
Dengan merencanakan semua jadwal di pagi hari, semua orang dapat memaksimalkan waktu dan memastikan bahwa semuanya dapat disusun dengan baik.
Akan tetapi, pagi yang cerah tak selalu indah untuk setiap orang. Bagi orang-orang yang sedang mengalami masalah dalam hidupnya, pagi yang cerah akan sangat sulit untuk dilalui.
Layaknya para napi seperti Jono yang akan menjalani sidangnya di hari itu. Hari-harinya di penjara mungkin dipenuhi dengan beban pikiran yang terus memenuhi benaknya.
Ditambah lagi dengan dia harus menerima hukuman atas kejahatan yang sama sekali tak dilakukan olehnya. Hal itu akan membuat pikirannya selalu gelisah.
Di pengadilan tinggi sendiri. Banyak sudah khalayak ramai yang memenuhi persidangan. Mereka sangat antusias dalam mengikuti sidang yang sampai saat ini belum terpecahkan.
Terdakwa, saksi, dan Jaksa penuntut telah duduk di kursinya masing-masing.
Di persidangan keempat itu kedatangan orang baru lagi sebagai saksi, yaitu Pras. Sesekali dia menatap Christ dengan tatapan sinis.
Jono pun bertanya pada Christ, kenapa Pras malah duduk di kursi saksi, dan bukannya di kursi terdakwa.
“Hei, ada apa ini? Bukankah seharusnya dia duduk di kursi terdakwa?” tanya Jono lirih.
“Di persidangan kali ini, dia hadir sebagai saksi dari pihak penuntut,” jelas Christ.
__ADS_1
“Hah? Saksi pihak penuntut, bukan sebagai terdakwa, tapi sebagai saksi?”
“Ya, begitulah. Kenapa kau begitu terkejut? Apa kau masih berpikir bahwa hukum ditegakkan di kota ini?”
“Astaga, sulit dipercaya. Apa yang bisa dia katakan untuk membantu Jaksa?”
Christ menyeringai lebar, tak menjawab. Seolah dia sudah tahu hal itu akan terjadi.
“Tunggu dulu! Apa jangan-jangan …. kau sudah tahu hal ini akan terjadi?”
“Tutup mulutmu! Kau berisik sekali hari ini. Lihat saja nanti hasilnya.”
Jono pun memalingkan wajahnya, tak bertanya lagi.
Christ pun beranjak dari tempat duduknya. Berdiri di depan meja Pras sebagai saksi dari Jaksa penuntut.
“Prasetyo, apa anda mengenal John, Si Pembunuh Bayaran yang telah bunuh diri tempo hari?”
“Saya tidak tahu,” jawab Pras ketus. Dia menatap Christ dengan sinis. Sepertinya dia masih kesal karena Christ hampir memotong jarinya saat itu.
__ADS_1
“Sungguh anda tak tahu?”
Pras hanya diam, memalingkan wajahnya.
“Baiklah. Kalau begitu, apa anda adalah orang yang menyuruh John untuk membunuh walikota Joko?”
“Tidak. Saya tidak melakukan hal seperti itu.”
“Ah, maaf saya keliru.” Christ berputar meminta maaf pada semua orang yang hadir di persidangan. Dia berbalik. Menatap para hadirin, lalu kembali menatap Pras
“Saya ulangi sekali lagi. Sepertinya saya lupa bahwa anda adalah gembong yang cukup terkenal di kota ini, jadi, apa ada seseorang yang menyuruh anda memperkenalkan John kepada seseorang?”
“Pengacara Christianto berada di TKP kematian John saat itu,” sahut Jaksa Sri. “Dia juga telah menunda sidang ini dengan kecurigaan tanpa dasar.”
“Saya setuju! Pihak pembela hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan yang diperlukan,” tambah Lusi.
Christ masih tetap tenang. Sesekali dia melihat kursi penonton. Mencari Asep dan anak buahnya, karena merekalah yang sedang membawa ibu Pras untuk hadir di pengadilan itu. Christ pun mengulur waktu.
Dia kembali ke mejanya, mengambil beberapa berkas tentang kejahatan yang dilakukan Pras.
__ADS_1
“Anda adalah gembong perdagangan manusia yang cukup terkenal di kota ini. Akan tetapi, riwayat kriminal anda sangat bersih sama sekali.” Christ menunjukkan beberapa berkas itu pada Pras.
“Ya, anda benar.”