
***Kediaman Jenderal Li Jin***
Pagi hari suasana di Kediaman Jenderal Li Jin sangat meriah. Di depan pintu utama dan beberapa sudut dinding ditempel huruf 'shuangxi' berwarna merah, yang bermakna kebahagiaan berganda.
Kebahagiaan berganda ini menjadi lambang dari keberuntungan, terutama dalam pernikahan. Di depan pintu kamar Ying Ying dan Chang Ru juga ditempeli huruf 'shuangxi' berwarna merah dan berukuran besar.
Sementara di dalam kamar kedua mempelai wanita yang bahagia hari ini penuh dengan pelayan yang mondar-mandir membantu persiapan diri sejak dini hari.
Chang Ru dan Ying Ying sudah selesai mandi dengan rempah dan bunga yang harum. Mereka mengenakan pakaian pengantin tradisional berwarna merah menyala.
Saat ini Nyonya Ou Yang, istri dari Jenderal Liu Bei sedang berada di kamar Chang Ru untuk melakukan prosesi menyisir rambut.
Salah satu tradisi penting di Kerajaan Wei bagi pengantin wanita adalah prosesi menyisir rambut untuk menyucikan dan melindungi mempelai dari pengaruh yang tidak baik.
Selain itu tidak semua wanita bisa melakukan prosesi menyisir rambut. Wanita yang terpilih dan berhak melakukannya adalah wanita dari keluarga terpandang, merupakan istri resmi serta sudah dikarunia putra dan putri. Dengan demikian, mempelai wanita diharapkan akan mendapatkan keberntungan yang sama.
Nyonya Ou Yang dipilih oleh Ratu Wen dan Selir Ming Lan bersamaan, sedangkan ibu Yang Zi melakukan prosesi menyisir rambut untuk Yang Zi.
Nyonya Ou Yang akan melakukan prosesi menyisir rambut terhadap Chang Ru terlebih dahulu dikarenakan status putri mahkota lebih tinggi dibandingkan permaisuri pangeran.
Nyonya Ou Yang menyisir rambut panjang Chang Ru tiga kali dengan sisir yang sudah dipersiapkan oleh pelayan.
"Putri mahkota sangat cantik!" puji Nyonya Ou Yang.
"Tentu saja!" jawab Chang Ru dengan nada sombong sambil menatap cermin dihadapannya.
"A Ling! A Mei! Cepat ikat rambut dan rias wajahku!"
A Ling dan A Mei tergesa-gesa menghampiri Chang Ru dan melakukan perintahnya. Chang Ru sama sekali tidak memedulikan Nyonya Ou Yang.
Nyonya Ou Yang pun keluar dari kamar tanpa berpamitan. Sifat sombong Chang Ru membuat Nyonya Ou Yang merasa kesal.
Tan Xiang sudah menunggu di depan kamar Chang Ru dan membawa Nyonya Ou Yang ke kamar Ying Ying.
***
"Nyonya Ou Yang!" sapa Ying Ying sambil tersenyum ramah dan tulus.
Kekesalan hati Nyonya Ou Yang menjadi hilang seketika.
"Wang Fei! Aku akan memulai prosesi menyisir rambut!"
Ying Ying menganggukkan kepala pertanda setuju.
Tan Xiang berjalan menghampiri Nyonya Ou Yang sambil memegang nampan. Nyonya Ou Yang mengambil sisir dari atas nampan dan mulai menyisir rambut panjang Ying Ying sebanyak tiga kali.
"Terima kasih Nyonya Ou Yang!"
"Sama-sama Wang Fei! Semoga pernikahan Wang Fei dan Pangeran Wei Bu Yi langgeng selamanya!"
Pipi Ying Ying merona merah karena perkataan Nyonya Ou Yang. Roh Li Chang Le yang berdiri di samping Ying Ying tersenyum lebar melihat kebahagiaan Ying Ying.
"Bisakah Nyonya Ou Yang membantuku?" tanya Ying Ying.
"Apa yang harus aku lakukan?" Nyonya Ou Yang bertanya balik ke Ying Ying karena tidak mengerti keinginan Ying Ying.
Ying Ying membuka kotak perhiasan milik Ratu Xu di atas meja rias.
"Aku ingin Nyonya Ou Yang memberi masukan jenis rambut dan riasan yang sesuai dengan perhiasan dari mendiang Ratu Xu. Aku ingin berpenampilan elegan dan menawan seperti Nyonya Ou Yang!"
Hati Nyonya Ou Yang berbunga-bunga mendengar pujian Ying Ying sehingga mengabulkan keinginan Ying Ying dengan cepat.
"Aku pernah bertemu mendiang Ratu Xu beberapa kali. Hiasan rambut dan riasan Ratu Xu sangat cocok untuk Wang Fei!"
Ying Ying menganggukkan kepala pertanda setuju dengan usul Nyonya Ou Yang. Ying Ying yakin Wei Bu Yi akan semakin menyukai penampilannya hari ini.
