
“Nah, itu bagus. Baiklah, kau harus bekerja dengan baik agar dapat membayar tagihan itu dengan cepat.” Christ berseru menjentikkan jari.
“Satu hal lagi, bukan hanya sidang kasus atas pembunuhan yang dilakukan mantan detektif itu, aku juga akan menangani semua kasus saat bekerja denganmu,” tegas Yuli menatap Christ.
“Woahh!!! Aku suka kau bersemangat seperti itu.” Christ berdiri menunjuk. “Pasal 1 UU tentang kode etik seorang pengacara, pengacara harus menghormati hak asasi manusia dan mempertimbangkan keadilan sosial sebagai tujuan mereka.”
“Hahahahaha. Ternyata seorang pengacara jahat sepertimu tahu tentang kode etik, astaga. Aku tak menyangka.”
“Pengacara itu seperti wiraswasta, kita bukanlah seorang dokter. Bukankah lucu jika hukum meminta keadilan sosial dari orang sepertiku?” Christ berjalan ke meja kerja Yuli.
“Apa kau tak mempunyai harga diri sedikitpun sebagai pengacara?”
“Tentu saja aku punya. KING LAWYERS. Aku sengaja menamai firma hukum demikian karena aku ingin menjadi raja. Raja pengacara. Seorang raja tak akan tunduk dengan hukum.
Akan tetapi, seorang raja akan menaklukkan hukum, dan membuat hukum itu sendiri. Pengacara tanpa hukum, itulah diriku,” tegas Christ.
“Baiklah, haruskah kita melakukan penyelidikan sekarang?” Chris kembali ke mejanya bersiap untuk pergi.
“Penyelidikan apa? Kita saja belum memulai apapun,” ucap Yuli.
__ADS_1
“Penyelidikan selalu diutamakan. Aku sudah menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu.” Christ melihat Guntur dan semua anak buah Asep.
“Apa itu? Apa yang kau perintahkan pada mereka?”
“Kau akan tahu sendiri nanti. Sekarang, kemasi barangmu dan ikut aku. Kita akan pergi ke TKP tempat pembunuhan terjadi.”
“TKP?”
Christ tersenyum. Dia mengambil kunci mobil dan segera pergi dari kantornya, disusul dengan Yuli. “Hei, tunggu!”
Sebuah mall terbesar di kota Bekasi, REVO TOWN BEKASI. Disanalah TKP itu berada, di tempat parkir khusus mobil, dekat pintu keluar mall.
Begitupun dengan Christ dan Yuli yang baru saja tiba di tempat kejadian. Mereka turun dari mobil dan menuju ke pita kuning pembatas TKP.
“Di tempat inilah Jono diduga membunuh walikota,” ucap Christ. Dia mengeluarkan ponsel, melewati pita kuning pembatas dan mulai memotret sekitar TKP itu.
“Apa yang kau lakukan disana?” tanya Yuli. Dia berdiri di depan pita. Tak ikut masuk ke dalam.
“Apa menurutmu itu masuk akal? Seseorang terbunuh di tempat yang mana banyak orang beraktivitas, seperti di mall ini.” Christ masih sibuk memotret dan membayangkan kejadian yang terjadi di tempat itu.
__ADS_1
“Permisi, Pak. Ini TKP. Apa yang kau lakukan di tempat ini?” Seorang detektif datang menghampiri Christ. Detektif itu bersama seorang jaksa yang juga menangani kasus itu, yaitu Jaksa Sri.
“Ya, kau benar. Aku tahu dimana aku berada sekarang,” sahut Christ. “Lantas, siapa kau sendiri?” Christ masih asyik memotret sekitarnya.
“Hentikan itu. Jika kau menyentuh apapun dari sini, kau akan ditangkap. Kau akan dianggap merusak TKP,” ucap Si Detektif.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Sri ke Yuli.
“Aku? Kau bertanya padaku? Aku hanya….”
“Wah, sepertinya kalian saling mengenal.” Christ keluar dari jangkauan TKP. Berdiri di sebelah Yuli.
“Siapa yang memberimu izin untuk datang ke tempat ini?” tanya Sri ketus.
“Dia adalah Jaksa Sri.” Yuli memperkenalkan Sri pada Christ.
“Ah, rupanya itu kau, Jaksa Sri. Maaf aku tidak mengenalimu.” Christ mengeluarkan kartu namanya. Memberikannya pada Sri. “Aku Pengacara Christianto.”
“Sepertinya kau banyak waktu luang. Lihatlah, kau sampai memeriksa kasus orang lain,” ucap Sri ketus.
__ADS_1