
***Kamar Yang Zi***
Hari sudah larut malam, tetapi Yang Zi masih belum tidur. Sepasang matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Hari ulang tahun Yang Zi bukanlah hari ini, melainkan tujuh bulan lagi. Perayaan ulang tahun ini merupakan permintaan dari Wei Wu Xian dan juga rencana Ratu Wen untuk membuat Li Chang Le datang ke Istana Timur.
Yang Zi mengalihkan perhatiannya dari langit-langit kamar ke arah bantal di sampingnya.
Sejak menikah dan tinggal di Istana Timur, setiap malam Wei Wu Xian akan tidur di kamar Yang Zi. Wei Wu Xian tidak pernah menginap di kamar Chang Ru.
Hal itu membuat Yang Zi sangat gembira. Yang Zi yakin dirinya bisa menjadi putri mahkota menggantikan Chang Ru dalam waktu dekat.
Kegembiraan Yang Zi menjadi hampa saat mengetahui Wei Wu Xian akan berhubungan mesra dengan Chang Le malam ini. Chang Le akan menjadi ancaman besar.
Yang Zi berfirasat Wei Wu Xian lebih memilih Chang Le menjadi putri mahkota di masa yang akan datang. Semua dikarenakan Yang Zi mengetahui satu rahasia besar Wei Wu Xian.
Beberapa kali saat mereka berhubungan mesra, Yang Zi selalu mendengar Wei Wu Xian memanggil nama Chang Le sehingga membuat Yang Zi sadar dirinya hanya dijadikan pengganti saja.
Entah sejak kapan, Li Chang Le sudah menguasai hati dan pikiran Wei Wu Xian. Semakin tidak bisa mendapatkan Li Chang Le, maka Wei Wu Xian akan semakin mendambakan Li Chang Le.
Yang Zi menyentuh perutnya yang masih rata. Keinginannya untuk hamil pangeran pertama dari Wei Wu Xian pupus seketika dikarenakan Yang Zi datang bulan tadi pagi.
Saat Yang Zi memberitahukan Wei Wu Xian bahwa dirinya tidak bisa melayani Wei Wu Xian malam ini, suasana hati Wei Wu Xian tidak berubah menjadi buruk sama sekali. Yang Zi tahu Wei Wu Xian akan menghabiskan malam ini bersama Chang Le.
Air mata mengalir deras membasahi pipi Yang Zi. Yang Zi segera menutupi wajahnya dengan bantal agar suara tangisannya tidak terdengar keluar.
"Li Chang Le masih berstatus sebagai permaisuri Pangeran Wei Bu Yi. Aku harus segera hamil untuk memperkuat kedudukan di Istana Timur!" tekad hati Yang Zi.
Suara ketukan pintu dari luar kamar membuat Yang Zi mengelap air matanya dengan cepat.
"Masuklah!"
Ning Ning, pelayan pribadi Yang Zi membuka pintu kamar dan berjalan menghampiri tempat tidur. Di belakang Ning Ning, ada satu pelayan wanita.
"Ada apa, Ning Ning?" tanya Yang Zi dengan suara ketus karena Ning Ning berani mengganggu waktu istirahatnya.
"Maaf Selir Yang Zi. Pelayan Nona Rou Rou ingin menemui Selir Yang Zi!"
Rou Rou merupakan salah satu tamu undangan. Beberapa tamu undangan yang mabuk berat diizinkan oleh Yang Zi untuk menginap di Istana Timur. Rou Rou termasuk ke dalam tamu yang menginap.
Pelayan Rou Rou segera berlutut di hadapan Yang Zi dan menangis tersedu-sedu.
"Nona Rou Rou hilang dari kamar! Hamba mohon Selir Yang Zi mengirim pengawal untuk mencarinya."
"Bagaimana Nona Rou Rou bisa hilang?"
"Hamba pergi ke dapur untuk memasak sup penghilang mabuk. Ketika hamba mengantar sup penghilang mabuk ke kamar, Nona Rou Rou tidak ada di sana," jawab pelayan Rou Rou panjang lebar.
Ching Ching, pelayan pribadi Yang Zi juga berlari masuk ke dalam kamar. Wajah Yang Zi menjadi tegang saat melihat ada empat pelayan lain mengikuti Ching Ching dari belakang.
"Selir Yang Zi! Nona muda mereka berempat menghilang dari kamar!" lapor Ching Ching.
Satu persatu pelayan itu menceritakan bagaimana nona muda mereka menghilang secara tiba-tiba. Ternyata cara mereka berempat menghilang sama seperti Nona Rou Rou.
Kelima wanita itu menghilang secara bersamaan membuat Yang Zi harus bertanggung jawab membantu menemukan mereka. Yang Zi tidak mungkin meminta bantuan Wei Wu Xian, yang sedang bersenang-senang di kamar lain. Yang Zi memutuskan menemui Ratu Wen, yang juga menginap di Istana Timur.
