SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 042


__ADS_3

Tak ada lagi senyuman yang ada di wajah Christ. Dia terlihat serius dengan perkataannya. Bertahun-tahun dia memendam itu hanya untuk membalaskan dendam pada orang yang telah membunuh ibunya.


Tak ada keraguan sedikitpun dari sorot mata Christ. Dia bukan lagi seorang pengacara yang takut hukum, melainkan seorang mafia bahkan psikopat yang akan memburu mangsanya.


Bukan hal yang sulit bagi Christ untuk membunuh Jono di tempat itu sekalipun. Christ dapat melakukannya dengan mudah, setelah semua yang dipelajarinya dari dunia hitam dari keluarga mafia Bagas.


“Kau… Kau.. Menjauhlah dariku. Dasar, Psikopat!”


“Bukankah itu menyenangkan bagimu. Aku akan membunuhmu selagi kau masih hidup. Aku tidak akan membunuhmu di tempat kotor seperti ini, tapi aku akan membunuhmu di luar.


Kau seharusnya bersyukur tinggal di negara ini. Masih banyak para bajingan dari kalangan pejabat tinggi yang melindungimu.


Sekali lagi kukatakan padamu, kau sangat beruntung tinggal di negara ini. Jika kau berada di Italia, maka aku akan menguliti mu secara hidup-hidup dan menjadikan kulitmu sebagai hadiah untuk keluargamu.”


“Kau…kau bajingan. Menjauhlah dariku. Sipir!!” Tubuh Jono bergetar dan penuh dengan keringat karena ketakutan. Dia mencoba memanggil sipir, sayangnya, tak ada seorang sipir pun yang menolongnya saat itu.

__ADS_1


Christ memegang leher Jono dan menekannya sedikit ke dinding. Matanya tertuju pada pembuluh darah yang ada di leher, dia sangat ingin mencekik Jono di tempat itu hingga mati.


Christ menghela nafas panjang, lalu melepaskan tangannya dari leher Jono.


“Baiklah, aku akan pergi. Kau bisa menelponku jika kau berubah pikiran. Kuharap kau menerima tawaranku ini.” Christ menepuk-nepuk pundak Jono, lalu beranjak pergi dari ruangan itu.


***


Malam hari tiba. Terlihat Christ berada di depan rumah studio milik Ayah Yuli. Dia berdiri dari seberang jalan dan melihat Yuli dan ayahnya yang sedang mengobrol bersama di teras rumah.


Hujan deras mengguyur kota Bekasi di malam itu. Suara Percikan air yang jatuh ke aspal, dan genteng terdengar merdu.


Alih-alih melihat mengagumi Yuli dari kejauhan, Christ ternyata teringat kembali pada ibunya saat melihat kedekatan Yuli dengan ayahnya.


Mata Christ berkaca-kaca dan jatuh bercampur dengan air hujan, saat teringat ibunya kembali.

__ADS_1


Saat Christ akan beranjak pergi, ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari penjara tempat Jono ditahan.


Tak salah lagi. Christ sangat yakin bahwa orang yang menelponnya saat itu adalah Jono.


“Ya, halo. Bagaimana, apa kau sudah memutuskan?” tanya Christ.


“Aku tidak boleh mati di tempat ini. Sore tadi, beberapa orang telah mencoba membunuhku di dalam sini. Kau harus mengeluarkanku. Kau boleh menangani kasus ini dan menjadi pengacaraku.”


Suara Jono terdengar ketakutan dari teleponnya.


Christ tersenyum lebar. “Bagus, keputusan yang sangat tepat. Mulai sekarang, aku akan menangani semuanya dengan caraku sendiri.”


“Apa kau sungguh bisa mengeluarkanku dari tempat ini?”


“Ya, tentu. Kau tak perlu khawatir. Itu hal sangat mudah bagiku. Aku akan melakukan apapun agar kau keluar.”

__ADS_1


“Baiklah, aku percaya padamu. Kau tahu aku seorang Detektif, bukan? Kau harus menepati janjimu. Kau harus mengeluarkanku dari tempat ini.”


“Hahahaha. Apa kau masih menganggap dirimu sebagai seorang detektif? Astaga, sulit dipercaya.” Christ terkekeh.


__ADS_2