REVENGE OF FOX CONSORT

REVENGE OF FOX CONSORT
BAB 22. Keinginan Wei Wu Xian


__ADS_3

***Aula istana Kaisar Wei***


Chen Chen yang ditugaskan mengawasi Ying Ying dan Tan Xiang secara diam-diam dari kejauhan, segera menghampiri Bai Lu dan berbisik di telinga Bai Lu untuk melaporkan perihal Kasim Da Duo mengantar Ying Ying ke tempat duduk di aula istana bagian kanan.


Semula Chen Chen diberi tugas untuk mengelabui Tan Xiang agar menjauh dari Ying Ying, tetapi ketika di dalam kereta kuda, Chen Chen merasakan Tan Xiang menjaga jarak dengannya dan bersikap acuh.


Semua perhatian Tan Xiang ditujukan ke Ying Ying. Bai Lu dan Chang Ru juga menyadari hal itu sehingga rencana untuk mempermalukan Ying Ying pun diubah dengan cepat.


Ying Ying ditinggalkan bersama Tan Xiang. Mereka berdua belum pernah ke istana sehingga bisa dipastikan akan kesulitan menemukan Bai Lu ataupun Chang Ru.


Bai Lu dan Chang Ru mengira Ying Ying pasti berlarian di dalam aula istana untuk mencari mereka, tetapi perkiraan mereka meleset. 


"Sialan! Chang Le idiot sangat beruntung, diselamatkan oleh Pangeran Wei Bu Yi," batin Bai Lu.


Keahlian Bai Lu berakting selama puluhan tahun ini membuat Bai Lu bisa menyimpan rasa kekesalan di hatinya dengan mudah.


Senyuman tipis masih menghias sudut bibir Bai Lu seperti semula. Wibawa sebagai istri dari Jenderal Li Jin dipertahankan dengan baik. Apalagi Bai Lu sedang duduk bersama istri Jenderal lain.


"Chen Chen! Kamu bisa kembali ke sisi Chang Ru," ucap Bai Lu.


"Baik, Nyonya muda!" jawab Chen Chen patuh.


Sama seperti Chang Le, tempat duduk yang dipersiapkan untuk Chang Ru juga berada di aula bagian kanan.


***


"Silakan duduk, Nona Li Chang Le!" ucap Kasim Da Duo sambil menunjuk tempat duduk kosong di samping Pangeran Wei Bu Yi.


"Pangeran Wei Bu Yi!"  sapa Ying Ying sambil melambaikan tangan beberapa kali sebelum duduk di samping Wei Bu Yi.


Wei Bu Yi menjawab dengan anggukkan kepala dan wajah tanpa ekspresi. 


Mata Ying Ying berbinar-binar menatap beraneka ragam kudapan kecil di atas meja. Semua kudapan kecil itu belum pernah dicicipi oleh Ying Ying di Kediaman Jenderal Li Jin sehingga Ying Ying penasaran apakah terasa enak semua kudapan kecil cantik di hadapannya.


Di jamuan makan malam istana, Ying Ying bebas makan apa saja dan Tan Xiang tidak perlu memeriksa makanan Ying Ying dengan jarum perak. 


Ying Ying mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aula istana bagian kanan diperuntukkan untuk para Selir Kaisar Wei, pangeran dan putri Kaisar Wei. Sedangkan aula bagian kiri diperuntukkan untuk para pejabat istana.


Tidak jauh dari tempat duduk Ying Ying, terlihat singgasana Kaisar yang terbuat dari emas. Ada lima tingkatan tangga menuju singgasana dan semuanya dialasi karpet warna coklat keemasan. 


"Ada dua tempat duduk di samping singgasana Kaisar. Itu pasti tempat duduk Ratu Wen dan Selir Ming Lan, selir kesayangan Kaisar Wei," batin Ying Ying.


Ying Ying sudah mencari tahu mengenai siapa saja yang berkuasa dan tekenal di Kerajaan Wei dari mulut Tan Xiang. 

__ADS_1


Tempat duduk di jamuan makan malam istana diatur satu meja dengan dua tempat duduk.


Suami istri akan duduk berdampingan. Ying Ying duduk berdampingan dengan Wei Bu Yi karena mereka berdua sudah bertunangan.


Kecantikan Ying Ying membuat sebagian besar pangeran muda maupun putra pejabat yang duduk di aula bagian kiri menatap ke arah Ying Ying terus menerus sehingga para gadis yang hadir di sana merasa iri dan membenci Ying Ying, yang menjadi pusat perhatian.


Ying Ying mengacuhkan tatapan tidak bersahabat dari para gadis di sekitarnya, tetapi tatapan dari pria yang duduk di seberang membuat Ying Ying terganggu.


Ying Ying tidak menyangka Wei Wu Xian akan memberikan tatapan yang sama dengan pria muda lainnya. Bahkan Wei Wu Xian tersenyum ke arah Ying Ying secara terang-terangan.


Tentu saja Wei Wu Xian mengamati terlebih dahulu apa reaksi Wei Bu Yi terhadap Ying Ying. Sikap dingin dan wajah tanpa ekspresi Wei Bu Yi membuat Wei Wu Xian yakin Wei Bu Yi tidak peduli terhadap Li Chang Le.


Status Li Chang Le sebagai calon permaisuri Wei Bu Yi disebabkan Dekrit Kaisar yang tidak bisa dibantah oleh Wei Bu Yi. Wei Wu Xian percaya bahwa Li Chang Le akan mengalami nasib yang sama seperti ke-6 permaisuri Wei Bu Yi.


"Kecantikan Li Chang Le tidak diragukan lagi, tetapi sangat disayangkan dia tidak normal seperti gadis lain," batin Wei Wu Xian.


Wei Wu Xian meneguk habis arak di cangkirnya sehingga Chang Ru yang duduk disampingnya menuangkan arak baru ke cangkir Wei Wu Xian dengan cepat.


"Putra mahkota jangan minum terlalu banyak. Kaisar Wei dan Ratu Wen belum tiba," ucap Chang Ru dengan lembut.


Wei Wu Xian tidak mendengarkan perkataan Chang Ru sama sekali. Perhatiannya hanyalah fokus menatap wajah Ying Ying sehingga membuat Chang Ru geram.


"Dasar genit! Wanita penggoda! Awas kamu, Chang Le!" batin Chang Ru sambil meremas kuat saputangam miliknya.


"Sangat disayangkan wanita cantik di hadapanku akan mati muda. Jika saja ibunda tidak mengusulkan Li Chang Le menjadi permaisuri Wei Bu Yi, aku bisa menerimanya menjadi selir," batin Wei Wu Xian.


"Dasar menjijikkan!" keluh Ying Ying dalam hati.


Tatapan Wei Wu Xian bagaikan seekor ular berbisa yang sedang mengintai mangsa sehingga membuat Ying Ying kesal.


Walaupun Wei Bu Yi duduk tenang di tempat duduk, tetapi gerak-gerik setiap orang di sekitarnya diketahui pasti oleh Wei Bu Yi.


Tatapan mata kagum terhadap Li Chang Le dari pria lain dapat dimaklumi oleh Wei Bu Yi, tetapi tatapan Wei Wu Xian mempunyai niat yang tidak baik dan sangat tidak sopan sehingga Wei Bu Yi mengarahkan jari telunjuknya dari bawah meja ke Wei Wu Xian.


Tujuan Wei Bu Yi adalah menggunakan tenaga dalam untuk memecahkan cangkir arah di tangan Wei Wu Xian.


Bersamaan dengan itu, Ying Ying berdiri dari kursi secara tiba-tiba dan mengambil satu kue kecil dari atas meja.


"Chang Ru! Kue ini untukmu!" teriak Ying Ying sambil melempar kue kecil.


Cangkir di tangan Wei Wu Xian pecah dan kue kecil yang dilempar Ying Ying mendarat sempurna di wajah Wei Wu Xian.


"Putra mahkota!" teriak Chang Ru.

__ADS_1


Teriakan Chang Ru membuat tamu undangan melihat ke arah Wei Wu Xian.


Chang Ru membersihkan remah-remah kue dari wajah Wei Wu Xian dengan saputangan.


"Kak Chang Le! Kenapa melempar kue ke wajah putra mahkota?" tanya Chang Ru dengan ketus.


"Aku ingin memberimu kue," jawab Ying Ying dengan wajah polos tanpa dosa.


"Maaf putra mahkota," lanjut Ying Ying sambil menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa!" ucap Wei Wu Xian.


Lemparan Ying Ying memang terasa sakit, tetapi Wei Wu Xian tidak menyalahkan Ying Ying karena Ying Ying memang tidak normal seperti gadis lainnya.


Pikiran Wei Wu Xian fokus mengenai cangkir arak yang pecah di tangannya.


"Apakah itu kebetulan atau…?" Wei Wu Xian melirik ke arah Wei Bu Yi, tetapi wajah tanpa ekspresi Wei Bu Yi tidak memberikan jawaban yang diinginkan Wei Wu Xian.


"Kak Chang Le harus dihukum karena melukai putra mahkota," ujar Chang Ru.


"Kamu ingin Kaisar Wei yang menyelesaikan masalah ini?" tanya Wei Bu Yi sambil menatap tajam Chang Ru.


"Bu…bukan begitu Pangeran Wei Bu Yi," jawab Chang Ru terbata-bata.


Chang Ru menoleh ke arah Wei Wu Xian dengan mata berkaca-kaca. Chang Ru berharap Wei Wu Xian membelanya, tetapi malahan mendapatkan tatapan tajam dari Wei Wu Xian.


"Dasar wanita bodoh! Membesar-besarkan masalah sepele!" batin Wei Wu Xian.


"Tidak perlu melibatkan ayahanda. Ini hanya masalah kecil saja," ucap Wei Wu Xian sambil tersenyum palsu ke We Bu Yi.


Wei Bu Yi menoleh ke arah Ying Ying. "Duduklah!" ucap Wei Bu Yi.


"Iya! Duduk!" jawab Ying Ying dengan patuh.


Sebagian besar wajah tamu undangan kecewa karena tidak mendapatkan tontonan yang mereka inginkan. 


Jika saja Wei Bu Yi dan Wei Wu Xian terlibat perdebatan, mereka penasaran Kaisar Wei akan berada di pihak siapa. Akan tetapi, di dalam hati kecil mereka tahu Wei Wu Xian tidak berani menyinggung Wei Bu Yi secara terang-terangan.


***


Selamat malam readers. Jangan lupa baca lanjutannya besok ya.


TERIMA KASIH 🤗

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2