
Christ berdiri dan terus mengamati semua gambar yang ditampilkan di proyektor itu. Dia kembali menyusun rencana, dan menyiapkan rencana B sebagai cadangan, jika rencana awalnya tak berhasil.
Dia ingin menghukum semua orang yang membunuh ibunya menggunakan hukum, tapi, jika rencana itu tak berhasil, maka dia harus menghukum orang yang membunuh ibunya dengan tangannya sendiri.
Dia akan menggunakan cara mafia yang biasa digunakan saat dia bekerja dengan Bagas.
Karena semenjak siang hari, saat Christ mengunjungi Jono di penjara, Jono sudah enggan untuk menemui Christ. Sepertinya dia sudah dipengaruhi oleh Miko yang lebih dulu mengunjunginya saat itu.
ding dong!!! Terdengar suara bel dari luar kantor Christ.
Saat melihat layar monitor, kamera cctv menunjukkan Miko lah yang saat itu berada di depan gedungnya.
“Kenapa bajingan itu datang kemari?” gumam Christ.
Dia segera mematikan laptop, serta proyektor, lalu pergi ke ruangan utama. Duduk di kursi tempatnya bekerja. Menunggu kedatangan Miko.
__ADS_1
“Astaga, Pengacara Christianto.” Miko datang membuka pintu dan seperti biasa. Dia berbicara seperti orang sakau. Pakaiannya berbau alkohol serta raut wajahnya yang semakin keriput dan pucat.
“Apa kau masih bekerja selarut ini?” Miko berjalan-jalan, dan melihat-lihat sekitar ruangan itu..
“Mau apa kau kemari?”
“Aku datang kemari, karena tentu saja ada sebuah alasan. Mana mungkin aku datang tanpa alasan.”
Christ mendengus. “Dasar, Bodoh! Apa kau pikir aku tak tahu alasanmu? Aku tahu kau hanya ingin memamerkan bahwa kau telah berhasil membujuk Jono, agar dia tak ingin menjadi klienku lagi.”
“Ternyata kau belum sepenuhnya pikun.”
“Hmmm, pantas saja. Aku sepertinya mengenal alamat ini, dan tempat ini juga sangat familiar bagiku.”
“Seorang kriminal kampungan sepertimu pasti kembali ke TKP, tempat kau melakukan kejahatan, seperti yang kau lakukan saat ini.”
__ADS_1
‘’Apa mungkin … Ah, benar juga. Apa perutmu tak sakit setelah menelan kartu memori itu? Saat masih kecill, kau memang sudah sangat berani saat itu.”
Christ hanya diam dan menatap Miko sinis.
Miko pun berdiri dan berjalan mendekat ke meja tempat duduk Christ. “Kenapa? Apa kau tak mengingatnya?” Miko menunjuk lemari yang ada di ujung ruangan. Itu! Di dalam lemari itu, kau bersembunyi.”
Christ hanya diam dan terus melototi Miko. Perlahan dia berdiri dari kursinya.
“Hei, hei tunggu dulu! Hentikan! Apa yang akan kau lakukan? Kembalilah duduk! Kau membuatku jadi takut.” Miko tetap saja mengoceh. “Kau melihat sendiri, bahwa aku telah membunuh ibumu, bukan?”
“Dengarkan aku, Miko!!!” brak!!! Christ menarik kerah kemeja Miko, lalu menahan kepalanya di atas meja. Mengambil pistol dalam laci, lalu menodongkannya tepat di pelipis Miko.
“Apa kau tahu pistol ini? Pistol Tokarev **-33 buatan Rusia. Bahkan, setinggi jabatan militer atau pasukan bersenjata di negara ini pun tak mempunyai pistol semacam ini.”
“Satu peluru di pistol ini akan melubangi tengkorak mu. Dengan mudahnya aku bisa membunuhmu di tempat ini, bahkan aku bisa membunuhmu seribu kali lipat lebih sadis, daripada saat kau membunuh ibuku.”
__ADS_1
“Hei, Christ! Ayolah, jangan begitu! Mari kita bicara baik-baik!” Miko menelan ludah ketakutan. Dia hanya mengangkat kedua tangan dan membiarkan Christ menahan kepalanya di atas meja.