SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 065


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Gun telah berada tepat di belakang mobil asisten Miko. Gun menurunkan kecepatan mobil, dan merayap mengikuti dari belakang.


“Jadi, orang itu akan menuntun kita ke pembunuh sebenarnya?” tanya Yuli masih tak mengerti. Dia melihat mobil asisten Miko dari dalam.


“Ya, kau benar,” jawab Christ.


“Siapa orang itu?”


“Dia adalah bodyguard, sekretaris, sekaligus asisten pribadi Miko, pemilik ASARON GROUP.”


“Maksudmu, pemilik ASARON GROUP ada kaitannya dengan pembunuhan walikota Joko?”


“Ya, seperti itulah kira-kira. Kau akan tahu sendiri setelah semuanya jelas nantinya.”


Sepuluh menit berlalu, mobil berhenti tepat di depan ruko dengan dua lantai di daerah itu. Terparkir tak jauh dari mobil asisten Miko.


Dari dalam mobilnya, Christ melihat asisten Asep yang menemui seseorang di salah satu ruko di lantai 2. Mereka terlihat sedang berdebat di teras depan rukonya.


Christ pun segera bertanya pada Asep, sebagai preman yang telah lama tinggal di kota Bekasi. “Apa kau tahu siapa orang yang ditemuinya itu?”


“Astaga, mana mungkin aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dari dalam sini??”


Gun mengeluarkan kamera DSLR, memasang lensa tambahan, dan memotret mereka berdua dari dalam mobil.


“Wah, rupanya kau cukup tanggap, Gun,” ucap Christ.

__ADS_1


Gun lantas menunjukkan hasil jepretan itu dengan jelas pada  Asep.


“Oh, dia. Dia adalah Pras, salah satu gembong perdagangan manusia dan penyelundup barang ilegal lainnya di kota ini. Dia juga bekerja sebagai calo bagi siapapun orang yang ingin menggunakan jasanya,” jelas Asep.


“Perdagangan manusia?”


“Ya, dia menyelundupkan seseorang dengan ilegal tanpa paspor dan visa dengan beberapa kapal yang dimilikinya. Dia juga orang yang pernah memiliki perusahaan konstruksi di kota ini.


Pokoknya, pria itu, dia bisa menjual istrimu, anakmu, bahkan simpananmu, jika kau membayarnya dengan pasti,” jelas Asep.


“Akan tetapi, kenapa asisten Miko menemui gembong perdagangan manusia?” Christ berpikir.


“Kurasa….”


“Menunduk!” Christ menyuruh semua orang menunduk di dalam mobil saat asisten Miko menatap ke mobilnya.


Setelah berlalu pergi, mereka semua pun mulai beraksi.


“Baiklah, mari kita mulai.”


SIAP BOS


Dengan cepat, Asep dan Gun turun dari mobil, lalu bergegas pergi ke kantor Pras. Mereka berdua membawa tongkat bisbol di tangannya masing-masing.


“Tunggu!” Christ menahan tangan Yuli saat ia akan ikut keluar. “Kau disini saja, Yul. Kau harus memblokir rute keluar jika ada orang yang menurutmu mencurigakan.”

__ADS_1


“Rute keluar?”


“Ya, kau harus tetap disini, karena ini adalah jalan satu-satunya. Tak ada jalan lain untuk kabur selain jalan ini.”


Christ pun segera keluar menyusul Gun.


Ruko dengan lantai dua itu berbentuk seperti apartemen. Satu ruko dengan lainnya berjejeran rapi dengan banner dan papan usaha yang dimiliki setiap pemilik dari ruko tersebut.


Mereka bertiga berhenti tepat di depan pintu ruko milik Pras.


“Aku paling kesal jika ada orang yang membuat pakaianku menjadi lusuh.” Christ membenarkan kemeja, dasi, dan setelan jasnya.


Asep dan Gun langsung menyingkir ke sisi kiri dan sisi kanan pintu, agar Pras hanya melihat Christ di depan kantornya.


dok dok dok


ding dong


Pintu sedikit terbuka. Seorang pria berumur akhir 20 an berdiri di balik pintu. “Siapa?”


Christ menyeringai lebar. Asep menunjukkan wajahnya berkedip, lalu menahan pintu dengan tongkat bisbol saat Pras akan menutup pintu kembali.


“Mau kemana kau, Bajingan. Kau pikir kau bisa lari dariku?” Asep dan Gun menyerbu masuk ke dalam disusul dengan Christ.


Asep memukul wajah dan meninju perut Pras, hingga tersungkur, lalu mengintrogasinya.

__ADS_1


__ADS_2