__ADS_1
***
Satu jam kemudian, Chang Ru dan Ying Ying sudah selesai berdandan. Mereka duduk di kamar masing-masing sambil menunggu tenda mempelai datang menjemput mereka.
Sehelai kain merah menutupi kepala hingga wajah Chang Ru maupun Ying Ying. Kain itu akan dibuka oleh mempelai pria nantinya.
Chang Ru akan dijemput duluan oleh tandu dari Istana Timur, lalu tiga puluh menit kemudian tandu dari Kediaman Pangeran Wei Bu Yi akan menjemput Ying Ying.
Perbedaan waktu jemput selama tiga puluh menit untuk menghindari iringan tandu dari kedua mempelai bentrok di jalanan.
Chang Ru menunggu tandu mempelai dengan perasaan hati yang gembira dan penuh percaya diri. Perhiasan dari Ratu Wen membuat penampilan Chang Ru sangat menyilaukan mata siapa pun yang menatapnya.
Dua buah tusuk rambut, dua cincin di jari tangan yang berbeda, dua gelang emas phoenix di pergelangan tangan kanan dan kiri, dua kalung emas serta sepasang anting-anting emas. Jika saja Chang Ru memiliki dua pasang lubang telinga, maka bisa dipastikan Chang Ru akan memakai kedua pasang anting bersamaan.
Chang Ru sudah mulai membayangkan wajah kesal Yang Zi saat mengetahui dirinya mengenakan hadiah perhiasan dari Ratu Wen.
"A Ling! Tungguin tandu mempelai dari Istana Timur. Jika sudah datang, cepat kabari aku!"
"Baik, putri mahkota!" jawab A Ling sambil berlari tergesa-gesa ke pintu utama Kediaman Jenderal Li Jin.
A Ling dan A Mei termasuk pelayan yang ikut Chang Ru tinggal di Istana Timur. Tugas utama mereka adalah melayani Chang Ru. Selain mereka berdua, ada sekitar sepuluh pelayan lain yang mengikuti Chang Ru. Mereka semua merupakan pelayan terbaik dan pilihan dari Bai Lu beberapa hari yang lalu.
30 menit berlalu dengan cepat. Chang Ru menunggu dengan tidak sabaran. Suara iringan musik meriah yang terdengar jelas dari kejauhan membuat Chang Ru menarik napas lega.
"Aku akan menjadi putri mahkota segera!" batin Chang Ru.
Chang Ru meminta A Mei ke depan pintu kamar untuk menunggu kedatangan A Ling, yang memberikan kabar baik. Akan tetapi A Ling yang ditunggu-tunggu tidak muncul sama sekali sehingga A Mei berinisiatif ke depan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di ruang depan.
***
Suara iringan musik berhenti tepat di depan Kediaman Jenderal Li Jin. A Mei menghampiri A Ling yang masih berdiri di sana.
"A Ling! Kenapa belum mengabarkan ke putri mahkota bahwa tandu mempelai sudah tiba? Kamu ingin dihukum?" tanya A Mei.
"A Mei! Tandu mempelai dari putra mahkota belum tiba!" jawab A Ling dengan wajah panik.
A Mei bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah tandu merah dan juga rombongan yang datang bersama tandu merah tersebut.
Mata A Mei membulat besar melihat seekor kuda berada di depan tandu merah. Wei Bu Yi duduk di atas kuda dengan pakaian mempelai berwarna merah, sedangkan Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo berdiri di sisi kiri dan kanan tandu merah.
Walaupun wajah Wei Bu Yi tanpa ekspresi dan dingin, tetapi semua orang yang berada di sana bisa merasakan suasana hati Wei Bu Yi sangatlah baik.
A Ling dan A Mei hanya bisa berdiri mematung di sana. Mereka tidak berani menemui Chang Ru sekarang karena tidak ingin menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Chang Ru.
A Niu segera berlari masuk ke dalam kediaman untuk memberitahu Jenderal Li Jin mengenai kedatangan rombongan Pangeran Wei Bu Yi.
Jenderal Li Jin terkejut mendengar laporan A Niu. Jenderal Li Jin tidak menyangka Wei Bu Yi akan datang sendiri menjemput Cbang Le alias Ying Ying.
Padahal ke-6 permaisuri Wei Bu Yi terdahulu, tidak mendapatkan perlakuan istimewa seperti Ying Ying sekarang. Mereka hanya dijemput oleh iringan tandu merah dan pengawal Kediaman Pangeran Wei Bu Yi saja. Bahkan Kasim Da Duo dan Kasim Xiao Duo tidak ikut serta menjemput.
"Semoga Chang Le bahagia bersama Pangeran Wei Bu Yi!" batin Jenderal Li Jin.
"Ayah! Tandu dari putra mahkota belum datang, sedangkan Pangeran Wei Bu Yi sudah tiba bersama tandu mempelai. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Li Ming.
