan memiliki banyak sifat yang tidak terpuji. Semoga hasil dari rencanamu ini, Li Teng bisa mengubah semua sifat buruknya!"
Li Teng tidak terlibat dalam rencana pembunuhan Chang Ru terhadap Chang Le dan Ying Ying dalam wujud rubah putih sehingga Ying Ying masih memberinya kesempatan untuk bertobat.
"Kak Chang Le! Walaupun rencanaku ini berhasil, Chang Ru masih akan menjadi putri mahkota. Jangan khawatir! Aku pasti akan membalaskan dendammu hingga tuntas ke Chang Ru dan Wei Wu Xian!"
"Terima kasih, Ying Ying! Aku tahu meskipun nanti aku sudah pergi dari dunia ini, kamu akan melanjutkan pembalasan dendam terhadap mereka berdua!"
"Apakah Kak Chang Le ada keinginan lain yang belum terwujud? Aku akan berusaha membuatnya menjadi nyata!"
"Aku…."
Tiba-tiba roh Li Chang Le teringat akan giok yang menggantung di ikat pinggang Pangeran Tang Jin. Roh Li Chang Le sudah tahu siapa pemilik giok yang serupa, tetapi dirinya menyimpan rahasia itu dari Ying Ying.
"Aku tidak ada keinginan lain lagi!"
"Sepertinya Kak Chang Le menyembunyikan sesuatu dariku!" batin Ying Ying.
"Baiklah! Aku akan menjalankan rencanaku malam ini!" ucap Ying Ying ke roh Li Chang Le.
***Kamar tidur Li Teng***
Malam hari Ying Ying dan roh Li Chang Le masuk ke dalam kamar Li Teng. Ying Ying menggunakan sihir penghilang wujud sehingga tidak terlihat oleh siapapun.
Li Teng sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Ying Ying memusatkan kekuatan sihir di jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya secara bersamaan, lalu diarahkan ke kepala Li Teng.
Dalam waktu singkat, tepatnya di atas kepala Li Teng muncul dengan jelas isi mimpi Li Teng. Didalam mimpinya, Li Teng berada di tempat judi dan memenangkan banyak uang.
"Benar-benar pejudi berat!" ujar roh Li Chang Le.
"Judi sudah menjadi kesenangan yang mendarah daging di dalam tubuh, hati, dan pikiran Li Teng. Rencanaku bisa berjalan dengan mulus!" kata Ying Ying.
Ying Ying menambahkan isi mimpi Li Teng, yang berupa kejadian yang pernah dilihat oleh Li Teng, tetapi sebagian besar direkayasa oleh Ying Ying.
"Ayo kita pergi Kak Chang Le!"
Mereka berdua meninggalkan kamar Li Teng menuju kamar Li Chang Le sendiri.
Ying Ying meniup seruling giok untuk memanggil Run Yu. Run Yu masuk melalui jendela dan berlutut dengan satu kaki di hadapan Ying Ying.
"Run Yu memberi hormat ke Wang Fei!"
"Berdirilah! Aku ingin laporan mengenai apa saja yang dilakukan oleh Ratu Wen dan Putri Tang Yan setiap hari!"
__ADS_1
Run Yu menganggukkan kepala, lalu terbang keluar melalui jendela untuk melaksanakan tugas dari Ying Ying.
Run Yu menghubungi mata-mata Wei Bu Yi, yang ditempatkan untuk mengawasi gerak gerik Ratu Wen dan Putri Tang Yan.
Dalam waktu singkat, Ying Ying mendapatkan informasi bahwa Ratu Wen dan Putri Tang Yan akan tinggal di kuil kerajaan selama dua malam sebelum kembali ke istana.
Pernikahan Panglima Wen Zuo dan Putri Tang Yan akan dilaksanakan di hari ketiga, tetapi Putri Tang Yan tidak tinggal di kediaman Panglima Wen Zuo melainkan tinggal di istana Ratu Wen dengan alasan kesehatan Panglima Wen Zuo masih belum bisa melakukan hubungan suami istri dengan Putri Tang Yan.
Ying Ying tahu semua itu hanyalah alasan Ratu Wen agar bisa mengendalikan Putri Tang Yan dan mempertahankan pernikahan Panglima Wen Zuo dengan ibu Ratu Wen.
**
Hari berganti hari dengan cepat. Suasana Kediaman Jenderal Li Jin selalu meriah setiap hari dikarenakan persiapan pernikahan Ying Ying dan Chang Ru.
Bai Lu mengatur dan mempersiapkan para pelayan yang akan mengikuti Chang Ru maupun Ying Ying pada hari pernikahan nanti.
