SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 013


__ADS_3

Yuli tumbuh dengan baik dan tangguh tanpa bantuan dari ayah atau ibunya. Dia berhasil mendapatkan nilai tertinggi di fakultasnya, dan mendapatkan pekerjaan tetap dengan bayaran yang cukup tinggi, sebagai seorang pengacara di firma hukum pengadilan tertinggi.


Akan tetapi, sayang seribu sayang. Setelah  3 tahun menjalani profesinya sebagai pengacara, kini dia dipecat dari firma hukum, karena kekacauan yang dibuatnya sendiri.


Sehingga, dia harus kembali ke kampung halamannya di Bekasi untuk bertemu Sang Ayah dan mencari pekerjaan baru di kota itu.


“Astaga. Kenapa mie nya bengkak seperti ini?” Yuli mengambil satu panci berisi mie dari atas kompor portable. Sepertinya Sang Ayah lah yang membuat mie itu.


Yuli membawanya ke meja kecil bersama 2 buah sumpit dan dua pasang sumpit. Mengajak Sang Ayah untuk makan bersama dengannya.


“Menurut Ayah, itu akan lebih enak jika mienya gemuk. Lihatlah, mienya terlihat lebih banyak dan besar-besar.”


Yuli mengambilkan porsi untuk ayahnya dan untuknya sendiri.


Yuli melepas jaket dan kaos kaki yang masih dipakainya, lalu segera kembali untuk melahap mie itu.


“Apa Ayah tak penasaran, kenapa aku pulang kemari?” tanya Yuli.

__ADS_1


Sang Ayah hanya diam dan menyantap mie nyemek dengan lahap.


“Jika aku bilang bahwa aku telah dipecat, aku yakin pasti ayah akan terkejut saat mendengarnya, lalu balik bertanya, ‘benarkah? kenapa? ada apa? apa yang kau lakukan sehingga kau dipecat?, bukan begitu?”


“Hmmmm. Sudahlah, lupakan saja itu. Ayah tak peduli jika kau dipecat atau apalah itu. Bagi Ayah, melihatmu sehat saja lebih dari cukup,” jawab Sang Ayah bijak.


Yuli tersenyum kecil mendengar jawaban dari Ayahnya. Dia tahu bahwa Ayahnya tak pernah mempertanyakan tentang pekerjaannya, dan hanya mementingkan kesehatan anak semata wayangnya.


“Omong-omong, Nak. Apa kau ada waktu besok? Jika kau ada waktu luang, mari kita melihat sidang. Hakim Lusi lah yang akan memimpin sidang itu esok hari.


Mungkin, kau juga akan mendapatkan teman baru dan siapa tahu, mungkin kau akan mendapatkan pekerjaan baru dari sana.”


Yuli mengambil sumpit dan menyantap mie instan yang semakin menggemuk.


***


Di pengadilan tertinggi Kota Banten. Pagi itu, beberapa orang mulai berdatangan untuk melihat sidang yang akan dipimpin oleh Hakim Lusi.

__ADS_1


Yuli dan Ayahnya duduk di kursi penonton paling depan, dan menunggu dimulainya sidang.


Begitu juga dengan Christ. Dia datang ke tempat sidang dan duduk tepat di belakang Yuli dan Ayahnya. Christ duduk berdampingan dengan Gun dan sesekali mendengar percakapan Yuli dan Ayahnya.


“Sebenarnya, Ayah tahu jika kaku telah dipecat, Nak,” ucap Sang Ayah lirih.


Yuli menyandarkan kepalanya di pundak ayahnya. “Maafkan aku, Ayah. Aku hanya merasa klienku tidak pantas mendapatkan hukuman yang sama sekali tidak adil.”


“Apa yang akan ayah katakan jika bertemu dengan Hakim Lusi? Kau tahu buka, Hakim Lusi adalah orang yang memberimu pekerjaan saat kau di Jakarta?”


“Ya, tentu saja. Akan tetapi, aku yakin dia pasti memahami perasaanku. Dia juga seorang wanita, sama sepertiku.”


Christ menyeringai kecil saat mendengar percakapan antar Yuli dan Ayahnya. Sementara Gun hanya fokus melihat orang-orang yang baru berdatangan di sekitarnya.


Tak lama kemudian, para Hakim, Jaksa, dan pengacara penggugat dan pembela, mulai memasuki ruangan pengadilan.


Mata Yuli tertuju pada salah satu Jaksa wanita penggugat yang duduk di depan. Jaksa Sri. Dia merupakan teman lama Yuli. Mereka pernah duduk di bangku kuliah yang sama saat menempuh pendidikan  hukum.

__ADS_1


“Perhatian semuanya! Hakim telah tiba. Semuanya berdiri!”


Satu aba-aba dan komando membuat seluruh orang di pengadilan berdiri serempak.


__ADS_2