***
Ratu Wen memimpin pencarian kelima tamu undangan yang menghilang di Istana Timur. Penjagaan di Istana Timur sangatlah ketat sehingga hilangnya kelima wanita itu membuat Ratu Wen berfirasat buruk.
"Siapa yang berani membuat kekacauan di Istana Timur? Aku akan memberi hukuman berat!" batin Ratu Wen.
__ADS_1
Pada saat rombongan Ratu Wen memasuki halaman tempat kamar tamu yang dipersiapkan untuk Li Chang Le alias Ying Ying, langkah kaki Ratu Wen berhenti secara tiba-tiba karena seorang wanita muda berlari menghampirinya.
"Ibunda!"
"Chang Le! Mengapa kamu di luar kamar?" tanya Ratu Wen sambil berusaha bersikap tenang.
Yang Zi juga sama terkejutnya dengan Ratu Wen melihat kemunculan Ying Ying. Yang Zi menatap Ying Ying dari atas kepala hingga ujung kaki.
Hanfu yang dipakai Ying Ying masih rapi dan lengkap, tetapi wajah Ying Ying pucat dan terlihat sangat gelisah.
"Ada orang lain di dalam kamar. Aku tidak berani masuk!"
"Apakah Nona Rou Rou salah masuk kamar?" tanya pelayan Rou Rou dengan polos.
Pelayan Rou Rou mengira nona muda nya salah masuk kamar dan mabuk sehingga tidak ditemukan di kamar semula.
"Mungkin Nona Ting Ting!"
"Mungkin juga Nona Yue Yue!"
"Bukan! Bukan mereka! Ada tiga orang!"
Ying Ying menjawab dengan anggukkan kepala yang keras dan sepasang matanya terlihat ketakutan bertatapan secara langsung dengan Ratu Wen.
Ratu Wen yang semula mengira maksud dari perkataan Ying Ying adalah Wei Wu Xian menjadi khawatir akan identitas dari tiga orang yang dimaksud oleh Ying Ying.
"Jangan takut, Chang Le! Ceritakan semuanya ke ibunda!"
Ying Ying menganggukkan kepala dengan patuh. "Ketika A Ling pergi setelah mengantarku ke kamar, aku merasa mual dan ingin muntah sehingga keluar dari kamar untuk menghirup udara segar. Saat aku merasa baikan dan ingin kembali ke kamar, aku melihat Putri Tang Yan dan dua kasim masuk ke sana sehingga aku menunggu di luar. Aku tidak tahu mengapa Putri Tang Yang masuk ke kamar itu."
Ratu Wen menatap intens ekspresi wajah Ying Ying. Tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana sehingga Ratu Wen mempercayainya.
"Putri Tang Yan dan dua kasim? Siapa kedua kasim itu?" batin Ratu Wen.
***
"Ahhh!"
Suara teriakan yang tinggi menggema di dalam kamar. Wajah Ratu Wen dan Yang Zi menjadi pucat seketika. Suara teriakan itu berasal dari mereka berdua.
Ying Ying berbalik menghadap ke belakang untuk menghindari pemandangan yang sangat memalukan di depan sana, tepatnya di atas lantai.
"Cepat pisahkan mereka!" perintah Ratu Wen.
Para pengawal segera maju dan memisahkan Putri Tang Yan dengan seorang pria, serta memisahkan Wei Wu Xian dengan pria lainnya. Mereka juga melepas jubah luar untuk menutupi tubuh polos Wei Wu Xian dan Putri Tang Yan.
Walaupun begitu, terlihat jelas Wei Wu Xian dan Putri Tang Yan meronta-ronta untuk melepaskan diri. Kedua pria juga melakukan hal yang sama sehingga para pengawal memukul kedua pria itu hingga pingsan.
Kejadian ini mengingatkan Ratu Wen akan keadaan Panglima Wen Zuo saat tertangkap basah bersama Putri Tang Yan.
"Panggil Tabib Huo! Cepat panggil Tabib Huo!"
Keadaan lantai kamar yang berantakan penuh dengan sobekan baju membuat Ratu Wen yakin dosis racun pemikat dan racun cinta di tubuh Wei Wu Xian dan Putri Tang Yan sangat banyak.
Ying Ying membalikkan tubuhnya lagi menghadap ke arah rombongan Ratu Wen untuk melanjutkan kejutan besar yang dipersiapkan olehnya.
Ying Ying melihat Ratu Wen berusaha bersikap tenang, sedangkan Yang Zi jatuh terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu.
Sementara Wei Wu Xian dan Putri Tang Yan masih meronta-ronta seperti orang gila. Bahkan pakaian yang menutup tubuh Putri Tang Yan menjadi tersingkap lagi, tetapi kedua pengawal yang menahan tangan Putri Tang Yan tidak ada yang bermaksud untuk membantu menutup kembali.