Kali ini Bai Lu bersikap adil karena tidak ingin kehilangan kepercayaan dari Jenderal Li Jin. Selain itu Bai Lu juga sibuk menjual perhiasannya untuk membayar hutang Li Teng, tetapi jumlah hutang Li Teng sangatlah banyak sehingga masih belum terbayar semuanya.
Bai Lu hampir saja muntah darah saat mengetahui Li Teng masih saja berjudi dan meminjam uang ke rentenir sehingga beban Bai Lu untuk membayar hutang Li Teng bertambah lagi.
Pertengkaran-pertengkaran terjadi diantara Bai Lu dan Li Teng karena hal tersebut. Akan tetapi, Jenderal Li Jin masih belum mengetahuinya.
Tepat satu hari sebelum hari pernikahan Chang Ru dan Ying Ying, terjadi kejadian besar di Kediaman Li Jin.
Li Teng ketahuan menyelinap ke kamar Jenderal Li Jin secara diam-diam oleh Jenderal Li Jin sendiri. Saat itu Li Teng sedang membuka ruangan rahasia kecil milik Bai Lu di bawah tempat tidur.
Jenderal Li Jin sangat terkejut melihat adanya ruangan rahasia itu. Apalagi di dalamnya ditemukan beberapa botol kecil dengan warna yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, Jenderal Li Jin mengundang tabib kepercayaannya untuk memeriksa apa isi semua botol kecil itu. Hasil pemeriksaan membuat Jenderal Li Jin sangat terkejut sehingga memerintahkan pelayan untuk memanggil Bai Lu, Chang Ru, Ying Ying, Li Ming, dan Feng Xi ke dalam kamarnya.
Wajah Bai Lu dan Chang Ru pucat seketika saat melihat ruangan rahasia kecil miliknya terbuka lebar. Jenderal Li Jin menyadarinya.
Sementara Ying Ying mengarahkan ujung jari telunjuk ke arah kening Li Teng. Sihir kejujuran meresap ke dalam tubuh Li Teng. Li Teng akan berbicara jujur selama beberapa jam ke depan.
"Ada apa ayah memanggil kita semua untuk berkumpul di sini?" tanya Li Ming.
Jenderal Li Jin tidak menjawab pertanyaan Li Ming, melainkan menatap tajam Li Teng.
"Aku mencari perhiasan dan uang milik ibu!"
"Perhiasan dan uang? Kamu ingin mencuri?" tanya Li Ming.
"Bukan, Kak Li Ming! Aku….aku ingin membayar hutang judi!"
Di dalam mimpi rekayasa Ying Ying, Li Teng melihat banyak perhiasan dan juga hadiah uang dari Kaisar Wei disimpan di sana. Tetapi Bai Lu sama sekali tidak bisa membayar semua hutangnya sehingga Li Teng mengira Bai Lu berbohong dan memutuskan untuk mengambil sendiri semua uang serta perhiasan yang melimpah di dalam ruangan rahasia.
Bai Lu segera berlutut di hadapan Jenderal Li Jin.
"Li Jin! Maafkan Li Teng! Dia berjudi karena ajakan teman-temannya!"
Jenderal Li Jin tidak memedulikan permohonan Bai Lu. Hari ini dirinya harus mengetahui semua dengan sejelas-jelasnya.
*Bagaimana kamu bisa tahu ruangan rahasia itu?" tanya Jenderal Li Jin ke Li Teng.
"Ibu pernah membuka ruangan rahasia itu bersama Kak Chang Ru. Aku tidak sengaja mengintip dari luar kamar!"
Li Teng berkata jujur. Ketika Bai Lu memperlihatkan ruangan rahasia ke Chang Ru, roh Li Chang Le menyadari Li Teng sedang mengintip dari luar kamar sehingga memberitahukan hal tersebut ke Ying Ying.
"Kamu tahu apa isi botol-botol kecil di dalam ruangan rahasia?" tanya Jenderal Li Jin dengan tatapan menyelidiki.
Tubuh Bai Lu gemetaran mendengar pertanyaan Jenderal Li Jin. Bai Lu berfirasat Jenderal Li Jin sudah mengetahui semua isi di dalam botol kecil.
"Tidak tahu! Tetapi ibu memberikan beberapa botol ke Kak Chang Ru!"
"Li Teng!" teriak Bai Lu dan Chang Ru bersamaan.
"Feng Xi! Selidiki kamar Chang Ru!"
"Baik, ayah angkat!"
Lima belas menit kemudian, Feng Xi membawa dua botol dan menyerahkannya ke Jenderal Li Jin. Kedua botol itu sama persis dengan dua botol lain yang berada di dalam ruangan rahasia.
