SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 036


__ADS_3

Walau kantor itu tak sebesar kantor firma hukum lainnya. Karena beberapa ruangan telah dihuni oleh Guntur, Asep dan semua anak buahnya.


Di ruangan utama telah dibentuk rapi sedemikian rupa untuk meja kerja Christ dan juga Yuli.


Beberapa berkas yang tak berguna telah dibedakan, ditumpuk di pojok ruangan. Kantor firma hukum itu juga tak memiliki staff atau orang yang berpendidikan khusus seperti firma hukum lain.


Christ hanya menjadikan Guntur sebagai asistennya, dibantu dengan Asep dan semua anak buahnya yang ada.


Hanya Yuli diantara semua orang preman. Hanya dia yang memiliki pendidikan khusus di dalam bidang hukum.


Suasana kantor di pagi itu sangatlah ramai. Guntur, Asep dan semua anak buahnya tengah menikmati sarapan pagi di pagi itu. Nasi uduk dengan porsi jumbo menjadi menu mereka di pagi itu.


Mereka semua sangat senang karena tak perlu lagi bekerja dengan menagih hutang para kreditur. Dengan uang Christ sendirilah uang makan mereka akan ditanggung.

__ADS_1


Sementara Christ sedang duduk di kursi kerjanya. Pagi itu dia melihat siaran langsung dari salah satu stasiun TV yang sedang menampilkan sebuah acara santunan anak yatim.


Salah satu donatur dan relawan dari santunan itu adalah Lusi. Dari layar TV dapat dilihat, Lusi sedang mendatangi salah satu yayasan panti asuhan dan memberikan beberapa uang sumbangan dan sembako kepada yayasan setempat.


Beberapa wartawan dan reporter juga terlihat berbondong-bondong merekam dan mewawancarai Lusi dalam siaran itu.


Semua penduduk di kota Bekasi takjub dan segan dengan seorang Hakim wanita dengan segala perbuatan baik yang dilakukannya. Berbeda dengan Christ, dia sama sekali tak peduli dengan hal pencitraan seperti itu.


Christ juga sangat yakin bahwa Lusi adalah salah satu orang yang juga terlibat dalam kematian ibunya saat itu, hanya karena ibunya seorang saksi yang memiliki bukti penting di dalam persidangan yang dia jalani.


Dia harus membalaskan dendam kepada semua orang yang berkaitan tentang kematian ibunya 20 tahun silam.


Alih-alih mendekati wanita yang membuatnya jatuh cinta saat pandangan pertama, Christ tetap harus menyelidiki kematian tentang ibu kandungnya.

__ADS_1


Tak berselang lama, Yuli datang ke kantor. Dia tersenyum melihat Asep dan anak buahnya yang sedang menikmati sarapan pagi di lantai kantor. Mereka menggunakan tikar besar sebagai alas dan menyantap nasi uduk.


“Apa ini? Dua ribu dollar?”


Yuli terkejut saat melihat tagihan yang berada di atas meja kerjanya.


“Ah, kau datang rupanya.” Chris menatap Yuli dan tersenyum. “Itu adalah biaya jas saat kau menumpahkan saus kemarin,” jawab Christ.


“Lantas? Kenapa ini menjadi tagihanku?” tanya Yuli ketus.


“Astaga, jas itu sangatlah langka dan mahal. Aku harus memesan dan menunggu kurang lebih selama 6 bulan, saat aku mendapatkan setelan jas itu.


Jas yang kau tumpai saus kemarin, tak bisa dibersihkan di Indonesia. Aku harus mengirimkannya ke pabriknya langsung di Italia, jadi, itu termasuk biaya cuci dan biaya pengirimannya.

__ADS_1


Tenang saja, kau bisa membayar tagihan itu bulan depan atau akhir bulan nanti. Atau aku bisa memotong dari gajimu untuk tagihan itu,” jelas Christ.


“Baiklah, aku akan membayar semuanya padamu kalau masa skors ku telah usai.” Yuli meletakkan tagihan itu ke dalam lacinya dan mengeluarkan beberapa berkas untuk dipelajari.


__ADS_2