
Nafasnya tersengal-sengal. Sesekali dia memegangi dadanya yang sesak. Meski Yuli adalah wanita yang tomboy dan bertindak seperti lelaki, tapi tetap saja, dia masih memiliki hati yang rapuh seperti wanita lainnya.
“Yuli, lihat aku! Apa kau baik-baik saja? Baiklah, kita harus keluar dari sini dulu.”
Yuli tak mengatakan sepatah katapun. Pandangannya linglung sembari dia syok melihat kejadian itu. Akhirnya, Yuli pun pingsan tak sadarkan diri.
Christ membopong tubuh Yuli dengan kedua tangannya, lalu pergi dari lorong bawah tanah.
Christ membawa Yuli ke dalam mobil, lalu pergi ke rumah sakit terdekat dari tempatnya.
Di rumah sakit, beberapa perawat dan dokter langsung mengarahkan Christ untuk membawa Yuli ke ruangan khusus untuk segera diobati.
Sementara menunggu Yuli siuman, Christ meminta beberapa obat dan peralatan untuk mengobati luka di telapak tangannya, akibat menahan pisau.
“Biar aku bantu, Tuan.” Perawat menawarkan diri.
“Tidak perlu, Sus. Aku bisa melakukan ini sendiri.”
“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi.” Perawat itu pun pergi.
__ADS_1
Dengan satu tangannya, Christ membersihkan luka dengan air, dan menyiramkan alkohol di bekas luka. Christ mengernyitkan dahi, menahan rasa sakit dari luka yang terkenal alkohol itu.
Usai memberi obat, Christ segera membalut lukanya sendiri dengan perban berwarna coklat gelap.
Christ menelpon Gun sembari dia menuju ruangan Yuli berada.
“Halo, Gun. Bagaimana dengan Pras? Aku yakin dia tak mengatakan selengkapnya tadi. Mungkin saja dia adalah orang yang telah memperkenalkan Miko pada pembunuh bayaran itu.”
“Kau tenang saja, Bos. Aku masih mengikutinya secara diam-diam. Saat kau mengejar pembunuh bayaran tadi, dia mencoba untuk kabur, tapi aku sempat memasang GPS di mobilnya.”
“Baiklah, kerja bagus, Gun.”
“Omong-omong, bagaimana keadaan Nona Yuli? Aku mendapatkan kabar dari Asep, bahwa dia melihatmu menggendong Nona Yuli di stasiun bawah tanah”
“Baik, Bos.”
Di sebuah ruangan tempat para pasien. Terlihat beberapa pasien akibat kecelakaan kecil bahkan hingga besar dirawat di dalam ruangan itu.
Mereka terbaring diatas ranjang tak berdaya. Beberapa sanak keluarga, dan petugas medis saling berjalan bolak-balik untuk mengobati pasien dengan luka parah.
__ADS_1
Ranjang berukuran besar dengan sekat gorden tinggi yang memisahkan antara satu pasien dengan pasien lainnya.
Christ bergegas menuju ranjang pasien paling pojok, tempat Yuli berada. Yuli masih terbaring lemas tak sadarkan diri di atas ranjang.
Sesekali Christ membelai rambut pendeknya, dan melihat wajah Yuli yang masih saja cantik meski sedang tak sadarkan diri.
Saat Christ terus membelai rambut Yuli, perlahan mata Yuli terbuka, melihat Christ yang membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Oh, kau sudah sadar? Apa kau merasa lebih baik?”
“Kenapa kau melakukan itu tadi?” tanya Yuli lesu.
“Dokter sudah memberimu obat penenang, jadi, mungkin kau akan mengantuk nantinya. Tidurlah, kau harus beristirahat dengan cukup. Aku akan menunggumu disini.” Christ menunduk mengalihkan pembicaraan.
Yuli sama sekali tak mendengarkan ucapan Christ. Dia berusaha bangkit untuk duduk. Christ pun membantu menyandarkan tubuhnya.
“Apa lukamu parah?” tanya Yuli yang melihat tangan Christ terbalut perban. “Lagipula, kenapa kau berlebihan sekali tadi, saat memukul pria itu? Jujur saja, saat di lorong rel tadi, aku melihat tatapan matamu yang berubah.
Aku bahkan tak menyangka kau bertindak brutal seperti itu. Kau terlihat sangat buas seperti singa yang mencabik-cabik mangsanya. Kau sangat jauh berbeda dari Christ yang kukenal saat di lorong tadi.
__ADS_1
Jika pria itu tak mengatakan tentang Miko, aku yakin kau benar-benar akan membunuhnya disana.” Yuli menatap Christ.
Christ hanya diam dan menunduk. Dia tak ingin membahas masalah itu lagi.