
Christ tumbuh tanpa ayah, dan melihat ibu kandungnya sendiri dibunuh tepat di depan matanya saat berusia 11 tahun. Dia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.
Tumbuh dengan dunia hitam bersama pamannya, yang seorang bos mafia, dan bahkan mendedikasikan hidupnya hanya untuk membalaskan dendam pada kematian ibunya.
“Apa yang kau lihat?” Yuli terbangun.
“Astaga, kau mengagetkanku.” Christ kembali menatap Yuli. “Aku tahu kau akan mengantuk karena dokter pun berkata seperti itu saat memberimu obat, tapi, tak kusangka kau malah tidur seperti hibernasi panjang.”
Yuli menggerak-gerakkan tubuhnya yang sedikit kram. “Sebenarnya, aku sedikit terbangun tadi. Aku tahu kau melihat foto keluargaku di pigura itu.”
“Oh itu, aku hanya.. berpikir bahwa itu pasti wanita cantik itu adalah ibumu,” jawab Christ.
“Wah, aku tadi sangat panik, tapi setelah tertidur, panikku sedikit berkurang.” Yuli memijat-mijat kepalanya.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?”
“Tidak, aku tidak baik sama sekali. Kau membuatku ketakutan tadi.”
Christ terdiam menatap Yuli.
“Maksudku, karena kau mengantarku pulang, aku jadi merinding. Aku takut jika kau akan berbuat sesuatu padaku.”
“Hahahahahaha.” Christ terkekeh, karena Yuli masih saja jaim padanya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, keluarlah Ayah Yuli dari dalam rumah.
Yuli dan Christ pun langsung bergegas turun dari mobil.
“Yuli.”
“Ayah!” Yuli langsung berdiri disamping ayahnya.
“Selamat malam, Pak. Apa anda ayahnya Pengacara Yuli?”
“Ya, benar. Aku ayahnya. Apa kau Pengacara Christ? Astaga, aku banyak mendengar tentangmu, Pengacara Christ.”
Saat Ayah Yuli mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, dia kembali menurunkannya karena melihat tangan kanan Christ yang masih terbalut perban.
“Jangan percaya dengannya ayah. sifatnya langsung berubah jika berbicara dengan orang tua. Dia orang yang sangat berbeda sekali,” bisik Yuli pada Ayahnya.
“Astaga, kau tak boleh berkata begitu.”
“Mampirlah ke rumahku, Pengacara Christ. Kita bisa mengobrol bersama sembari meminum teh atau kopi.”
“Hmmm, bolehkah aku? Jika anda berkenan, aku akan mampir ke rumah anda.” Christ menyeringai lebar.
“Baiklah, silahkan.” Ayah Yuli mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Di ruang tamu yang tak seberapa luasnya. Mereka bertiga duduk bersama sambil meminum teh hangat.
Meja kecil berbentuk persegi dengan 3 kursi yang telah diduduki orang dewasa membuat mejanya terlihat lebih kecil.
“Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak padamu, Pengacara Christ. Kau sudah menghilangkan semua bunga dari hutangku, sehingga aku tak kesusahan dalam membayar Hutangku yang banyak.”
Christ tersenyum lebar.
“Apa? Sungguh?” Yuli tak percaya.
“Dua hari yang lalu, dua karyawannya datang kemari dan meminta maaf pada ayah, karena telah merusak barang-barang ayah. Tak hanya itu, mereka juga memberikan sedikit uang untuk mengganti rugi kerusakan. Apa kau tak tahu itu, Nak?” Ayah Yuli menyeringai lebar.
“Astaga, kenapa kau tak memberitahuku?” tanya Yuli ketus menatap Christ.
“Omong-omong, Pengacara Christ. Apa kedua orang tuamu adalah orang kaya? Apa pekerjaannya? Pengusaha? Direktur Bank? Atau lain lagi?”
“Ayah!” seru Yuli pada Ayahnya yang menanyakan hal bersifat privasi.
Christ hanya tersenyum kecil lalu menjawab, “Ibuku membesarkanku seorang diri, tapi, dia meninggal saat aku masih berumur 11 tahun.”
“Astaga, maafkan aku Pengacara Christ. Seharusnya aku tak mempertanyakan itu padamu.”
“Tidak masalah, Pak. Dulunya, mendiang ibuku juga bertempat tinggal di kantor firma hukum yang saat ini kutempati. Dia menjalankan usaha reparasi diska keras, hard file dan semacamnya.”
__ADS_1