
“Hmmm, sepertinya aku tahu, kenapa hal itu terjadi.”
“Apa itu?” Jono menatap Christ penasaran.
“Dia mencoba membersihkan namanya sebelum dia menjadi walikota, maka itu dia memilihmu untuk pemeran utamanya.
Kau sudah bekerja dan bersekongkong dengannya selama 20 tahun lebih, saat dia masih menjadi preman kala itu,” jelas Christ.
“Jadi, apa dia ingin menyingkirkanku agar aku tak pernah bisa mengungkap rahasianya? Bajingan kau Miko. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” Jono melototi Miko dari kejauhan dan bergunjing kesal sendirinya.
“Perhatian semuanya! Hakim Lusi tengah memasuki ruangan. Hadirin diharap berdiri.”
Semua hadirin berdiri, menanti Lusi memasuki ruangan, lalu duduk kembali. Sidang dimulai!
Usai Lusi membuka persidangan, Christ segera melangkah ke kursi tempat Bejo yang menjadi saksi saat itu.
“Pada hari kejadian berlangsung, tepat satu bulan yang lalu. Tanggal 13 April 2023, pukul 10 malam. apa anda ingat siapa yang bersama anda saat itu?” Christ berdiri di hadapan saksi menatapnya serius.
“Ya, saya ingat,” jawab Bejo.
“Lalu, siapa itu? Dan dimana saat itu anda berada?”
“Saat itu saya sedang bersama Detektif Jono di warnet saya sendiri.”
__ADS_1
“Apa anda yakin dengan ucapan anda?”
“Ya, saya yakin.”
Jono tersenyum dari tempat duduknya, begitupun juga Yuli.
Christ berbalik menatap Hakim. “Yang Mulia Hakim, seperti yang anda lihat, baru saja saksi membuktikan alibi Jono. Sekian dari saya.” Christ membungkuk, lalu kembali ke tempat duduknya.
“Penasihat hukum dipersilahkan melakukan pemeriksaan silang terhadap saksi,” ucap Lusi.
“Yang Mulia Hakim, saya punya pertanyaan kepada saksi.” Sri berdiri berseru.
“Ya, silahkan,” sahut Lusi.
“Yang Mulia Hakim!” seru Christ tak mau mengalah saat Sri menyudutkan saksinya. “Saat ini Jaksa telah menodai reputasi pembelaan dan saksi.”
“Ya, itu benar. Anda harus lebih berhati-hati lagi, Jaksa Sri,” sahut Lusi.
“Maafkan sikap saya, Yang Mulia Hakim.” Sri menunduk. “Saya ingin menyajikan laporan penyelidikan yang ditulis oleh terdakwa mengenai saksi sebagai bukti.”
Sri kembali ke mejanya, mengambil beberapa berkas, memberikannya pada Lusi.
“Dipersilahkan!”
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia Hakim.” Sri kembali menatap Bejo di kursi saksi. “Anda telah diselidiki sebagai saksi, benar?”
“Ya, benar,” jawab Bejo.
“Dalam laporan penyelidikan yang nyatakan pertama kali, anda mengaku bahwa anda sedang tidak bersama terdakwa saat itu.”
“Ya, benar.”
“Saya akan bertanya sekali lagi. Apa anda menerima ancaman atau kompensasi?”
“Yang Mulia Hakim!” Christ kembali berdiri.
TOK TOK TOK Lusi memukul palu, karena suasana sudah tak kondusif lagi.
“Saudara saksi, kenapa anda memberikan kesaksian yang berbeda dengan kesaksian yang anda berikan diawal?” tanya Lusi.
Suasana lengang sejenak. Bejo terdiam memikirkan, apa yang akan dijawabnya. “Saya telah berbohong pada awal kesaksian yang saya berikan, Yang Mulia Hakim.
Akan tetapi, yang saya katakan sekarang ini benar adanya. Saya memang bersama Jono saat kejadian itu.”
Lusi tersenyum sinis. “Bagaimana kita bisa mempercayai seseorang yang sudah memberikan kesaksian palsu di awal? Apa aku pantas mempercayainya?”
“Ada bukti rekaman dari ucapannya, Yang Mulia Hakim,” seru Christ.
__ADS_1
“Yang Mulia, bukti itu tidak boleh diterima saat persidangan berlangsung. Bukti yang dapat diterima harus diserahkan sebelum sidang berlangsung,” sahut Sri.