
“Wah, saya cukup kagum dengan kemampuan anda dalam menangani kejahatan. Anda tak meninggalkan jejak sama sekali saat anda melakukan tindakan kriminal, bukan begitu? Apa ada orang yang melindungi anda?”
“Kau tak perlu menjawabnya!” Sri kembali berdiri dan berseru dari tempat duduknya. “Yang Mulia Hakim, Pengacara Christianto telah menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan kasus ini.”
“Ya, itu benar,” sahut Lusi. “Pengacara Christianto, silahkan kembali ke tempat duduk anda jika tak ada pertanyaan lagi.
Sebelum Christ kembali ke tempat duduknya, Asep dengan beberapa anak buahnya datang ke persidangan itu. Christ kembali mengulur waktu. Berjalan mendekati meja Hakim utama.
“Untuk mengungkap kebenaran dari persidangan ini, saya akan mengajukan satu pertanyaan lagi, Yang Mulia Hakim,” tegasnya. Christ kembali ke meja saksi.
“Empat tahun lalu, anda hampir didakwa atas penggunaan narkoba dan kepemilikan narkoba. Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah, bagaimana anda bisa bebas dari dakwaan tersebut?”
“Saudara, Saksi! Anda tidak perlu menjawabnya,” tegas Lusi. “Pengacara Christianto, silahkan kembali ke tempat duduk anda.”
Pras hanya bolak-balik menoleh seperti orang linglung.
__ADS_1
Sama sekali Christ tak memperdulikan perkataan Lusi. Dia berdiri di tengah ruangan menatap para penonton. Matanya tertuju pada ibu Pras yang duduk disebelah Asep dan anak buahnya.
“Saudara saksi melakukan kejahatan 4 tahun, 7 tahun, lalu tahun-tahun sebelumnya. Apa anda bisa merasa tenang karena ibu anda tahu semua yang anda lakukan?”
Pras pun akhirnya sadar jika ibunya hadir dalam persidangan saat itu. Mereka berdua saling menatap dan berbicara dari jarak jauh.
“Yang Mulia Hakim, saya keberatan.” Sri tak mau mengalah. “Pihak pembela sekarang ini kembali mengajukan pertanyaan yang tak ada kaitannya dengan kasus ini.”
“Ini peringatan bagi anda, Pengacara Christianto!” tegas Lusi.
“Jawablah pertanyaanku, Saudara Saksi!” Christ berdiri tegak di hadapan Pras menatapnya tajam. “Kepada siapa anda memperkenalkan pembunuh bayaran itu?”
“Yang Mulia Hakim!” Sri berseru.
“Pengacara Pembela, saya peringatkan anda!” Lusi mulai emosi dengan tingkah laku Christ. Baru kali ini di melihat seorang pengacara yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan berani membantahnya.
__ADS_1
Christ menyentuh meja saksi dengan kedua tangannya. Menatap Pras serius. Dia menyingkirkan mikrofon yang ada di meja saksi, agar tak ada orang lain yang mendengar perkataannya. “Dengar aku baik-baik!” ucapnya lirih.
“Kau boleh saja menjadi saksi sekarang ini, tapi aku yakin kau pasti duduk di kursi tersangka nantinya, di tempat Jono berada sekarang ini.” Christ menunjuk kursi Jono berada.
“Kudengar ibumu menderita sakit stroke. Apa kau tetap ingin menjadi penjahat di depannya?”
Pras pun mulai mewek seperti anak kecil. Dia menoleh ke ibunya lalu kembali menunduk. Tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Pengacara Pembela, saya peringatkan anda untuk kedua kalinya. Anda bisa ditangkap atas penghinaan di pengadilan,” seru Lusi.
Lagi-lagi Christ tak menghiraukan itu. Dia masih menatap Pras dengan serius. “Katakan saja, siapa yang menyuruhmu!”
Pras semakin terpojok dan kebingungan. Dia meremas kedua tangannya sendiri, lalu berdiri. “Baiklah, saya akan menjawabnya, Yang Mulia Hakim.”
“Anda tidak perlu menjawab, Saudara Saksi!” seru Sri.
__ADS_1
Sri pun tak bisa melakukan apapun lagi, karena saksi akan menjawabnya atas kemauannya sendiri.