
Pagi hari sebuah kereta kuda berangkat dari kediaman Pangeran Wei Bu Yi. Kereta kuda itu mengikuti rombongan pasukan Wei Bu Yi menuju perbatasan ibukota Luoyang.
Tan Xiang dan Wan Wan duduk disamping kusir kereta kuda, sedangkan Ying Ying tidak berada di dalam kereta kuda.
Kereta kuda tersebut kosong dikarenakan Ying Ying berada di atas kuda Wei Bu Yi. Tangan kiri Wei Bu Yi memeluk pinggang Ying Ying. Tangan kanannya mengendalikan tali kekang di leher kuda. Kedua tangan Ying Ying juga memegang tali kekang.
Sepanjang perjalanan mereka berdua tidak berbicara satu kata pun, tetapi Ying Ying bisa merasakan pelukan Wei Bu Yi semakin erat saat mereka semakin mendekati perbatasan ibukota Luoyang.
Dari kejauhan Ying Ying melihat rombongan Jenderal Li Jin beserta pasukannya sudah menunggu di sana. Semalam Jenderal Li Jin dan Wei Bu Yi sepakat berkumpul di perbatasan ibukota Luoyang dan berangkat bersama menuju Kota Chang An.
Roh Li Chang Le berdiri di samping Feng Xi. Roh Li Chang Le akan ikut ke Kota Chang An. Selain dikarenakan roh Li Chang Le tidak ingin berpisah dengan Feng Xi, juga dikarenakan roh Li Chang Le bisa memberitahukan Ying Ying perkembangan di medan perang setiap hari.
Bandul lonceng pemberian Ying Ying membuat roh Li Chang Le bisa muncul di depan Ying Ying dalam waktu singkat. Ying Ying juga menambahkan sihir di bandul lonceng agar roh Li Chang Le bisa kembali ke sisi Feng Xi dengan cara hanya membayangkan wajah Feng Xi.
Oleh karena itu, roh Li Chang Le mudah pergi ke ibukota menemui Ying Ying ataupun ke Kota Chang An
Wei Bu Yi melompat turun dari kuda sebelum menggendong Ying Ying turun. Mereka berdua berjalan menghampiri rombongan Jenderal Li Jin.
Rombongan Jenderal Li Jin memberi hormat dan menyapa mereka berdua.
"Pangeran Wei Bu Yi! Wang Fei!"
"Ayah! Kak Li Ming! Kak Feng Xi!"
Walaupun Jenderal Li Jin terkejut dengan kemunculan Li Chang Le alias Ying Ying, tetapi hatinya terasa hangat dan lega dikarenakan mengetahui pernikahan putrinya berjalan lancar dan bahagia.
"Pangeran Wei Bu Yi! Kita harus berangkat sekarang!" ucap Jenderal Li Jin.
"Baik, Jenderal Li Jin!"
Wei Bu Yi membelai kepala Ying Ying dengan lembut. " Ying Ying! Aku akan pulang secepatnya!"
"Aku akan menunggumu di rumah!"
Wei Bu Yi tidak bisa menahan diri untuk mencium puncak kepala Ying Ying, sebelum naik ke atas kudanya.
"Ayah! Kak Li Ming! Kak Feng Xi! Kalian harus pulang dengan selamat!"
Mereka bertiga menjawab dengan anggukkan kepala. Dalam waktu singkat kedua rombongan pasukan pun berangkat menuju Kota Chang An.
Feng Xi menoleh ke belakang untuk melihat Ying Ying dan menyadari pandangan Ying Ying tidak pernah terlepas dari punggung Wei Bu Yi.
Hal itu membuat perasaan di hati Feng Xi bercampur aduk. Selama dua minggu ini Feng Xi sangat bahagia bertemu dengan roh Li Chang Le di alam mimpi.
Alam mimpi yang terasa sangat nyata. Akan tetapi, saat dirinya melihat Ying Ying hari ini, Feng Xi merasa asing. Seolah-olah di dunia ini ada dua Li Chang Le dan keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang.
"Chang Le dalam mimpiku hanyalah imajinasi saja. Aku dan Chang Le ditakdirkan tidak bisa bersama!" batin Feng Xi.
Ying Ying masih berdiri di tempatnya semula, menatap kepergian rombongan Wei Bu Yi dan Jenderal Li Jin.
