
“Hahahahaha.” Bagas terkekeh. “Nona Pengacara, kau pasti datang kemari bukan untuk berolahraga, tapi kau ingin bertemu denganku dan bertanya apa hubunganku dengan Christianto.”
Yuli mengeluarkan beberapa lembar berkas dari dalam totebagnya.
“Seratus riwayat kriminal. Bos Mafia terbesar di Jakarta, bahkan di indonesia. Dari lima puluh persen kejahatan besar, anda tidak melakukan pembunuhan atau perampokan, tapi anda selalu melakukan kekerasan.”
Bagas kembali terkekeh mendengarnya. Dia berpikir, bagaimana bisa Yuli mendapatkan berita yang sepenuhnya tak valid itu. Bagas bahkan lebih brutal dari apa yang dipikirkan Yuli saat itu.
Dia mengusai sektor bisnis besar yang ada di Jakarta, dan bahkan tak segan untuk membunuh, jika ada orang yang berani mengusik hidupnya.
“Astaga, ternyata kau membawa data yang begitu lengkap, jadi, tak mungkin aku bisa mengelak dari hal ini.” Bagas menyeringai lebar melihat berkas-berkas yang entah darimana Yuli mendapatkannya.
“Baiklah, Nona Pengacara. Kenapa kau ingin bertemu denganku?”
“Alih-alih bekerja dengan firma hukum terbesar di kota ini, ternyata Christ juga bekerja untuk anda sebagai kuasa hukum sekaligus orang kepercayaan anda di dalam dunia gelap yang anda jalankan.”
“Pertanyaannya adalah, kenapa dia tiba-tiba dia pindah ke Bekasi? Munkgkinkah anda menyuruhnya untuk pindah?”
__ADS_1
“Menyuruhnya? Hahahahaha. Kenapa aku harus menyuruhnya?” Christ mengeluarkan sebatang cerutu lalu menyulutnya dengan api. “Sepertinya kau datang ke tempat ini tanpa tahu hubungan diantara kami.”
“Hmmm, begitukah? Memang apa yang tidak kuketahui?” Yuli tersenyum seakan dia tahu semuanya.
“Mendiang Ibu kandung Christ, namanya tak ada di kartu keluarga, tapi, dia adalah adik kandungku, jadi, Christ adalah keponakanku. Apa mungkin kau juga tahu hal ini?”
Yuli tercengang mendengar kabar itu. Matanya terbelalak menatap Bagas.
“Hanya Christ lah salah satu sanak saudaraku yang tersisa. Christ kembali ke Bekasi, tempat kampung halaman mendiang ibunya, merupakan murni dari keputusannya sendiri. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk itu.”
“Apa menurutmu, kau bertemu dengan Christ setelah kau kembali ke Bekasi itu cuma kebetulan belaka?”
“Bukankah terlalu gila jika ini dianggap cuma kebetulan belaka?”
“Jadi, ini semua bukan kebetulan? Jika bukan kebetulan berarti ….”
“Ya kalau bukan kebetulan, berarti apa lagi? Kurasa dia pernah sedikit menggodamu saat pertama kali kalian bertemu. Dia pun memang menaruh rasa padamu, dan itu salah satu yang membuatnya kembali ke Bekasi.”
__ADS_1
“Akan tetapi, hal itu bukanlah satu-satunya alasan dia kembali ke Bekasi. Aku tak mau menceritakannya padamu, kaulah sendirilah yang harus mencari tahunya.”
Yuli hanya diam menunduk.
“Baiklah, Tuan. Kalau begitu, aku permisi dulu.”
Yuli berpamitan, lalu beranjak pergi dari tempat itu.
“Tunggu, Nona Pengacara! Biarkan orang-orangku yang akan mengantarmu, agar aku bisa memastikan kau selamat sampai ke Bekasi. Akan membutuhkan waktu lama jika kau menggunakan transportasi umum, dan hari pun sudah mulai petang.”
Yuli mengangguk menurut.
Bagas memanggil 2 orang tukang pukulnya, lalu menyuruh mereka untuk mengantar Yuli kembali ke Bekasi.
***
Di kantor firma hukum Christ. Terlihat dia yang sedang menyendiri di ruangan pribadinya.
__ADS_1
Menyalakan laptop dan menghubungkannya ke proyektor. Proyektor itu menampilkan semua bukti dan berita yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Mulai berita yang dibuat-buat oleh media tentang bunuh diri yang dilakukan ibunya, hingga semua yang menyangkut orang-orang yang terlibat di dalam kematian ibunya.