SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 109


__ADS_3

“Tak apa. Aku hanya suka melihatmu berkeringat. Aku juga suka aroma keringatmu yang khas ini.” Yuli tetap kekeh memeluk Christ dari belakang.


Beberapa wanita yang melihatnya pun mulai melanjutkan aktivitasnya masing-masing setelah melihat Yuli memeluk Christ dengan mesra.


Yuli mendengus. “Dasar wanita gatal. Masih saja mereka melirik pria lain, padahal mereka mempunyai pasangan sendiri. Rasakan itu,” gumamnya dalam hati.


Usai berolahraga, Christ pun beristirahat sejenak di ruang tunggu dan meminum air putih sebanyak-banyaknya, untuk mengganti cairan yang hilang usai berolahraga.


Saat akan kembali ke kamar, terjadilah sedikit pertikaian di pusat kebugaran itu.


Seorang turis dari warga negara asing yang juga merupakan pengunjung dari hotel itu membuat keributan. Memukuli warga lokal yang saat itu juga sedang berolahraga di pusat kebugaran.


Masalahnya sangat sepele. Turis asing itu tak terima saat ada salah satu petugas keamanan hotel yang menegurnya.


Turis asing itu menggunakan alat di pusat kebugaran dengan sembarangan, yang pastinya itu akan merusak fasilitas yang dimiliki hotel tersebut.


Dan saat salah satu satpam menegurnya, Si Turis malah mengamuk dan balik memukuli satpam itu. Dia merasa satpam itu menegurnya dengan kata-kata yang kasar.


Padahal tidak begitu kenyataanya. Satpam hanya menjalankan kewajibannya untuk mengatur keamanan hotel, tapi Si Turis itu sendiri yang memang sedikit songong.

__ADS_1


BAK BUK BAK BUK Berkali-kali satpam itu menerima pukulan hingga tersungkur, dan Si Turis tetap saja menendangnya.


Satpam yang sendirian pun tak bisa melawannya. Si Turis itu memiliki fisik yang lebih tinggi dan besar darinya. Tinggi hampir mencapai 190 meter dengan tubuh gempal dan berotot.


Semua orang yang ada di pusat kebugaran pun juga tak ingin ikut campur dalam urusan itu. Mereka lebih memilih diam daripada mengambil resiko.


Tapi tidak dengan Christ. Dia selalu tak suka melihat orang lain yang teraniaya.


“Tunggu! Mau kemana kau? Aku tak ingin melihatmu berkelahi.” Yuli melarang Christ saat Christ beranjak dari tempat duduknya. Menahan tangannya agar tak pergi.


“Tidak, Yuli. Lihatlah satpam itu. Apa kau tak merasa kasihan padanya? Aku tetap harus menolongnya.”


“Aku akan baik-baik saja. Kau tahu kemampuanku, bukan? Aku sangat pandai berkelahi.”


“Baiklah. Kalau begitu, hati-hati.”


Christ tersenyum, lalu pergi menolong satpam itu.


Christ mendorong Si Turis itu, lalu duduk menolong satpam.

__ADS_1


“Kau tak apa, Pak? Apa kau bisa berdiri?”


Satpam itu hanya terdiam dan mengerang kesakitan. Sepertinya Si Turis itu memukulinya dengan sekuat tenaga.


“Siapa kau? Apa kau ingin mati? Urus saja urusanmu, tak usah kau mencampuri urusanku.”


Meski seorang turis, tapi, dia sangat lancar dalam berbincang dengan bahasa Indonesia.


“Minggir kau!”


Saat Si Turis akan memukul satpam, krek Suara tulang tangan yang bergeser terdengar cukup keras. Christ memelintir tangan turis, lalu membantingnya.


Turis itu kembali berdiri. Dia memasang kuda-kuda, mengaung keras dan kembali menyerang Christ.


Mereka berdua saling menyerang, menangkis dan memberikan pukulan satu sama lain. Turis itu cukup lihai dalam bertarung, tapi, juga tak kalah hebatnya dengan Christ.


Christ menggunakan handuk keringat untuk sarung tinju. Melilitkan handuk itu ke tangan kanannya.


Belum seratus persen Christ menunjukkan kemampuannya. Dia hanya berdiri dan dengan santai menghindari dan membalas Si Turis dengan pukulan-pukulan yang menuju ke titik-titik lemahnya.

__ADS_1


Ulu hati, rahang, paha. Christ menyerang semua titik bagian itu dengan pukulan yang cukup keras. Di akhir, Christ melepas handuk dari tangannya, lalu melilitkan handuknya ke leher Si Turis dan BUKKK!!!!


__ADS_2