"Ibunda! Kedua pengawal itu bersikap aneh!" ujar Ying Ying sambil menunjuk kedua pengawal yang mulai menyentuh tubuh Putri Tang Yan.
__ADS_1
Ratu Wen tahu racun pemikat dari tubuh Putri Tang Yan sudah meresap ke kulit tubuh kedua pengawal sehingga Ratu Wen menampar wajah Putri Tang Yan.
Tamparan Ratu Wen sangat keras sehingga Putri Tang Yan pingsan.
"Chang Le, Yang Zi! Bawa Putri Tang Yan ke tempat tidur!" perintah Ratu Wen.
Ratu Wen tidak mau pengawal yang lain terkena efek dari racun pemikat sehingga hanya Ying Ying dan Yang Zi bisa menyentuh Putri Tang Yan, tanpa takut terkena efek racun pemikat.
"Baik, ibunda!"
Yang Zi segera berdiri dari lantai dan bersama Ying Ying memapah Putri Tang Yan menuju tempat tidur.
Ying Ying tersenyum samar dan mengarahkan jari telunjuk yang sudah dialiri kekuatan sihir ke arah tempat tidur, tepatnya di atas selimut tebal sehingga selimut tebal itu tersingkap sedikit dan memperlihatkan lima pasang kaki.
"Argh! Ada orang di atas tempat tidur!" teriak Yang Zi.
Ratu Wen memberi isyarat tangan ke pengawal sehingga dua pengawal menghampiri tempat tidur.
"Ibunda! Aku akan mengikuti pengawal untuk memeriksa siapa di atas tempat tidur!" ucap Ying Ying sambil melepaskan tangannya yang sedang memapah Putri Tang Yan.
Yang Zi pun ikut melepaskan tangannya dari tubuh Putri Tang Yan sehingga tubuh Putri Tang Yan dibiarkan tergeletak di lantai.
Kedua pengawal membuka selimut dari bagian atas secara perlahan. Sepasang mata Yang Zi membulat besar menatap lima wajah wanita yang masih tertidur.
Selimut tebal itu ditarik perlahan ke bawah memperlihatkan leher, lalu bahu danโฆ.
"Hentikan! Mereka dalam keadaan tel**jang!" bentak Ying Ying sambil menepis keras tangan kedua pengawal.
Wajah kedua pengawal memerah karena merasa malu ditegur oleh Ying Ying. Mereka segera menjauhkan diri dari tempat tidur.
"Siapa mereka?" tanya Ratu Wen.
Yang Zi menoleh ke belakang untuk menjawab pertanyaan Ratu Wen.
"Mereka lima wanita yang menghilang tadi."
Jawaban Yang Zi membuat Ratu Wen merasakan kepalanya sangat pusing. Yang Zi pun merasakan hal yang sama.
Walaupun Yang Zi berusaha menipu diri sendiri bahwa Wei Wu Xian tidak mungkin menyentuh kelima wanita jelek di atas tempat tidur, tetapi kehebatan dari racun pemikat itu bisa membuat kesadaran Wei Wu Xian hilang.
Ratu Wen pun sepemikiran dengan Yang Zi bahwa kelima wanita itu sudah berhubungan mesra dengan Wei Wu Xian terlebih dahulu akibat racun pemikat. Kemudian Putri Tang Yan dan kedua pria menyusul masuk ke dalam kamar serta berakhir dengan pergulatan panjang di atas lantai sebelum tertangkap basah oleh rombongan Ratu Wen.
Ratu Wen dan Putri Tang Yan tidak akan pernah menyangka kelima wanita itu masih suci dan belum disentuh oleh Wei Wu Xian.
Ying Ying memang ingin membalas Wei Wu Xian agar memiliki selir yang tidak sesuai dengan selera Wei Wu Xian. Saat makan malam tadi, Ying Ying menyadari kelima wanita ini sangat mengagumi Wei Wu Xian sehingga membantu mengabulkan keinginan mereka.
Ying Ying membawa mereka berlima ke kamar dan melepaskan pakaian mereka, lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal. Kemudian menggunakan sihir ilusi agar Wei Wu Xian, Putri Tang Yan, dan kedua pria itu tidak melihat keberadaan kelima wanita di atas tempat tidur.
Oleh karena itu, mereka berempat hanya bisa saling melihat satu sama lain di bawah pengaruh racun pemikat dan racun cinta.
***
Selamat malam readers. Bab ini up pukul 22.50 wita (2000 kata).
Cerita bab ini hanya fiksi dan untuk hiburan semata. Bukan untuk ditiru ya readers. Hanya bumbu dalam cerita saja ๐๐๐
Bab besok babang Bu Yi pulang nih๐ฅฐ
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE