SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 006


__ADS_3

“Semenjak kau menjadi pengacara terhebat di kota ini, kau bahkan tak pernah berkunjung kemari. Apa kau sudah melupakan semuanya?” gurau Bram.


“Bukan begitu, Bang. Aku hanya sibuk dan baru sempat untuk datang kemari.” Christ tersenyum kecil.


“Duduklah!” Bram mengajak untuk duduk di kursi teras yang ada. “Aku tahu, kau pasti datang kemari untuk bertemu dengan Bos.”


“Ya, begitulah. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya.”


“Tunggulah disini, Bos sedang berbicara dengan salah satu akutannya. Dia pasti akan kemari setelah selesai dengan itu.”


Mereka berbincang dan bersenda gurau bersama, sembari menunggu Bagas.


Saat bertemu dengan Bram, Christ kembali teringat pada masa lalunya.


***


FLASHBACK


Sepuluh tahun yang lalu, dimana Christ masih berumur 25 tahun. Alih-alih menjadi seorang pengacara di kantor Firma Hukum, tapi Christ juga sering menjalankan misi untuk bisnis pamannya sendiri.

__ADS_1


Saat itu dia mendapatkan sebuah misi bersama Bram untuk mendatangi salah satu Bos Pengusaha Sawit yang mempunyai masalah sengketa lahan sawit dengan Bagas. Dia adalah Bos Acong.


Pada tahun 2000 an awal, Bagas mengutus Christ dan Bram untuk mendatangi Bos pengusaha sawit di Medan, untuk mendapatkan kembali lahan sawit yang telah diambil darinya.


Christ dan Bram berangkat dengan 4 orang dari penembak jitu. Mereka berangkat menggunakan pesawat.


3 jam perjalanan mereka akhirnya sampai di Bandara Kualanamu, Medan. Dua mobil Pajero Sport menjemput kedatangan Christ bersama rekan-rekannya.


Kedua sopir itu juga merupakan Tukang Pukul yang bekerja dengan Bagas, dan menjaga bisnis Bagas yang ada di Sumatera saat itu.


2 jam perjalanan dari bandara menuju rumah Bos Pengusaha Kelapa Sawit. Kedua mobil itu mulai melintasi jalan makadam. Sepanjang jalan itu adalah lahan sawit milik Bos yang akan Christ datangi.


Mobil yang membawa Christ dan Bram terus berjalan hingga tiba di depan gerbang rumah milik tuan rumah, Bos Kelapa Sawit.


Seorang penjaga gerbang berwajah bengis mendekat dan menodongkan senjatanya ke mobil.


“Ada perlu apa?”


Bram membuka jendela mobil dan menunjukkan sebuah surat untuk bertemu dengan bosnya.

__ADS_1


Setelah memastikan itu, Si Penjaga gerbang hanya membolehkan Chris dan Bram yang akan masuk, sedangkan sopir hanya menunggu di luar.


Penjaga gerbang itu memeriksa Christ dan Bram menggunakan alat pendeteksi senjata berapi.


Setelah tak ada yang mencurigakan, penjaga itu membiarkan Christ dan Bram masuk.


200 meter. Itu jarak yang harus ditempuh Christ dan Bram dengan berjalan kaki untuk menuju rumah.


Di sisi kiri dan sisi kanan kawasan itu, hanya dipenuhi lahan kelapa sawit yang luas milik Si Juragan Sawit.


Tepat pukul 9 pagi. Christ dan Bram telah menghadap Juragan Sawit.


Mereka bertiga duduk di kursi yang ada di teras. Tiga orang kacung dan anak buah, berdiri di belakang Bos Acong. Berjaga-jaga.


Masing-masing dari tiga orang itu membawa senjata tajam seperti, celurit, pedang, golok, dan kerambit. Bersiaga untuk melindungi tuannya.


“Hahahahaha. Christianto.” Bos Acong terkekeh melihat Christ. Dia sudah mengerti bahwa kedatangannya hanya untuk meminta kembali lahan sawit milik Bagas yang telah diambilnya.


“Seorang pengacara muda yang bekerja di bisnis gelap pamannya sendiri. Hahahaha, bukankah itu lucu?”

__ADS_1


Beberapa Kacung Bos Acong ikut tertawa.


__ADS_2