Jenderal Li Jin membuka kedua botol itu dan memeriksa isinya. Isi dari salah satu botol tinggal setengah sehingga bisa dipastikan Chang Ru sudah pernah memakainya lebih dari satu kali.
__ADS_1
"Bai Lu! Kamu mengajari Li Teng dan Chang Ru menjadi anak yang jahat dan berperilaku buruk!"
"Semua obat itu sudah pernah kamu pakai. Siapa saja yang sudah menjadi korban mu?" tanya Jenderal Li Jin.
Bai Lu tidak berani menjawab melainkan menangis tersedu-sedu, seolah-olah dirinya adalah korban.
Jenderal Li Jin mengambil botol ukuran paling kecil dan mengarahkannya ke Bai Lu.
"Aku lah korban dari obat ini! Kamu berani menjebakku di saat Ling Qi sakit keras!"
Plak! Plak!
Dua tamparan mendarat keras di pipi Bai Lu.
"Ayah tidak boleh memukul ibu!" teriak Chang Ru.
"Chang Ru! Siapa korban mu? Chang Le kah? Atau putra mahkota juga?" tanya Jenderal Li Jin.
Wajah Chang Ru semakin pucat karena pertanyaan Jenderal Li Jin, bahkan Chang Ru tidak berani bertatapan secara langsung dengan Jenderal Li Jin.
Ekspresi wajah dan tubuh Chang Ru membuat Jenderal Li Jin yakin tebakannya benar.
"Apakah kamu sudah gila, Bai Lu? Kamu menjadikan putrimu sebagai jal*ng untuk menggoda putra mahkota!" teriak Jenderal Li Jin.
"Maafkan aku, Li Jin! Dulu aku melakukannya karena terlalu mencintaimu! Chang Ru juga sangat mencintai putra mahkota!" ucap Bai Lu dengan suara bergetar.
"Karena terlalu mencintaiku? Lalu kenapa kamu menggunakan obat ini?" tanya Jenderal Li Jin sambil mengangkat botol berwarna kuning.
Ying Ying dan roh Li Chang Le saling berpandangan satu sama lain. Mereka berdua tidak tahu apa isi obat di dalam botol kuning.
"Penyakit Chang Le dikarenakan obat ini! Kamu sengaja membuat Chang Le menjadi tidak normal agar putrimu bisa menggantikan Chang Le menjadi putri mahkota!"
Semua orang menatap Bai Lu, Jenderal Li Jin, dan botol berwarna kuning itu secara bergantian. Kebenaran yang diungkapkan oleh Jenderal Li Jin membuat kemarahan memuncak di hati Feng Xi, Li Ming, dan Ying Ying.
"Mulai saat ini aku menceraikanmu, Bai Lu! Kamu tidak boleh menginjakkan kaki di ibukota Luoyang! Jika tidak, nyawamu akan melayang! Pengawal akan membawamu ke kota Shan Du!"
"Ayah! Jangan usir ibu!" pinta Li Teng.
"Keputusanku sudah bulat! Jika kamu ingin pergi bersama ibumu, kamu bukan lagi putra dari Li Jin!"
"Chang Ru! Kamu bisa menjadi putri mahkota sesuai keinginanmu, tetapi mulai hari ini aku bukan ayahmu lagi! Hidup mati mu, tidak ada hubungannya denganku!"
Jenderal Li Jin berjalan meninggalkan kamar dengan langkah berat. Roh Li Chang Le mengikutinya dari belakang.
"Ayah!"
Jenderal Li Jin menghentikan langkah kakinya karena panggilan Ying Ying sehingga Ying Ying segera berlari menghampiri Jenderal Li Jin.
"Semua ini bukan salah ayah!"
Ying Ying mewakili roh Li Chang Le memanggil Jenderal Li Jin. Ying Ying tahu Jenderal Li Jin merasa bersalah terhadap roh Li Chang Le dan juga Ling Qi.
"Chang Le! Kamu memang anak yang baik!" ucap Jenderal Li Jin sambil menepuk pundak Ying Ying dengan lembut, lalu berjalan meninggalkan kamar.
Feng Xi dan Li Ming segera memanggil pengawal untuk membawa Bai Lu pergi. Bai Lu tidak melawan karena dirinya tidak ingin mati.
"Ibu! Aku akan mencari ibu di kota Shan Du!" janji Chang Ru.
"Chang Ru! Kamu harus menjadi putri mahkota dan ratu Kerajaan Wei di masa depan!"
"Aku berjanji, ibu!" jawab Chang Ru.
***
Selamat malam readers. Bab ini up pukul 23.20 wita. Semoga lancar. Bab nya panjang, dua ribu kata lebih (setara dua bab). Jadinya 3 bab hari ini 😊
Mata author sudah perih nih 😂. Good night semuanya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1