SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 010


__ADS_3

Pada tahun ini, Lusi mendapatkan penghargaan dari Asian Time, karena dia adalah satu-satunya Hakim wanita yang sangat populer.


Nama Lusi telah dikenal di berbagai macam kalangan. Dia sering memimpin sidang di pengadilan dan memberi putusan yang sangat bijak kepada semua terdakwa.


“Wah, kau dengar itu, Bos?” seru Gun. Hakim Lusi kembali terpilih oleh Asian Times kali ini.”


“Kenapa memang? Apa kau masih kesal padanya karena dia yang memvonis dirimu saat itu? Kau tak nyaman mendengar reputasinya di Bekasi?” Christ meninju lengan Guntur. BUK


“Aduh, sakit.” Gun tertawa dan memegang lengannya.


Jalanan itu macet selama setengah jam penuh. Tepat dua jam setelah itu, Christ dan Guntur baru tiba di sebuah tempat yang mereka tuju.


Sebuah gedung besar memiliki tiga lantai yang menjulang tinggi. Gedung itu merupakan bangunan paling tinggi daripada gedung di sekitarnya.


Dengan berbentuk persegi panjang, gedung itu memiliki lebar 100 meter, dan panjang 20 meter, dengan luas total 2000 meter.


Setiap lantai dari gedung, telah digunakan untuk lapak usaha, mulai toko baju, makanan, dan membuka jasa.


Christ memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung itu. Dia turun dari mobil, lalu melihat lantai gedung paling atas, lantai 3.

__ADS_1


Dia sengaja memilih tempat itu karena, lantai 3 dari gedung itu merupakan hak milik mendiang Ibu Christ. Mendiang ibunya dahulu menggunakan lantai 3 itu sebagai tempat usahanya.


20 tahun lamanya semenjak Ibu Christ meninggal, gedung lantai 3 itu tak memiliki penghuni. Alhasil, beberapa preman yang ada di kota itu menggunakan tempat itu untuk bisnis koperasi simpan pinjam.


“Lantai 3 itu adalah kantor koperasi simpan pinjam swasta,” jelas Gun. Sebelumnya, dia telah diutus Christ untuk mendapatkan informasi gedung lantai 3 itu.


“Segerombolan preman di kompleks inilah yang menempatinya. Mereka meminjamkan uang kepada masyarakat dan memberi bunga yang cukup tinggi,” lanjut Gun.


Christ menyeringai lebar. Dia akan merebut kembali kantor lantai 3 itu, karena dia masih memiliki surat hak milik atas lantai 3 itu.


Christ akan mendirikan kantor firma hukum di gedung lantai 3, agar dia selalu ingat pada mendiang ibunya.


Dua orang bocah mendekati mobil Christ yang terparkir di depan gedung. Mereka menggunakan seragam sekolah rapi.


Kedua bocah itu memegang dan melihat-lihat mobil Porsche milik Christ yang gagah dan sangar. Mereka terkagum saat melihat mobil itu.


“Pasti ini harganya lebih dari 10 Miliar.”


“Ya, kau benar. Mungkin harganya berkisaran segitu,” sahut kawannya.

__ADS_1


Christ tersenyum kecil melihat tingkah laku kedua bocah SMP itu. Dia mencegah Gun saat Gun akan mengusir kedua bocah yang masih melihat-lihat mobil Christ.


Salah satu bocah itu berkata pada Christ. “Suatu saat nanti, aku akan memiliki mobil sport sama seperti milikmu ini, Paman,” ucap salah satu dari bocah itu pada Christ.


“Ah, dasar lu. Mimpi aja lo bisanya,” sahut bocah lainnya.


“Apaan sih? Rese banget lu.”


“Baiklah, Nak. Semoga mimpimu tercapai.” Christ tersenyum pada kedua bocah itu.


“Terima kasih, Paman. Kami pergi dulu.”


Kedua bocah itu berlarian meninggalkan Christ dan Gun. Bergegas ke sekolahnya.


Christ kembali menatap gedung lantai 3.


“Gun, bagaimana pendapatmu tentang segerombolan anjing yang kedinginan dan kelaparan?”


“Ya, apa maksudmu, Bos?” Guntur kebingungan. “Tunggu, apa jangan-jangan … kau ingin merekrut para preman itu, sama seperti kau merekrutku dahulu?”

__ADS_1


__ADS_2