Tan Xiang dan Wan Wan berjalan mendekati Ying Ying.
"Wang Fei! Ayo kita pulang sekarang!"
__ADS_1
"Baiklah!"
Kusir menjalankan kereta kuda yang dinaiki Ying Ying menuju kediaman Pangeran Wei Bu Yi.
***
Malam hari roh Li Chang Le datang menemui Ying Ying dan memberitahukan mengenai kekalahan pasukan Kerajaan Wu Barat dalam peperangan pertama.
Sesuai dengan dugaan Ying Ying, pasukan Kerajaan Wu Barat menggunakan sihir hitam sehingga senjata spiritual hadiah dari Ying Ying sangat berguna dan membantu pasukan Wei Bu Yi memenangkan pertarungan.
Keesokkan malam, kabar baik yang sama disampaikan oleh roh Li Chang Le. Ying Ying sangat senang karena yakin Wei Bu Yi akan pulang dengan cepat jika kemenangan ini berlangsung setiap hari.
Kemenangan berturut Wei Bu Yi membuat Ratu Wen kesal dan marah. Ratu Wen memerintahkan Wei Wu Xian membawa Chang Ru ke istana.
***Istana Timur***
Ketika mendapatkan kabar bahwa Ratu Wen ingin menemuinya di istana, Chang Ru sangat kegirangan. Apalagi Yang Zi tidak diundang oleh Ratu Wen.
"Aku ini putri mahkota. Ratu Wen pasti lebih menyukaiku dibandingkan Yang Zi. Statusku lebih tinggi!" batin Chang Ru.
"A Ling. A Mei! Bantu aku berdandan!"
"Baik, putri mahkota!" jawab A Ling dan A Mei bersamaan.
Chang Ru berusaha turun dari tempat tidur, tetapi rasa sakit organ dalamnya membuat Chang Ru meringkuk di atas tempat tidur. Tubuhnya gemetaran dan keringat dingin mulai bercucuran di keningnya.
"Cepat ambilkan obat pereda nyeri! Cepat!"
A Ling berlari kecil mengambil botol pil yang diracik oleh Tabib Huo. A Ling menuangkan satu butir pil obat dan memberikannya ke Chang Ru, sedangkan A Mei membawakan cangkir berisi teh.
Selama dua minggu lebih, Chang Ru sudah kecanduan pil pereda nyeri. Setiap hari dosis pil yang dimakan oleh Chang Ru bertambah banyak.
Tentu saja ada efek samping dari dikonsumsinya pil pereda nyeri secara terus menerus. Chang Ru sering mual dan muntah serta sistem kekebalan tubuhnya melemah sehingga flu, batuk, maupun demam sudah menjadi teman yang tidak terpisahkan dengan Chang Ru setiap malam.
A Ling memberikan dua butir pil lagi ke Chang Ru. Chang Ru segera mengunyahnya dan minum teh yang disediakan oleh A Mei.
A Ling dan A Mei memapah Chang Ru menuju meja rias untuk berdandan. Riasan yang sangat tebal untuk menutupi wajah pucat Chang Ru.
Chang Ru dan Wei Wu Xian berangkat menuju istana Ratu Wen dengan kereta kuda. Sepanjang perjalanan, Wei Wu Xian tidak memedulikan Chang Ru dan terlihat melamun memikirkan sesuatu yang serius.
Chang Ru pun tidak memiliki tenaga untuk berbicara dengan Wei Wu Xian dikarenakan penyakitnya.
***Istana Ratu Wen***
Wei Wu Xian dan Chang Ru menemui Ratu Wen di taman. Selain Ratu Wen, disana ada Kasim Ma dan juga Putri Tang Yan.
Putri Tang Yan terkejut melihat penampilan Chang Ru. Meskipun riasan tebal berhasil menutupi wajah pucat Chang Ru, tetapi berat tubuh Chang Ru yang menurun drastis mencerminkan penyakit kritis yang sedang diderita oleh Chang Ru.
"Racun dari Ratu Wen sangat mematikan!" batin Putri Tang Yan.
Sejak kejadian dirinya berhubungan mesra dengan Panglima Wen Zuo, Putri Tang Yan tahu Ratu Wen akan menjadikannya tawanan pribadi di istana.
