REVENGE OF FOX CONSORT

REVENGE OF FOX CONSORT
Bab 72. Rahasia Wei Bu Yi


__ADS_3

***Kamar tamu tempat Ying Ying menginap***


Ying Ying dan Wei Bu Yi duduk berdampingan di depan meja. Penampilan mereka berdua sudah rapi dan bersih.


Wei Bu Yi masih mengenakan pakaian yang sama, tetapi sudah kering. Wei Bu Yi menggunakan tenaga dalam untuk mengeringkannya.


Sementara Ying Ying sudah memakai hanfu baru. Ying Ying menggantinya dengan kekuatan sihir. Ying Ying tidak mau memakai hanfu hadiah dari Ratu Wen dalam waktu yang lama.


"Ying Ying! Aku…."


Tiba-tiba roh Li Chang Le muncul dari bandul lonceng di pergelangan tangan Ying Ying. Wei Bu Yi pun melihat jelas seberkas cahaya putih kecil tersebut.


"Ada apa Kak Chang Le?"


"Ying Ying! Kak Feng Xi sedang menuju ke sini untuk memeriksa keadaanmu!" jawab roh Li Chang Le dengan panik.


"Kak Feng Xi pasti khawatir dan ingin memastikan apakah aku benar-benar sudah tertidur pulas!"


Roh Li Chang Le menganggukkan kepala pertanda sepemikiran dengan Ying Ying.


"Bu Yi! Kak Feng Xi sedang menuju ke sini. Aku akan menggunakan sihir ilusi sehingga Kak Feng Xi tidak menyadari keberadaanmu di kamar ini!"


"Baiklah!"


Dalam waktu singkat, sihir ilusi sudah menyebar di dalam kamar. Ying Ying segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring disana.


Suara langkah kaki yang mendekati tempat tidur membuat Ying Ying membuka sepasang matanya yang terpejam dan terkejut melihat Wei Bu Yi ikut naik ke atas tempat tidur, lalu berbaring di sebelahnya, tepat di bagian dalam tempat tidur.


Sihir ilusi dari Ying Ying sudah menutupi keberadaan Wei Bu Yi dari orang lain sehingga seharusnya Wei Bu Yi bisa tetap duduk di tempatnya semula. Setelah Feng Xi pergi, mereka bisa melanjutkan perbincangan yang tertunda.


"Bu Yi! Kenapa….."


Ying Ying mengurungkan niat untuk menanyakan tujuan Wei Bu Yi ikut berbaring di tempat tidur karena pendengaran jarak jauhnya sudah mendengar jelas suara langkah kaki mendekat dari arah jendela kamar sehingga Ying Ying berpura-pura tertidur pulas lagi.


Feng Xi masuk ke dalam kamar melalui jendela, lalu berhati-hati mendekat ke tempat tidur.


"Chang Le! Chang Le!"


Suara panggilan lembut dari mulut Feng Xi membuat wajah Wei Bu Yi menjadi tegang. Ying Ying tidak menyadarinya, tetapi bisa merasakan aura dingin menerpa punggungnya.


Feng Xi duduk di samping tempat tidur, lalu mengeluarkan jarum perak berukuran kecil dan tipis.


"Maaf Chang Le! Aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja!" ucap Feng Xi dengan suara kecil.


Feng Xi memegang tangan Ying Ying dan menusuk ujung jari telunjuk Ying Ying dengan jarum perak tersebut.


Ying Ying tetap bersikap tenang karena percaya Feng Xi tidak mungkin membahayakan Li Chang Le, sedangkan Wei Bu Yi memantau semua yang sedang dilakukan oleh Feng Xi sambil memeluk pinggang Ying Ying dari belakang.


Seketika wajah Ying Ying merona merah seketika, tetapi dirinya tidak bisa melakukan apa pun karena sedang berakting tertidur pulas.


Feng Xi tersenyum saat melihat satu tetes darah merah segar keluar dari ujung jari telunjuk Ying Ying, menandakan Ying Ying tidak keracunan.


"Tidurlah yang nyenyak, Chang Le! Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu!"


Feng Yi menepuk punggung tangan Ying Ying dengan lembut dan berdiri, tetapi tiba-tiba Feng Xi membungkukkan badannya mendekati wajah Ying Ying.


Wei Bu Yi spontan menutup bibir Ying Ying dengan tangannya. Tentu saja Feng Xi tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Wei Bu Yi, sedangkan roh Li Chang Le tertawa kecil melihat sikap posesif Wei Bu Yi terhadap Ying Ying.


Wajah Ying Ying semakin memerah seperti kepiting rebus karena suara tertawa roh Li Chang Le, tetapi Ying Ying sendiri tidak tahu apa alasan Wei Bu Yi menutup mulutnya dengan tangan.


Feng Xi merapikan beberapa helaian rambut Ying Ying, yang tidak sengaja menutupi wajah Ying Ying sebelum meninggalkan kamar melalui jendela.

__ADS_1


Feng Xi tidak mungkin masuk melalui pintu kamar karena tidak mau merusak reputasi nama baik Ying Ying.


Wei Bu Yi melepaskan tangannya dari mulut Ying Ying setelah Feng Xi pergi. Ying Ying pun membuka matanya dan menatap roh Li Chang Le.


"Ying Ying! Aku akan mengikuti Kak Feng Xi!"


"Iya, Kak Chang Le!"


Wei Bu Yi melihat seberkas cahaya putih itu terbang keluar melalui jendela sehingga yakin roh Li Chang Le sudah meninggalkan kamar.


Wei Bu Yi terkejut karena Ying Ying membalikkan badan sehingga mereka saling berhadapan dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur.


"Bu Yi! Kenapa kamu menutup mulutku tadi?"


"Aku…. aku khawatir Feng Xi melihat bibirmu yang membengkak!"


"Bibirku membengkak?"


Ying Ying menyentuh bibirnya sendiri dan memang terasa kebas di sana. Ciuman agresif dari Wei Bu Yi tadi yang membuat bibir Ying Ying menjadi kemerahan dan membengkak.


"Ayo kita lanjut ngobrol!"


Ying Ying bangun dari tempat tidur dengan maksud menuju tempat duduk di depan meja agar bisa saling bercerita dengan Wei Bu Yi.


Wei Bu Yi menarik tangan Ying Ying sehingga Ying Ying kembali ke posisi semula, saling berhadapan dengan Wei Bu Yi.


"Kita ngobrrol di sini saja!"


"Baiklah!"


Wei Bu Yi tersenyum kecil, lalu duduk bersandar di tempat tidur. Ying Ying juga duduk bersandar di samping Wei Bu Yi. Kedua tangan mereka saling bergenggaman erat secara spontan.


"Penyakitku sudah sembuh dua tahun yang lalu!"


Sebenarnya Wei Bu Yi ingin memberitahu Ying Ying suatu saat nanti setelah hubungan pernikahan mereka berjalan lancar dan Ying Ying sudah mencintainya.


Wei Bu Yi masih belum yakin Ying Ying akan mencintainya disebabkan sejak awal Ying Ying berinisiatif mengajaknya bekerja sama dengan menjadi pasangan suami istri palsu agar bisa membalaskan dendam untuk Li Chang Le.


Racun pemikat Putri Tang Yan membuat Wei Bu Yi merasa Ying Ying juga mencintainya karena membalas ciuman darinya. Dengan kekuatan sihir yang dimiliki Ying Ying, Wei Bu Yi yakin Ying Ying bisa menghentikan ciuman itu kapan pun jika tidak ada rasa cinta di dalam hati Ying Ying.


Oleh karena itu, Wei Bu Yi memberanikan diri mengakui perasaan hatinya ke Ying Ying. Wei Bu Yi tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Jawaban Ying Ying membuat Wei Bu Yi sangat senang dan lega.


"Tabib Chen yang menyembuhkanmu?"


"Iya! Hanya Tabib Chen, Da Duo, dan Xiao Duo mengetahui rahasia ini!"


"Apakah ada alasan lain kamu menyembunyikannya dari semua orang, termasuk Kaisar Wei?"


"Kamu sangat pintar, Ying Ying!" ucap Wei Bu Yi sambil mencubit pipi Ying Ying dengan gemas.


"Tentu saja! Aku sudah berumur 100 tahun!"


Wei Bu Yi tertawa kecil mendengar candaan Ying Ying. Wei Bu Yi tahu Ying Ying sengaja melakukannya agar dirinya tidak tertekan dan bisa menceritakan semuanya dengan tenang.


"Alasan utamanya adalah karena ibunda mati dibunuh oleh Ratu Wen!"


Wajah sedih Wei Bu Yi membuat hati Ying Ying terasa sakit. Ying Ying menyandarkan kepalanya di dada Wei Bu Yi dan memeluk pinggang Wei Bu Yi dengan erat.


Wei Bu Yi membalas pelukan Ying Ying. "Aku tidak apa-apa, Ying Ying!"


"Aku janji akan membantumu membalas dendam terhadap Ratu Wen!"

__ADS_1


"Iya! Sekarang sudah tiba saatnya aku membuat perhitungan dengan Ratu Wen!'


Ying Ying melepaskan pelukannya dan menatap intens Wei Bu Yi.


"Bu Yi! Aku curiga Ratu Wen berhubungan dengan Kerajaan Wu Barat. Kasim Ma lah yang mendorongku ke kolam istana. Aku mengenali luka di punggung tangannya saat dia mengantar undangan dari Ratu Wen!"


