SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 044


__ADS_3

“Astaga, ada saja orang-orang bodoh yang datang untuk menyerahkan nyawanya. Aku tak akan membiarkan seorang tikus bisa menggigit kucing, bukan begitu?” Miko mengambil ponsel dan menghubungi Roy.


Miko teringat saat Roy menawarkan bantuan padanya untuk bekerja dengannya tempo hari. Miko ingin Roy melakukan sesuatu agar Christ jangan sampai hadir di persidangan kedua Jono.


***


Pagi hari tiba. Hari itu adalah hari kedua persidangan Jono. Khalayak ramai telah berkumpul di depan pintu pengadilan tinggi Bekasi.


Begitupun dengan Asep serta semua anak buahnya yang ikut datang di hari itu. Mereka semua datang untuk melihat Christ yang akan menjadi pengacara pembela bagi terdakwa.


Mereka mengenakan setelan kemeja rapi dan menunggu kedatangan Christ di halaman pengadilan tinggi.


Tak berselang lama, Christ datang bersama Guntur. Asep dan anak buahnya menunduk memberi hormat serentak.


SELAMAT DATANG BOS!!!


“Astaga, apa-apaan ini? Kalian berlebihan sekali.


“Mereka semua ingin melihatmu di sidang pertamamu di Bekasi, Bos.” Gun menjelaskan.


“Ya, itu benar,” seru Asep.


Christ tersenyum kecil. “Akan tetapi, dimana paralegal Yuli?”

__ADS_1


Semua orang menggeleng tak tahu.


Christ mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi Yuli. “Astaga, sepertinya dia sudah membaca pesanku tadi. Tak mungkin dia lupa.”


“Wah, dimana kau? Sidang akan dimulai sebentar lagi,” ucap Christ saat Yuli mengangkat teleponnya.


“Hei, Christianto!”


Tapi tidak demikian, bukan Yuli yang mengangkat panggilan itu, melainkan Roy. Christ terdiam sejenak. Dia menjauh dari Guntur dan semua anak buah Asep untuk berbicara


“Hei, kau tak mendengarkanku?”


“Sepertinya aku mengenal suaramu. Bukankah kau Roy, seorang pengusaha kecil yang memukul klienku tempo hari?”


“Lantas, kenapa kau berada di Bekasi? Dan kenapa ponsel parelegalku ada padamu?”


“Hmmm, benar juga. Kenapa ponsel pacarmu ada di aku? Pacarmu ada disini bersamaku. Apa kau mau berkata sesuatu padanya?”


“Astaga, dasar bodoh. Dia paralegal ku apa kau tak tahu, apa itu paralegal?”


“Tutup mulutmu, Berandal, dan bergegaslah kemari. Tiap sepuluh menit kau terlambat, aku akan mengeluarkan organ tubuh pacarmu satu persatu.”


“Wah, kau memang benar-benar bodoh. Terserah kau saja. Aku tak perduli dengan wanita itu.”

__ADS_1


Christ berniat mengelabui Roy dan berpikir jika Roy akan melepaskannya, karena Yuli tak memiliki hubungan apapun dengan Christ.


“Apa maksudmu?”  seru Roy.


“Wanita itu bukan pacarku, dia hanya pembantu pengacara yang bekerja denganku. Kau salah menyandera orang. Berapa kali harus kubilang padamu? Baiklah aku tutup, persidangan akan segera dimulai.”


Christ langsung menutup panggilan.


Belum sempat melangkah, Christ tiba-tiba berubah pikiran. Dia sangat khawatir dengan keadaan Yuli disana. Dia kembali menelpon nomor Yuli.


“Wah, sepertinya kau memang lelaki jantan.” Roy mengangkat telepon. Suaranya terdengar sangat bersemangat.


“Hmmm, tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Sebenarnya aku harus ke persidangan, tapi, suasana hatiku sedang hancur karenamu. Kirimkan lokasimu, dan aku akan menghancurkanmu dan semua anak buahmu.”


“Jalan melati nomor 46, di tempat hiburan malam. Aku menunggumu…….”


Christ langsung mematikan sambungan telepon.


“Bagaimana, Bos? Apa yang terjadi?” tanya Gun. Dia dan Asep mendekat pada Christ yang tengah khawatir dengan Yuli.


“Gun, Sep. Aku percayakan semuanya pada kalian. Kalian harus melakukan apapun untuk menunda persidangan, sampai aku datang kemari bersama Yuli, kalian paham?”


“Baik, Bos. Aku akan memastikan itu,” ucap Gun.

__ADS_1


__ADS_2