
“Badan Pengawas Keuangan akan menertawakanmu, jika kau melaporkan kejahatan yang kau buat sendiri. Selain itu, aku bisa menganggap tindakanmu adalah sebuah ancaman bagiku.”
Yuli mendengus kesal. Dia tak menyangka bahwa semua yang dikatakan Christ ada benarnya. “Ancaman? Apa maksudmu?”
“Begini, Nona. Kudengar, kau adalah seorang pengacara yang diskors dan bahkan dipecat dari firma hukum, karena meninju seorang Hakim utama.” Christ melangkah mendekati Yuli.
“Jangan sampai kualifikasi mu dicabut dengan mendapatkan hukuman tambahan,” lanjut Christ menatap Yuli dengan tersenyum lebar.
“Bagaimana kau tahu?” Yuli terkejut penasaran. “Apa kau seorang penguntit? Kau memeriksa latar belakangku?”
“Tentu saja tidak, kenapa aku harus menjadi seorang penguntit?” Christ berdiri di sebelah Yuli. Mendekatkan mulutnya ke telinga Yuli dan berbisik, “Aku hanya memeriksa latar belakang seorang wanita yang membuatku tertarik.”
Christ kembali berdiri didepan Yuli.
“DASAR, RENTENIR MESUM! Rasakan ini” BUUKK!!!! Yuli meninju hidung Christ dengan tangan kanannya.
Saking kerasnya pukulan yang diberikan Yuli, Christ hampir terjatuh ke belakang. Untung saja Gun dan Asep langsung menolong Christ.
__ADS_1
“Astaga, Bos. Hidungmu berdarah.” Gun mengambilkan selembar tisu dan mengelap sedikit darah yang keluar dari hidung Christ.
Dan begitulah memang sifat Yuli. Gadis keturunan Tiongkok itu tak bisa mengendalikan emosinya. Dia selalu gegabah dan menggunakan kekerasan saat dirinya terpojok.
Christ malah cengengesan. Dia sama sekali tak emosi atau marah sedikitpun kepada Yuli, dia malah semakin tertarik dengan jiwa pemberontak yang dimiliki Yuli.
Sejenak Christ berpikir untuk menangani masalah itu dengan cerdik. Dia menyuruh anak buah Asep untuk menahan Yuli, sembari dia menelpon polisi dan melaporkan terjadinya tindak kekerasan.
Setengah jam kemudian, 3 opsir dari kepolisian datang ke tempat Christ. Christ sendiri yang menjelaskan bahwa Yuli telah melakukan kekerasan padanya.
Yuli tak bisa menyangkal apapun di depan polisi. Saksi yang melihat Yuli memukul terlalu banyak, ditambah dengan bukti langsung. Beberapa bekas darah yang keluar dari hidung Christ.
Ketiga Opsir itu memborgol kedua tangan Yuli dan membawanya ke polsek terdekat.
Christ tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada Yuli, yang masih memberontak saat beberapa opsir memborgolnya dan membawanya ke polsek terdekat.
“Lepaskan aku, Pak! Biarkan aku juga menuntut Rentenir sialan itu.” Yuli masih meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya.
__ADS_1
Naas bagi Yuli. Dia harus dibawa ke dalam sel, atas tindakan kekerasan yang diperbuatnya.
Setelah polisi berlalu pergi, Gun mengumpulkan Asep dan semua anak buahnya di ruang tengah. Memarahi sekelompok preman itu.
“Hei! Apa kalian selalu menjalankan bisnis seperti ini? Kalian merusak barang-barang di rumah para kreditur yang tak mampu membayar hutangnya. Apa-apaan kalian ini?”
Asep dan anak buahnya terdiam duduk di sofa.
“Katanya kalian terlahir miskin, tapi apa ini. Disaat kalian mempunyai uang yang cukup, kalian malah menggunakan uang itu untuk memanfaatkan orang miskin lainnya.”
“Bukan begitu, Bang. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Kami hanya berusaha untuk bertahan hidup,” ucap Asep.
“Dasar kau!” pletak
Gun menjitak kepala Asep. “Aduh.” Asep mengelus kepalanya.
“Bukan cuma itu. Studio milik ayah dari wanita tadi…..”
__ADS_1
“Sudah cukup, hentikan!” Christ keluar dari ruangannya dan duduk sofa tengah. Christ membawa sebuah patung hiasan lady justice, meletakkannya di meja sofa.