
“Permisi, apa anda adalah seorang pengacara yang menjadi wali hukum Detektif Jono?”
Seorang pria berpakaian rapi menghampiri ranjang Yuli dan bertanya pada Christ.
“Ya, ada apa?” tanya Christ.
Pria itu mengeluarkan ID Card yang menggantung di lehernya. Menunjukkannya pada Christ. Dia adalah seorang Jaksa. Salah satu Jaksa rekan Sri yang juga menangani kasus pembunuhan walikota Joko.
“Ikutlah denganku sebentar saja. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan untuk kalian berdua.”
“Tentu, biar aku saja yang ikut denganmu. Biarkan dia beristirahat.” Christ merapikan setelan jasnya menatap Yuli
“Tidak! Aku akan ikut denganmu,” seru Yuli. Dia berusaha bangkit dari ranjang dan kembali memakai blazernya.
Yuli menatap Christ dan tetap ngotot ingin ikut bersamanya. Christ menghela nafas panjang. Dia tak mungkin melarang Yuli yang sangat keras kepala.
***
Di kantor kejaksaan, Christ dan Yuli diinterogasi oleh salah satu Jaksa yang juga menangani kasus pembunuhan yang dilakukan Jono.
__ADS_1
Ruangan interogasi di kejaksaan sedikit berbeda dengan ruangan interogasi di kepolisian. Fasilitas di ruang interogasi kepolisian lebih lengkap, sedangkan di kantor kejaksaan lebih sederhana.
Hanya ada satu mikrofon, satu kamera pengintai, dan juga speaker yang berada di luar untuk mendengarkan percakapan yang ada di dalam ruangan.
Christ dan Yuli duduk berdampingan memberikan pernyataan atas jawaban yang dituduhkan pada mereka. Mereka berdua menjadi salah satu tersangka atas kematian Si Pembunuh Bayaran, yang statusnya sama sekali belum diketahui siapapun.
Di luar ruangan interogasi, terlihat juga Sri yang melihat dan mendengarkan interogasi yang berlangsung.
“Sebelum pria itu bunuh diri, dia telah mengaku bahwa dia sendirilah yang membunuh walikota Joko,” jelas Christ.
“Jadi, maksudnya ada pria lain yang membunuh walikota Joko, begitu maksudmu?”
“Apa kau merekam pernyataannya?”
“Tidak, karena semuanya terjadi begitu cepat. Kami sempat bertarung karena dia terus berlari, dan akhirnya dia melompat ke tengah rel, setelah mengatakan hal itu padaku.”
“Pada saat ini, yang kami punya hanyalah kesaksian darimu.”
“Alibi Detektif Jono telah terbukti, kurasa kau tahu itu.”
__ADS_1
“Sepengetahuanku, alibi itu masih diselidiki kembali oleh para Hakim yang bertugas.”
“Lantas, bukankah ini mengganggumu? Bagaimana bisa ada setumpuk bukti definitif?”
“Itu dikarenakan hanya dialah tersangkanya,” sangkal Jaksa yang menginterogasi.
“Akan tetapi, ceritakan padaku bagaimana kau sangat yakin bahwa pria yang bunuh diri itu telah membunuh walikota Joko, dan apa benar jika dia memang bunuh diri?
Mungkin saja kau mendorongnya ke tengah rel agar dia tertabrak, atau kau terus membujuknya yang mana dia tak tahu apapun soal kasus ini. Bisa saja kau salah tuduh.”
Christ mendengus. “Astaga, ternyata kau juga Jaksa yang bodoh. Mana mungkin aku membunuh salah satu terdakwa yang bisa membebaskan klienku? Apa otakmu tak berpikir ke situ?”
“Jaga ucapanmu, Pengacara Christ. Kau bisa saja ditahan karena ucapanmu.” Si Jaksa marah karena Christ mengatakan bahwa dia bodoh.
“Kau yang seharusnya menjaga ucapanmu,” sahut Yuli. “Jika kau mau menangkap kami, maka bawalah surat perintah dahulu. Kami tak perlu berada di tempat ini. Ayo, mari kita pergi, Pengacara Christ.”
Yuli kesal, berdiri dari kursinya. “Ah satu hal lagi, perkataannya benar. Sepertinya kau memang bodoh. Sebaiknya, kau kumpulkan semua rekaman CCTV yang ada di TKP dan tontonlah, bukannya bertindak bodoh dengan menarik kesimpulan sendiri.”
Yuli pun keluar dari ruang interogasi disusul dengan Christ.
__ADS_1