Tentu saja Putri Tang Yan berpura-pura patuh terhadap semua perintah maupun permintaan Ratu Wen. Putri Tang Yan sedang menunggu kesempatan emas untuk mendapatkan keberuntungan yang besar bagi Kerajaan Tang Selatan.
__ADS_1
Putri Tang Yan ingin membuktikan diri ke Ratu Tang bahwa dirinya masih bisa menjadi bidak catur yang berguna. Bahkan selama ini Putri Tang Yan berhasil saling memberi info ke Pangeran Tang Jin tanpa sepengetahuan Ratu Wen.
Ratu Wen tidak menyadari dirinya membiarkan bom waktu yang bisa meledak setiap saat berada di sisinya.
"Chang Ru memberi hormat ke ibunda!"
Ratu Wen menganggukkan kepala dan menunjuk kursi kosong di hadapannya. Chang Ru duduk di sana dengan patuh, sedangkan Wei Wu Xian duduk di samping Chang Ru.
Ratu Wen langsung menyatakan rencananya terhadap Li Chang Le, dengan memanfaatkan penyakit Chang Ru. Tentu saja Chang Ru tidak bisa menolak perintah Ratu Wen.
Sementara Wei Wu Xian tersenyum lebar mendengar nama Li Chang Le. Pikirannya langsung terbayang wajah cantik yang dimimpikannya setiap malam.
Keinginannya untuk memiliki Li Chang Le semakin kuat. Apalagi Li Chang Le masih belum disentuh oleh Wei Bu Yi. Wei Wu Xian ingin memiliki Li Chang Le sebelum penyakit Wei Bu Yi sembuh.
"Ibunda belum menepati janji sebelumnya!" ucap Wei Wu Xian secara tiba-tiba.
Ratu Wen kebingungan dengan perkataan Wei Wu Xian sehingga menanyakan jelas apa janji yang belum ditepati olehnya.
"Aku ingin Li Chang Le!" jawab Wei Wu Xian.
Ratu Wen terdiam sebentar karena perkataan Wei Wu Xian. Ratu Wen tidak menyangka obsesi Wei Wu Xian terhadap Li Chang Le semakin besar.
Ratu Wen yakin jika dirinya tidak menepati janji ke Wei Wu Xian sekarang, maka besar kemungkinan Wei Wu Xian akan bertindak sendiri secara gegabah untuk memiliki Li Chang Le.
Ratu Wen terdiam dalam waktu yang lama sambil memikirkan rencana untuk mewujudkan keinginan Wei Wu Xian.
Senyum samar menghias di sudut bibir Putri Tang Yan. Putri Tang Yan tahu kesempatan emas yang dinantikannya sudah datang.
"Ratu Wen! Aku bisa membantu putra mahkota untuk mendapatkan Li Chang Le!" ucap Putri Tang Yan.
Sepasang mata Wei Wu Xian berbinar-binar setelah mendengar perkataan Putri Tang Yan, sedangkan Chang Ru mengepalkan erat kedua tangan untuk menahan amarah dan kekesalan hatinya.
Putri Tang Yan tahu Wei Wu Xian sudah terpancing oleh perkataannya sehingga mengemukakan rencananya, tanpa menunggu persetujuan dari Ratu Wen.
"Putra mahkota bisa memakai racun cinta dan memberikan Li Chang Le racun pemikat. Kalian berdua tidak akan terpisahkan sepanjang malam!" ujar Putri Tang Yan, tanpa merasa malu sama sekali.
Racun cinta sama khasiatnya dengan racun pemikat. Hanya saja racun cinta dipakai oleh pria sehingga wanita yang menyentuh pria itu akan tergila-gila padanya.
Wei Wu Xian mengalihkan perhatiannya dan menatap Ratu Wen, untuk menunggu persetujuan dari Ratu Wen.
"Baiklah! Hanya satu malam saja, Wu Xian!"
Ratu Wen terpaksa mengubah rencananya sedikit agar keinginan Wei Wu Xian untuk berhubungan mesra dengan Li Chang Le berjalan lancar.
"Terima kasih ibunda!" jawab Wei Wu Xian.
♥️♥️♥️
Selamat malam readers. Bab ini 1500 kata lebih. Semoga lancar ya🥰
Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok. Pastinya ada balasan dari Ying Ying terhadap Ratu Wen cs 😁
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE