
“Mungkin kau akan mendengar bahwa besok Bos Acong telah mati, jika para penembak runduk berhasil membunuhnya. Aku telah memerintahkan mereka untuk menembak setelah api melahap habis rumahnya.”
Christ menyeringai lebar.
Mobil yang ditumpanginya melesat dengan cepat, melewati kobaran api di setiap pohon sawit.
Mereka akan segera menjemput para penembak jitu dan segera kembali ke Jakarta.
***
Kembali lagi di teras Istana Bagas.
Christ dan Bram tertawa terkekeh saat mengingat kembali cerita itu. Sudah lama sekali mereka tak mendapatkan perintah yang ekstrim dari Bagas.
Hal itu karena tak ada lagi para Bos mafia lainnya, atau keluarga besar lainnya yang berani berurusan dengan Bagas.
Mereka semua tahu bahwa Bagas adalah Bos Mafia tersohor, dengan berbagai macam bisnis, dan Tukang Pukul yang siap mati untuknya.
Bagas tak segan-segan untuk membunuh siapapun yang mencari masalah dengannya.
“Hmmm. Menurutmu, bagaimana kabar Bos Acong? Apa dia masih hidup?” tanya Chris basa-basi.
__ADS_1
“Entahlah, Christ. Aku pun tak tahu. Sepertinya kita harus sesekali menjenguknya kembali. Hahahahaha.” Bram terkekeh.
Tak lama setelah itu, Bagas keluar dari rumah dan menyapa Christ.
“Ada apa, Christ? Tumben sekali kau datang kemari.”
“Selamat malam, Bos.” Bram berdiri dari kursi, membungkuk dan memberikan salam pada Bagas.
“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu, Paman.”
“Kalau begitu, masuklah!” Bagas lebih dahulu masuk ke dalam rumahnya.
“Sampai jumpa, Bram.” Christ melambaikan tangannya pada Bram, lalu masuk ke dalam rumah, menyusul Bagas.
Ruang tamu Bagas didesain dengan konsep yang elegan dan mewah. Terdapat banyak sekali furniture berkualitas tinggi, seperti sofa kulit dengan sentuhan mahogany, meja kopi dengan aksen emas. Karpet yang berbulu tebal memberikan kesan hangat dan mewah.
Beberapa lampu gantung dan lampu dinding menerangi ruangan itu memberikan sentuhan glamor bagi siapa saja yang melihatnya.
Ditambah dengan kontras dinding yang netral berwarna abu-abu tua, membuat ruangan tamu itu terlihat sempurna.
Semua kemewahan yang diperoleh Bagas telah dibangun dan diperoleh sejak puluhan tahun lamanya.
__ADS_1
Masa muda Bagas telah mengalami banyak hal. Saat umurnya 20 tahun awal, Bagas telah bergabung dengan salah satu keluarga mafia terbesar Rusia yang berada di Amerika.
Vladimir Reznikov, dia adalah Bos Mafia terkuat saat itu. Sepuluh tahun lamanya Bagas bekerja di bawah naungan Vladimir.
Bagas membulatkan tekadnya sejak itu. Dia ingin membangun kerajaan dan istananya sendiri di Indonesia. Bagas terus memperhatikan dan mempelajari apa yang dilihatnya dari seorang pemimpin Mafia.
Pada tahun 1987 tepatnya, Vladimir Reznikov meninggal. Dia dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran yang disewa oleh keluarga mafia dari Italia, untuk menuntut balas dendam.
Sejak itu, keluarga mafia yang dipimpin oleh Vladimir telah hancur. Semua anak buahnya mengasingkan diri dan menghilangkan jejak begitu saja.
Begitupun dengan Bagas. Dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, dan membangun kerajaannya, tepat di Ibu Kota Jakarta.
Alhasil, Bagas sukses besar. Dia berhasil membangun sistem dan membentuk organisasi yang terstruktur sedemikian rupa.
Puluhan bahkan ratusan bisnis telah dimilikinya, mulai dari bisnis ilegal hingga bisnis legal. Dan masing-masing bisnis yang dimilikinya telah berjalan autopilot.
Dia hanya perlu memantau sesekali dan menerima hasil dari para manajer yang telah dipekerjakan olehnya.
Christ dan Bagas duduk berhadapan di meja bar yang ada. Beberapa pelayan Bagas menghantarkan minuman alkohol dan beberapa camilan ringan, lalu kembali meninggalkan ruang tamu itu.
Bagas menuangkan satu sloki Whiskey dan memberikannya pada Christ.
__ADS_1
“Jadi, kenapa kau datang kemari?”