
“Dasar, Brengsek!” PUK!!! Yuli kesal dan melemparkan sepatunya ke pintu yang telah ditutup.
“Apa aku bau?” Yuli mencium baju dan jasnya sendiri. “Astaga, ternyata pria Brengsek itu benar. Aku sangat bau. Ah, sial. Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu.”
Saat akan beranjak pergi, Yuli mendapatkan pesan masuk melalui surelnya. Ternyata surel itu berasal dari Christ yang mengirimkan pesan,
‘Selamat Nona Yuli. Anda berhasil lolos dan diterima sebagai paralegal ku. Mulai besok, kau bisa datang ke firma hukum tempatku berada.’
“Yang benar saja? Apa-apaan dia ini?” Yuli kembali memasukkan ponselnya, lalu segera pergi dari tempat itu.
***
Satu minggu berlalu. Christ, Gun, Asep, beserta anak buahnya mulai merenovasi gedung lantai 3 itu menjadi kantor firma hukum.
Melepas banner dan tulisan jadul, melepaskan stiker-stiker yang memenuhi jendela, dan mengecat ulang warna tembok, agar ruangan itu terlihat lebih indah, meski umurnya sudah sangat tua.
__ADS_1
Beberapa anak buah Asep mengepel. Mereka benar-benar bekerja dengan keras. Kerak-kerak yang ada di lantai sekalipun mereka bersihkan secara menyeluruh. Memasang banner dan papan baru.
Terpampang besar tulisan ‘LAW? KING LAWYERS’ di banner dan papan baru. Itu adalah nama firma hukum yang dibentuk oleh Christ.
Law berasal dari bahasa inggris yang berarti, hukum. Sedangkan tanda tanya setelahnya, sengaja Christ tuliskan itu untuk menunjukkan bahwa, sekalipun seorang hakim, tak akan bisa memberikan hukuman bagi orang dengan adil.
Serta King, yang berarti seorang raja, dan Lawyers yang berarti pengacara. Christ ingin menunjukkan bahwa dia pengacara terhebat di negara itu, bahkan dengan firma hukum miliknya sendiri.
Tepat pukul 8 pagi. Anak buah Asep mulai berkumpul dan langsung merapikan beberapa barang yang masih berserakan. Beberapa lainnya menyapu, mengepel dan mengecat.
Musik diputar dengan sound dan mereka bernyanyi dan menjoget bersama, sembari membersihkan lantai 3 itu.
Celana putih panjang, kemeja ungu, dan jas berwarna hitam. Yuli juga menggunakan sepatu casual, dan membawa tas ransel berukuran sedang di pundaknya.
“Astaga. Ini hari kerja pertamamu, Nona. Kau harus semangat,” celetuk Asep.
__ADS_1
Yuli diam tak menghiraukan Asep. Dia terus berjalan dan berdiri di depan meja kerja Christ.
“Wah, kau bolos cukup lama. Hari pertama mu bekerja disini seharusnya satu minggu yang lalu.” Christ keluar dari ruangannya menghampiri Yuli. “Akan tetapi, tak apa. Aku akan memaklumi mu. Apa kau sudah siap?”
Seperti biasa. Christ selalu memajang wajah riang saat dia memulai pagi, sebelum menjalankan aktivitasnya.
“Aku hanya akan bekerja padamu sampai hutang ayahku lunas. Entah kau memberiku gajiku harian, bulanan, atau apapun itu.”
“Lantas, bagaimana dengan bunga yang baru saja jatuh tempo hingga saat ini?” Christ melihat tanggal di jam tangannya, menunjukkannya pada Yuli.
“Terserah kau saja. Yang penting, aku akan segera melunasi semua hutang itu.” Yuli meletakkan tas ranselnya ke atas meja, melepaskan jas, melinting lengan kemeja, lalu merebut alat pel yang dibawa Asep.
“Minggir, kau! Kemarikan itu!” Tanpa banyak berbicara, Yuli mulai membantu Asep dan anak buahnya untuk mengepel lantai.
“Astaga. Lihat dia, Bos. Dia sangat bersemangat. Hahahaha.” Asep terkekeh.
__ADS_1
Begitupun Christ yang tersenyum melihat kelakukan Yuli. Dia mengikuti kemana Yuli mengarahkan alat pel itu ke lantai. “Apa kau tahu, hal yang paling menakutkan dari pekerjaan ini?”
Christ menyenderkan bahunya ke dinding dan melihat Yuli yang cekatan mengepel lantai.