"Pangeran Wei Bu Yi datang tepat waktu, sesuai waktu yang dijanjikan. Chang Le tidak boleh melewati waktu baik di hari pernikahannya!" jawab Jenderal Li Jin.
Li Ming mengerti maksud perkataan Jenderal Li Jin. Mereka tidak mungkin menunda pernikahan Ying Ying dikarenakan rombongan putra mahkota terlambat datang menjemput Chang Ru.
"Aku akan menjemput Chang Le keluar!"
Feng Xi yang sedari tadi terdiam,mengusulkan diri untuk menjemput Ying Ying dari kamar.
"Pergilah, Feng Xi!" ucap Jenderal Li Jin.
***
__ADS_1
Suara ketukan pintu kamar dari luar membuat hati Ying Ying semakin berdegup kencang. Percakapan antara Jenderal Li Jin, Feng Xi, dan Li Ming di ruang depan sudah diketahui oleh Ying Ying melalui kekuatan sihir pendengaran jarak jauh.
Tan Xiang membuka pintu kamar dan menyapa Feng Xi.
"Tuan muda Feng Xi!"
"Chang Le! Tandu mempelai sudah tiba! Aku akan mengantarmu ke ruang depan!"
Feng Xi berjalan menghampiri Ying Ying. Sepasang mata tajamnya berusaha menatap wajah Ying Ying di balik penutup kain merah.
Tentu saja Feng Xi tidak berhasil melihat wajah Ying Ying, tetapi Feng Xi yakin Ying Ying pasti sangat cantik hari ini.
"Ayo kita ke ruang depan!" ucap Feng Xi sambil mengulurkan tangan.
Ying Ying merasa ragu untuk berpegangan tangan dengan Feng Xi dikarenakan dirinya sudah mengetahui isi hati Feng Xi.
Ying Ying tahu Feng Xi menganggapnya sebagai Li Chang Le, tetapi Ying Ying tidak ingin roh Li Chang Le merasa sedih.
"Tidak apa-apa,Ying Ying! Aku tidak akan cemburu!"
Suara roh Li Chang Le membut Ying Ying menarik napas lega dan berpegangan tangan dengan Feng Xi. Mereka berdua menuju ruang depan diikuti Tan Xiang dan beberapa pelayan, yang ikut Ying Ying ke Kediaman Pangeran Wei Bu Yi.
***
Li Ming segera menghampiri Ying Ying saat melihat Ying Ying tiba di ruang depan.
"Wang Fei! Aku akan mengantar Wang Fei ke tandu mempelai!" ujar Li Ming.
"Terima kasih Kak Li Ming!"
Li Ming membungkukkan badan agar bisa menggendong Ying Ying dengan punggung.
Tradisi pernikahan di Kerajaan Wei, kakak laki-laki akan menggendong adik perempuan yang menikah ke depan tandu.
Kerumunan rakyat Kerajaan Wei di luar Kediaman Jenderal Li Jim bersorak gembira saat melihat Li Ming menurunkan Ying Ying di depan tandu merah.
Wei Bu Yi turun dari kereta kuda dengan cepat, lalu menggendong Ying Ying dan meletakkannya di dalam tandu dengan lembut.
"Ying Ying!"
"Iya! Mempelaimu tidak tertukar!" ucap Ying Ying sambil tertawa kecil.
Wei Bu Yi menepuk punggung tangan Ying Ying dengan lembut sebelum naik kembali ke atas kudanya.
Kasim Da Duo menutup tirai tandu merah dan memberi aba-aba dengan isyarat tangan. Tandu merah terangkat ke atas disertai bunyi petasan yang panjang untuk mengiringi kepergian rombongan mempelai.
Wei Bu Yi menganggukkan kepala ke Jenderal Li Jin dan Li Ming, lalu tatapannya berhenti sesaat melihat satu titik cahaya putih kecil di samping Feng Xi.
Wei Bu Yi menduga roh Li Chang Le ingin menetap di Kediaman Jenderal Li Jin dan pastinya Ying Ying sudah mengetahui hal tersebut.
Alunan musik meriah menggema di sepanjang jalan yang dilewati oleh iringan rombongan Wei Bu Yi. Mereka dalam perjalanan menuju Kediaman Pangeran Wei Bu Yi.
Senyum tipis menghias disudut bibir Wei Bu Yi karena mendengar bunyi seruling giok yang ditiup oleh Ying Ying dari dalam tandu mempelai.
Walaupun alunan musik iringan sangat keras, tetapi Wei Bu Yi bisa mendengar jelas bunyi seruling isyarat dari Ying Ying, yang memanggil namanya.
***
Selamat malam readers. Bab ini sudah 2000 kata ( setara dengan 2 bab). Up pukul 23.15 wita. Semoga lancar.
Jangan lupa besok senin waktunya vote. Vote terakhir nih karena sudah mau tamat. Author tunggu ya 😘
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE