
Sepuluh pembunuh bayaran yang terkena puing kereta kuda dan terjatuh, bangun dengan cepat dan bergabung dengan sepuluh pembunuh bayaran lainnya.
Para pembunuh bayaran itu mengepung rombongan Wei Bu Yi. Ying Ying melihat jelas aura hitam mengelilingi tubuh para pembunuh bayaran.
"Mereka menggunakan sihir hitam!" ucap Ying Ying dengan yakin.
Wei Bu Yi menganggukkan kepala pertanda setuju dengan pemikiran Ying Ying.
"Lapor Pangeran Wei Bu Yi! Dari pertarungan secara langsung dengan para pembunuh bayaran, aku dan Xiao Duo yakin mereka berasal dari Kerajaan Wu Barat. Jurus dan sihir hitam yang digunakan sama dengan peperangan tujuh tahun yang lalu!"
"Sesuai perkiraanku, mereka tidak bisa menahan diri untuk mengambil nyawaku lagi!" ujar Wei Bu Yi.
"Bunuh Pangeran Wei Bu Yi!"
Salah satu pembunuh bayaran berteriak keras dan memberi aba-aba dengan isyarat tangan. Mereka berlari cepat ke arah Wei Bu Yi sambil mengacungkan pedang.
Pertarungan sengit pun terjadi. Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo menghalangi beberapa pembunuh bayaran dengan pedang di tangan mereka.
Sementara Wei Bu Yi dan Ying Ying menggunakan pedang Yin-Yang menangkis serangan dari para pembunuh bayaran.
Walaupun sebagian besar pembunuh bayaran mengepung Wei Bu Yi dan menyerangnya dengan agresif, tetapi Wei Bu Yi melawan mereka dengan tenang.
Pedang Wei Bu Yi menebas maupun menusuk musuh tanpa belas kasihan dan gerakan tangan yang cepat. Begitupun juga dengan Ying Ying.
Suara jeritan kesakitan para pembunuh bayaran terdengar jelas di setiap kali terkena pedang Yin-Yang, sedangkan pembunuh bayaran lain yang terluka oleh serangan Kasim Da Duo, Kasim Xiao Duo, dan Tan Xiang tidak memberikan reaksi yang sama.
Ying Ying menyadari luka di tubuh pembunuh bayaran yang terkena pedang Yin-Yang melepuh dan menyebarkan bau daging terbakar.
"Pedang spiritual merupakan senjata yang paling tepat untuk melawan sihir hitam," batin Ying Ying.
Ying Ying terbang ke arah Tan Xiang dan membawanya menghindari tempat pertarungan. Para pembunuh bayaran tidak mengejar mereka, melainkan fokus menyerang Wei Bu Yi.
"Mengapa Wang Fei melarikan diri?" batin Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo bersamaan.
Sementara Wei Bu Yi tidak sepemikiran dengan kedua kasim kepercayaannya. Wei Bu Yi percaya Ying Ying tidak mungkin bersikap egois dan melarikan diri.
***
"Nona Chang Le mau meninggalkan Pangeran Wei Bu Yi?" tanya Tan Xiang sambil menatap ke arah tempat pertarungan berlangsung.
"Tidak!" jawab Ying Ying singkat.
Ying Ying juga sedang mengamati pertarungan disana. Setelah memastikan Wei Bu Yi tidak berada dalam bahaya, Ying Ying pun mengeluarkan puing-puing gua transparan dan menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengubah puing itu menjadi tiga senjata spiritual.
Ketiga senjata spiritual itu berupa pedang sabit, tombak panjang, dan sepasang golok kembar.
"Para pembunuh bayaran menggunakan sihir hitam. Senjata kalian tidak bisa melukai mereka," ucap Ying Ying.
"Pedang sabit yang panjang ini cocok untukmu."
__ADS_1
"Terima kasih Nona Chang Le!" jawab Tan Xiang sambil membuang pedang di tangannya dan menerima pedang sabit.
Ying Ying tersenyum kecil, lalu membawa Tan Xiang terbang menuju tempat pertarungan.
"Wang Fei!" seru Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo kegirangan.
Kedua kasim itu menyesal sudah berpikiran negatif terhadap Ying Ying tadi.
"Kasim Da Duo! Tangkap!"
"Kasim Xiao Duo! Tangkap!"
Ying Ying melemparkan sepasang golok kembar ke Kasim Da Duo dan tombak panjang ke Kasim Xiao Duo.
Kedua jenis senjata spiritual itu dibuat sesuai postur tubuh mereka berdua. Tubuh tinggi Kasim Da Duo cocok menggunakan sepasang golok kembar, sedangkan tubuh pendek Kasim Xiao Duo cocok menggunakan tombak panjang untuk melawan musuh.
"Terima kasih Wang Fei!" ucap Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo bersamaan.
Mereka berdua melirik sekilas ke arah Tan Xiang yang sedang bertarung dengan menggunakan pedang sabit. Dalam hati kecil mereka berdua tahu alasan Ying Ying meninggalkan tempat pertarungan tadi adalah untuk membuat senjata spiritual.
Ying Ying menyerang para pembunuh bayaran yang mengepung Wei Bu Yi sehingga dalam waktu singkat Ying Ying sudah berdiri di samping Wei Bu Yi.
"Bu Yi! Aku kembali!"
"Aku percaya kamu tidak mungkin meninggalkanku!"
Perkataan Wei Bu Yi membuat pipi Ying Ying terasa panas dan merona merah sehingga mencoba mengalihkan perhatian agar Wei Bu Yi tidak menyadari rona merah di wajahnya.
"Bunuh mereka!"
Kasim Da Duo, Kasim Xiao Duo, dan Tan Xiang menggunakan senjata spiritual mereka menyerang para pembunuh bayaran dengan agresif.
Di antara mereka bertiga, ilmu bela diri Tan Xiang paling rendah sehingga pedang sabit panjang sangat membantunya melukai para pembunuh bayaran dan juga bisa menjaga jarak dengan musuh.
Beberapa waktu kemudian, para pembunuh bayaran terbunuh. Rombongan Wei Bu Yi menang telak karena memiliki senjata spiritual.
"Terima kasih Wang Fei! Jika bukan karena ada senjata spiritual ini, kita akan bertarung dalam waktu yang lama," ucap Kasim Da Duo.
Hari semakin gelap dan hanya terlihat sedikit kerlip bintang di langit, tanpa cahaya bulan karena bulan purnama sudah lewat tujuh hari yang lalu.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini!" usul Ying Ying.
Walaupun para pembunuh bayaran sudah mati, tetapi tidak menutup kemungkinan munculnya pembunuh bayaran lain yang akan menyerang mereka jika mereka masih berada di tempat itu.
Rombongan Wei Bu Yi berjalan menghampiri kereta kuda yang sudah rusak. Mereka tidak mungkin menggunakan kereta kuda untuk pulang, tetapi keempat kuda yang menarik kereta kuda masih berada di sana.
Wei Bu Yi mengangkat tubuh Ying Ying secara tiba-tiba dan menurunkannya di atas punggung salah satu kuda, lalu ikut naik dan duduk dibelakang Ying Ying.
Gerakan Wei Bu Yi sangat cepat sehingga saat Ying Ying sadar, dirinya sudah duduk diatas kuda yang sama dengan Wei Bu Yi.
__ADS_1
Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo mengerti maksud Wei Bu Yi. Kasim Xiao Duo membantu Tan Xiang naik ke salah satu kuda.
"Tan Xiang bisa menunggang kuda?" tanya Kasim Xiao Duo.
"Bisa!"
Kasim Xiao Duo naik ke atas punggung kuda ketiga setelah mendapatkan jawaban Tan Xiang.
Sementara Kasim Da Duo mengangkat mayat kusir kuda dan meletakkannya di atas punggung kuda terakhir, sebelum dirinya naik ke atas kuda yang sama.
"Ke Kediaman Jenderal Li Jin!" perintah Wei Bu Yi sambil mengepakkan kakinya dengan kuat sehingga kuda yang ditungganginya berlari kencang.
Kasim Da Duo, Kasim Xiao Duo, dan Tan Xiang mengikuti Wei Bu Yi dari belakang. Suara derapan kaki kuda memecah kesunyian malam.
***
Ini pertama kalinya Ying Ying menunggangi kuda sehingga Ying Ying merasa tegang dan dirasakan oleh Wei Bu Yi.
Tangan kiri Wei Bu Yi memeluk pinggang Ying Ying, sedangkan tangan kanannya mengendalikan tali kekang di leher kuda agar kecepatannya berkurang dibandingkan tadi.
"Jangan takut terjatuh! Aku sangat ahli menunggang kuda!"
"Iya!"
"Lain kali aku akan mengajarimu berkuda!"
"Iya. Aku ingin belajar berkuda!" jawab Ying Ying sambil menganggukkan kepala.
"Ying Ying! Aku mengantarku pulang ke Kediaman Jenderal Li Jin karena besok pagi aku harus berangkat ke perbatasan ibukota untuk menyambut kedatangan perwakilan aliansi dari Kerajaan Tang Selatan."
Sebenarnya Wei Bu Yi ingin Ying Ying tinggal di rumahnya hingga kepulangan rombongan Jenderal Li Jin, tetapi Kaisar Wei memberikan tugas untuk menjemput rombongan perwakilan aliansi dari Kerajaan Tang Selatan sehingga Wei Bu Yi mengantar Ying Ying ke Kediaman Jenderal Li Jin.
"Aku akan menunggumu pulang."
"Run Yu akan melindungimu secara diam-diam. Jika kamu memerlukannya, kamu bisa meniup seruling giok untuk memanggilnya."
"Terima kasih Bu Yi!"
Saat ini Ying Ying baru tahu alasan Wei Bu Yi mengajarinya nada seruling untuk memanggil Run Yu. Ternyata Wei Bu Yi sudah mempersiapkan sejak awal pengawal pribadi untuk melindunginya disaat Wei Bu Yi tidak ada.
Walaupun sekarang kekuatan sihir yang dimiliki Ying Ying membuatnya bisa melindungi diri sendiri, tetapi perhatian dari Wei Bu Yi membuat Ying Ying merasa senang.
***
Selamat malam readers tercinta. Jangan lupa besok senin waktunya vote. Author tunggu ya 🥰
Chang Ru akan berulah lagi nih. Bersiaplah dengan pembalasan dari Ying Ying.
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE