
***Di dalam kereta kuda***
Ying Ying menatap saksama wajah Wei Bu Yi untuk mencari tahu apakah Wei Bu Yi percaya dengan ceritanya, tetapi wajah tanpa ekspresi Wei Bu Yi membuat Ying Ying tidak bisa menebak pikiran Wei Bu Yi.
"Mimpiku sangat sangat sangat nyata. Ying Ying tidak mungkin berbohong padaku. Bahkan sekarang aku mempunyai satu kekuatan tersembunyi sejak memakai gelang ini."
"Kekuatan apa?" tanya Wei Bu Yi.
Ying Ying melambaikan tangan agar Wei Bu Yi mendekat, lalu berbisik di telinga Wei Bu Yi.
"Aku bisa mendengar dari jarak jauh. Rahasia ini hanya Pangeran Wei Bu Yi seorang saja yang tahu. Aku tidak memberitahukannya ke Tan Xiang," jawab Ying Ying.
"Baiklah!"
Jawaban singkat dari Wei Bu Yi membuat Ying Ying tidak puas dan ingin membuktikan bahwa dirinya memiliki keahlian khusus yang mungkin saja bisa membantu Wei Bu Yi di kemudian hari.
Ying Ying tidak mau menjadi gadis lemah yang senantiasa berada di dalam perlindungan Wei Bu Yi. Ying Ying juga tidak mau menjadi beban melainkan ingin berdampingan dengan Wei Bu Yi untuk berjuang bersama-sama melawan musuh mereka.
"Akan ku buktikan keahlianku!" ujar Ying Ying.
Ying Ying meletakkan jari telunjuk di depan bibir sebagai isyarat agar Wei Bu Yi tidak berbicara, lalu memusatkan pendengarannya dengan konsentrasi penuh.
"Aduh! Kenapa saat ini kekuatan pendengaran jarak jauhku hilang?" batin Ying Ying.
Lima menit berlalu dengan cepat dan Wei Bu Yi masih sabar menunggu. Sebenarnya Wei Bu Yi percaya dengan semua perkataan Ying Ying karena Wei Bu Yi pernah mendengar cerita tentang Dewi Rubah dari Ratu Xu saat masih kecil.
Apalagi gelang bandul lonceng yang rusak itu mengeluarkan suara lonceng yang nyaring serta cahaya putih di saat Ying Ying berada dalam bahaya sehingga pastinya merupakan benda sihir.
"Jangan memaksakan diri! Kamu bisa membuktikannya lain kali," ucap Wei Bu Yi.
"Aku pasti bisa! Beri aku waktu sedikit lagi!"
Wei Bu Yi mengambil satu potong kue teratai dan mengulurkan tangan ke arah mulut Ying Ying.
"Makanlah!"
Ying Ying menggigit sedikit kue teratai secara spontan saat mendengar perkataan Wei Bu Yi. Rasa manis dan renyah kue teratai itu membuat perasaan tegang di hati Ying Ying berkurang.
"Terima kasih!"
Ying Ying mengambil sisa potongan kue teratai dari tangan Wei Bu Yi dan makan dengan lahap.
"Dia benar-benar sangat menyukai kudapan kecil!" batin Wei Bu Yi.
"Pangeran Wei Bu Yi! Aku bisa mendengar percakapan Kasim Da Duo dengan kusir kuda!"
Wei Bu Yi ikut menajamkan pendengarannya, tetapi hanya suara derapan kaki kuda yang terdengar olehnya.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Kasim Da Duo menanyakan berapa lama kita tiba di Qing Qiu. Kusir kuda memberikan jawaban sekitar tiga puluh menit," jawab Ying Ying dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Wei Bu Yi mengambil seruling giok berwarna hitam dan meniupnya. Satu nada pendek dan merdu dari seruling itu membuat Ying Ying kagum.
Ying Ying menatap Wei Bu Yi dengan tatapan mata berbinar-binar, sedangkan laju kereta kuda berhenti saat Wei Bu Yi menyimpan seruling giok di tempat semula.
Kasim Da Duo masuk ke dalam kereta kuda dan berlutut dengan satu kaki.
"Da Duo siap menerima perintah dari Pangeran Wei Bu Yi!"
"Ternyata bunyi seruling itu adalah isyarat Wei Bu Yi untuk memanggil Kasim Da Duo," batin Ying Ying.
"Berapa lama tiba di Qing Qiu?" tanya Wei Bu Yi.
"Hamba sudah menanyakan ke kusir kuda. Sekitar tiga puluh menit lagi kereta kuda akan tiba di Qing Qiu."
"Lanjutkan perjalanan!" perintah Wei Bu Yi.
"Baik, Pangeran Wei Bu Yi!"
Kereta kuda pun melaju cepat menuju Qing Qiu setelah Kasim Da Duo duduk kembali di atas punggung kuda yang ditungganginya.
***
Suasana hati Ying Ying sangat riang karena bisa membuktikan keahlian pendengaran jarak jauh ke Wei Bu Yi. Saat ini Ying Ying tertarik dengan permainan seruling giok hitam milik Wei Bu Yi.
"Ternyata Pangeran Wei Bu Yi pintar memainkan seruling. Suara serulingnya sangat merdu. Aku menyukainya," puji Ying Ying.
Wei Bu Yi menyadari Ying Ying menatap seruling giok hitam miliknya tanpa berkedip satu kali pun membuktikan Ying Ying memang sangat menyukai seruling miliknya.
"Kamu mau belajar meniup seruling?"
"Mau! Mau! Pangeran mau mengajariku?" tanya Ying Ying dengan antusias.
Wei Bu Yi tidak menjawab pertanyaan Ying Ying melainkan membuka salah satu kotak berukuran persegi panjang dan mengeluarkan seruling giok berwarna putih.
"Seruling ini untukmu!"
"Terima kasih Pangeran Wei Bu Yi!"
Ying Ying menerima seruling giok putih dengan antusias, lalu bergantian menatap seruling giok hitam milik Wei Bu Yi dengan seruling giok putih miliknya.
"Seruling ini sepasang?" tanya Ying Ying spontan.
"Iya! Kedua seruling ini hadiah dari ibunda!"
"Mendiang Ratu Xu?"
"Iya!"
Ying Ying bisa merasakan kesedihan hati Wei Bu Yi saat membicarakan tentang Ratu Xu.
Kesedihan hati Wei Bu Yi pernah dirasakan oleh Ying Ying saat dirinya masih dalam wujud rubah putih. Ayah dan ibunya mati terkena perangkap dari pemburu sehingga Ying Ying mengajukan permohonan untuk menjadi manusia dan berumur panjang saat menemukan patung wujud rubah berekor sembilan.
__ADS_1
Ying Ying berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai Ratu Xu sehingga menggunakan jari-jarinya menutupi lubang-lubang kecil di seruling giok putih, lalu meniupnya.
Nada sumbang menggema di dalam kereta kuda sehingga Ying Ying berhenti meniup seruling giok putih.
"Maaf Pangeran Wei Bu Yi! Bagaimana cara meniupnya?" tanya Ying Ying sambil tersenyum kikuk.
Wei Bu Yi mengambil seruling giok hitam miliknya dan dengan gerakan cepat duduk di samping Ying Ying.
Kedua tangan Wei Bu Yi menggenggam erat kedua tangan Ying Ying dan memeriksa saksama jari tangan Ying Ying di atas lubang- lubang kecil dari seruling giok putih.
Ying Ying duduk terpaku di tempatnya. Wajah dan tubuh mereka berdua sangat dekat sehingga Ying Ying bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Wei Bu Yi. Seketika wajah Ying Ying merona merah.
"Cara memegang seruling sudah benar," ucap Wei Bu Yi sambil melepaskan genggaman tangannya.
"I…iya, Pangeran Wei Bu Yi!"
"Kamu bisa memanggilku Bu Yi."
Ying Ying menjawab dengan anggukkan kepala. "Bu Yi!"
"Aku akan memanggilmu Chang Le."
"Tidak!" Ucap Ying Ying sambil menggelengkan kepala. Wajah sendu Ying Ying membuat suasana hati Wei Bu Yi tidak tenang.
"Kamu bisa memanggilku Ying Ying. Aku lebih menyukai nama itu."
"Baiklah! Aku akan memanggilmu Ying Ying di saat tidak ada orang lain di sekitar kita."
"Iya! Iya!" jawab Ying Ying sambil tersenyum lebar.
Wei Bu Yi membelai kepala Ying Ying secara spontan. Entah mengapa setiap kali melihat keceriaan Ying Ying, suasana hati Wei Bu Yi pun ikut membaik.
"Karena kita akan tiba di Qing Qiu dalam waktu dekat, aku akan mengajarimu beberapa nada isyarat yang sering aku gunakan!"
"Iya!"
Wei Bu Yi meniup seruling giok dengan nada yang sama, seperti saat memanggil Kasim Da Duo tadi. Akan tetapi, kali ini kereta kuda tidak berhenti dan Kasim Da Duo pun tidak masuk ke dalam kereta kuda untuk menghadap Wei Bu Yi.
Suara seruling sumbang yang pertama kali ditiup oleh Ying Ying membuat Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo mengetahui pasti apa yang sedang terjadi di dalam kereta kuda.
***
Selamat malam readers. Bab ini full sweet sweet antara Bu Yi dan Ying Ying 🥰
Jangan lupa besok senin waktunya vote ya 🤗🤗. Akan ada kejadian tak terduga di Qing Qiu nih.
TERIMA KASIH DUKUNGANNYA
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1