"Sesuai dengan kecurigaanku sebelumnya, pembunuh itu bersembunyi di istana belakang. Ternyata Ratu Wen mengutus Kasim Ma!" batin Wei Bu Yi.


"Ying Ying! Kasim Ma adalah mata-mata dari Kerajaan Wu Barat. Selain itu Kasim Ma bukanlah kasim, melainkan pria normal. Dia mempunyai hubungan mesra dengan Ratu Wen!"


Selama tujuh tahun ini, Wei Bu Yi juga mempunyai mata-mata di istana Ratu Wen. Dalam menjalankan tugasnya mengintai secara diam-diam, mata-mata itu secara tidak sengaja mendengarkan suara sepasang sejoli yang berhubungan mesra di dalam kamar Ratu Wen.


Padahal Kaisar Wei tidak mengunjungi Ratu Wen malam itu dan di dalam kamar hanya ada Kasim Ma sehingga mata-mata itu segera melapor ke Wei Bu Yi.


Wei Bu Yi mengirim bawahannya untuk melacak asal usul Kasim Ma hingga akhirnya identitas asli Kasim Ma diketahui oleh Wei Bu Yi.


"Sebenarnya apa yang terjadi tujuh tahun yang lalu?" tanya Ying Ying.


Ying Ying tahu Wei Bu Yi sudah mengumpulkan setiap potongan puzzle yang mengarah ke kebenaran dibalik kejadian tujuh tahun yang lalu. Kematian mendiang Ratu Xu merupakan potongan puzzle terpenting.


"Tujuh tahun yang lalu, aku yakin bisa memenangkan peperangan dengan Kerajaan Wu Barat dalam waktu dua bulan. Tetapi kabar mengejutkan bahwa ibunda meninggal karena sakit keras membuatku sangat terpukul sehingga terluka parah. Aku berhasil memenangkan peperangan dan pulang untuk mengantar kepergian ibunda yang terakhir kali!"


"Tabib Chen mengundurkan diri dari tabib senior kerajaan menjadi tabib pribadi untuk merawat luka ku. Dayang Fu juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua adalah pelayan setia ibunda saat ibunda masih hidup."


"Pantas saja Tabib Chen tidak pernah menyerah untuk menyembuhkan penyakit Bu Yi," batin Ying Ying.


"Dayang Fu memberitahuku bahwa Ratu Wen selalu mengantar sup mutiara untuk ibunda setiap hari ketika aku sedang berperang dengan Kerajaan Wu Barat. Tabib Chen sudah memeriksa sup mutiara itu dan tidak menemukan racun di dalamnya."


"Satu tahun kemudian, Tabib Chen secara tidak sengaja menemukan petunjuk bahwa sup mutiara akan menjadi racun di dalam tubuh jika dicampur dengan ekstrak kelopak teratai hitam."


"Teratai hitam tumbuh di Kerajaan Wu Barat?"


"Iya. Teratai hitam sangat langka dan hanya tumbuh dalam waktu singkat. Aku curiga Ratu Wen masih menyimpan racun itu di suatu tempat!"


"Bu Yi! Kita pasti akan berhasil menemukan racun itu dan mengirim Ratu Wen menuju kematian!" ucap Ying Ying dengan pasti. Sepasang matanya berbinar-binar menandakan rencana baru sudah muncul di pikirannya.


"Ying Ying! Aku tidak mau kamu membahayakan nyawamu untuk memancing Ratu Wen mengeluarkan racun itu untuk mencelakaimu. Aku yakin pasti akan menemukan cara yang lebih baik. Mengerti?"


"Baiklah! Aku akan menuruti semua perkataanmu!"


Wei Bu Yi tersenyum dan memeluk erat Ying Ying.


"Ying Ying! Berjanjilah untuk tetap berada di sisiku selamanya! Kamu milikku, Ying Ying!"


"Aku berjanji! Kamu juga milikku seorang, Bu Yi!"


"Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita!" bisik Wei Bu Yi di telinga Ying Ying.


"Aku juga!"


Senyuman bahagia menghias di sudut bibir Wei Bu Yi dan Ying Ying bersamaan. Tekad hati mereka berdua sangat kuat. Apa pun yang terjadi di masa yang akan datang, mereka akan menghadapinya bersama.


***


Selamat malam readers. Bab ini up pukul 22.00 wita. Semoga lancar. Cerita sudah panjang, hampir satu setengah bab.


Bab ini spesial sweet sweet Bu Yi dan Ying Ying. Bukan hanya mereka berdua yang tidak sabar menuju hari pernikahan, readers setia juga sudah tidak sabar 😘.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2