SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 045


__ADS_3

Christ segera beranjak pergi dari pengadilan tinggi. Dia berlari dan melompat menuruni tangga. Christ menjadi menjadi pusat perhatian para warga sipil yang melihatnya di tempat itu.


Sesampainya di dalam mobil, Christ langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menyalip semua kendaraan yang ada di jalan raya pagi itu.


Sesekali dia melanggar lampu lalu lintas yang masih menyala berwarna merah. Hatinya sama sekali tidak tenang dengan kondisi Yuli yang disekap oleh Roy dan semua kacungnya.


Alamat tempat Yuli diculik tidaklah cukup jauh pengadilan berada. Hanya 15 menit Christ telah sampai di alamat itu.


Di sebuah tempat hiburan malam tepatnya. Tempat hiburan malam itu sangatlah luas, dan dibuka hanya malam hari saja.


Jika dilihat dari luar, tempat itu sama sekali tak tampak seperti tempat hiburan malam. Hanya tampak seperti ruko berukuran besar jika melihatnya sekilas.


Sebuah tongkat double stick dibawa Christ dari dalam mobilnya. Menyimpannya di balik jas, lalu memasuki tempat hiburan malam tersebut.


Di dalam ruangan itu sangatlah luas. Terdapat beberapa panggung beserta alat DJ di bagian depan, serta tempat duduk yang sesuai dengan kelas-kelasnya masing-masing.

__ADS_1


Lampu sorot cerah dinyalakan, menyorot ke arah Christ yang baru memasuki tempat hiburan itu. Christ mengangkat tangan untuk menutupi sinar itu dari matanya.


Di panggung utama, terlihat Roy yang sudah duduk dan menanti kedatangan Christ.


“Kenapa kau melakukan ini? Lebih baik kau serahkan wanita itu padaku, daripada kau dan anak buahmu yang akan kuhancurkan. Kau pasti tahu, jika kau merusak mobil mewah, kau sendirilah yang akan bangkrut.”


Christ terus berjalan mendekati panggung utama.


“Akan tetapi, beberapa orang masih tidak tahu bahwa mereka tidak seharusnya menculik atau menyakiti orang. Kau dan anak buahmu hanyalah sampah tak berguna.”


“Bagaimana denganmu sendiri? Apa ibumu masih menyisir rambut lepek mu itu?” tanya balik Christ.


“Dasar, Berandal. Apa katamu?”


“Aku datang kemari untuk memberimu pelajaran. Sepertinya kau harus bersiap-siap.” Christ sudah sampai di panggung utama.

__ADS_1


Beberapa lampu mulai dinyalakan oleh anak buah Roy. Terlihat Yuli yang sedang terikat di salah satu panggung tempat menari. Tangan dan kakinya terikat di tiang, serta mulut dan mata yang ditutup.


Beberapa anak buah Roy langsung melepas tutup mata dan membuka kain yang menyumpal mulutnya.


“Kenapa kau kemari? Kau tak jadi pergi ke sidang?” seru Yuli.


“Astaga, mana bisa aku meninggalkan karyawanku ditempat seperti ini? Dan aku juga tidak membatalkan persidangan itu.”  Christ tersenyum kecil. Mengedipkan satu matanya ke Yuli.


“Saat itu, aku belum siap sepenuhnya, dan kau juga dibantu dengan pamanmu itu. Akan tetapi, tidak untuk sekarang. Aku sudah bersiap-siap untuk menghabisimu kali ini.”


Semua lampu ruangan mulai dinyalakan. Sekitar sepuluh anak buah Roy mulai bermunculan dan berdiri di belakang Roy.


“Muhammad Ali pernah berkata, ‘setiap orang mempunyai rencana, sampai mereka mendapatkan pukulan yang mendarat di mulutnya’” Christ menyeringai lebar. Dia berlari dan menyerang semua anak buah Roy.


Satu lawan sepuluh, jelas lawan yang tak sepadan sama sekali. Akan tetapi, sepuluh orang preman kampung bukanlah lawan berat bagi Christ.

__ADS_1


Christ berlari dan melompat, lalu melayangkan dengkul kakinya ke salah satu orang terdekatnya. Satu orang pun tersungkur dan meringis kesakitan.


__ADS_2