SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 056


__ADS_3

“Sidangnya nanti dilaksanakan dua hari setelah kau keluar dari penjara, apa kau tak tahu? Kau tak punya waktu lagi untuk mempersiapkan hal itu.”


“Oh, ya. Lihatlah dirimu, kau sudah seperti asisten pribadiku saja, kau sampai memeriksa jadwalku dan semuanya.” Christ masih saja selengean dan tetap tenang, meski Yuli sangat khawatir padanya.


Yuli menghela nafas panjang, mendekatkan kepalanya ke kaca dan berkata, “Kau tidak punya waktu lagi untuk mempersiapkan pembelaanmu, apa kau mengerti?”


Christ pun juga melakukan hal yang sama, mendekatkan kepalanya ke kaca, menatap Yuli serius. TOK TOK TOK Dia mengetuk kaca itu tiga kali.


“Bukankah  aku punya kau, Pengacara Yuli? Aku tahu dan sangat yakin, bahwa kau bisa melakukan apa yang seharusnya kau lakukan, sembari menunggu aku keluar dari tempat ini.”


“Dasar, Berandal. Sekarang aja, kau memanggilku pengacara.”


“Lagipula, kau tidak pernah melakukan tugas pembantu pengacara, benar bukan?”


“Apa maksudmu?” tanya Yuli.


“Kau selalu berisik dan melakukan pekerjaan, sama seperti yang kulakukan. Aku hanya percaya dan yakin bahwa kau bisa melakukan itu,” jelas Christ.


“Sulit bagi seorang pengacara menunjukkan kesalahan hakim di pengadilan. Aku tak menyangka kau bisa melakukan itu, kau cukup hebat.”

__ADS_1


Christ meringis cekikikan saat mendengar pujian dari Yuli.


“Apa lagi yang kau butuhkan?” tanya Yuli.


“Yang kubutuhkan…. Hmm.” Christ berpikir sejenak. “Oh aku butuh…”


“Sudahlah, kau terlalu lama berpikir. Aku akan pulang dulu.” Yuli mengambil tas, lalu beranjak berdiri lalu pergi dari tempat itu.


“Aku percaya padamu, Yuli!” seru Christ dari balik jeruji kaca besi.


Yuli berhenti sejenak. Dia menoleh, tersenyum pada Christ, lalu pergi dari penjara.


Saat makan pagi tiba, Christ mencari Agus di kantin, lalu duduk di satu meja dengannya, sementara Gun, Asep dan anak buahnya duduk di seberang meja.


Seketika raut wajah Agus berubah ketus saat melihat Christ duduk di dalam satu meja dengannya.


“Astaga, lihatlah makanan sampah ini.” Christ tersenyum kecil dan mulai mengambil beberapa suapan dengan sendoknya.


“Apa kau sewaktu menyantap makanan sampah ini, kau tidak penasaran kenapa kau akhirnya mendekap disini?”

__ADS_1


“Aku tak tahu apa-apa. Enyahlah kau dari sini,” ucap Agus ketus. Dia meletakkan sendok dan garpu. Nafsu makannya tak lagi ada setelah melihat Christ. Dia tampak menyembunyikan sesuatu.


“Akan tetapi, aku tak pernah bertanya apa ada yang kau ketahui. Aku belum menanyakan apapun padamu.” Christ menatap Agus. “Kau memalsukan tanda tangan walikota untuk mencuri 1 Miliar Rupiah dari anggaran kota. Itulah laporan yang ditulis dari seseorang.”


Agus pun kesal. Dia berdiri membawa makanannya untuk pergi ke meja lain.


“Saat persidangan mu dilaksanakan, kau mengakui semua kejahatan yang kau lakukan. Itulah sebabnya kau menyantap makanan sampah itu denganku di tempat ini.


Akan tetapi, jumlah uang yang kau curi tampaknya jauh lebih sedikit dari dugaanku, karena aku tahu kemampuanmu cukup bagus untuk menggelapkan lebih dari jumlah itu.”


BRAK!! “Dasar, Bajingan kau!” Agus kesal. Dia berbalik dan meletakkan piringnya ke meja Christ.


Gun, Asep, dan semua anak buahnya serempak berdiri dan bersiap untuk menghajar Agus, tapi Christ melarangnya.


“Menurutku hukuman penjaramu bisa lebih lama, jadi,kau harus bebas dari tempat ini. Apa mungkin, kau cukup betah berada di tempat seperti ini?”


“Tutup mulutmu, Brengsek!” Agus mulai kesal. Dia melempar wadah makanan beserta semua makanannya pada Christ.


Untung saja Christ segera berdiri dan menghindari itu.

__ADS_1


__ADS_2